
Gerald memandang Cintya dengan mata berbinar, sementara bibir Cintya yang bengkak karena ciuman darinya sungguh nampak menggemaskan.
Namun dia tidak ingin Cintya takut kepadanya sehingga menahan dirinya, mereka akan tinggal bersama masih banyak waktu untuk menjelajah hatinya.
Dia juga tidak pernah membiarkan wanita lain dekat dengannya apalagi menyentuh tubuh wanita lain, namun dengan Cintya sangat berbeda dia merasa nyaman.
Namun dia juga tidak tahu apa itu suka atau perasaan cinta , karena itu biarlah semua mengalir apa adanya karena dia juga mengetahui Cintya juga mempunyai perasaan yang sama karena tidak menolak ciumannya.
Namun masing-masing gengsi mengungkapkan perasaan, sehingga saling menutup diri dan tidak berani menyatakan terus terang perasaan yang mereka rasakan.
"Aku mau memeriksa pekerjaan dahulu, kau bisa beristirahat dikamar kalau sudah selesai aku akan memanggilmu", kata Gerald.
" Iya baiklah aku tunggu di kamar", balas Cintya.
Gerald lalu masuk ruang kerjanya dan membebaskan Cintya melakukan apapun, karena dia tidak ingin berada terus bersama Cintya yang membuat dia tidak bisa menahan gairah dan dia takut kelepasan.
__ADS_1
Cintya yang ingin menenangkan diri karena ciuman Gerald tadi setuju dan memasuki kamarnya, setelah menyimpan baju dan mandi dia berbaring menatap langit kamar.
Membayangkan ciuman tadi hampir saja dia terlena , kalau saja Gerald tidak segera melepaskan ciumannya mungkin dia sudah kehilangan kesuciannya.
Cintya memang berharap bisa bersama Gerald, namun dia pasrah bila memang Gerald bukan jodohnya dan hanya bisa mengalir saja menjalani hidupnya.
Bersama Gerald tiap hari sudah sangat bersyukur dalam hatinya, dan dia tidak akan lagi meminta lebih kepada Tuhan biarlah Tuhan yang memberikan jodoh terbaik untuknya.
Karena Cintya percaya kekuatan doa dan jalan yang Tuhan berikan pasti yang terbaik, sehingga dia banyak bersyukur malam ini bisa terlepas dari ayah bajingan itu Tuhan pasti mengirimkan Gerald untuknya.
Kalau tidak ada Gerald dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi di hidupnya, Gerald penolong dan pahlawan dalam hidupnya dan tanpa sadar dia bergantung dengan Gerald.
"Cintya.. " panggil Gerald sambil mengetuk pintu kamar Cintya.
Cintya asyik melamun dan tidak mendengar suara ketukan pintu, sampai suara Gerald terdengar olehnya dia pun turun dari tempat tidur dan membuka pintu.
__ADS_1
"Maafkan aku tadi melamun tidak mendengar mu memanggilku", kata Cintya tidak enak hati.
" Tidak apa aku hanya khawatir terjadi sesuatu karena tidak mendengar sahutanmu", kata Gerald.
"Aku sudah membuatkan makanan untuk kita ayo kita makan", ajak Gerald.
Cintya mengangguk dan mengikuti Gerald keluar menuju meja makan di sebrang dapur, nampak makanan tersaji diatasnya dan membuat dia lapar tanpa sadar.
Kukuruyuk..terdengar suara perutnya berbunyi membuat cintya malu, Gerald tertawa mendengar suara protes perut Cintya.
"Ayo makan selagi masih panas", kata Gerald memberikan sepiring makanan kepada Cintya.
" Makasih", sahut Cintya dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Enak sekali, kau pandai memasak kurasa kau tidak membutuhkan aku memasak lagi", ujarnya.
__ADS_1
" Hahaha.. aku memang hobby memasak tetapi tidak ada waktu sehingga lebih sering memesan makanan, sekarang karena ada yang menemani sehingga aku ingin memasak ", sahutnya.
Cintya terpana melihat ketampanan Gerald yang sedang tersenyum, dia merasa jantung seakan mau melompat dan berdebar lebih cepat sampai dia takut terkena serangan jantung karena menatap Gerald.