BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Perasaan cinta yang meluap


__ADS_3

Tubuh Sisca mengejang seolah-olah bisa merasakan yang apa hendak dikatakan olehnya, Rico mendahului dengan nada kasar.


"Kita sama-sama tahu bahwa saat ini kau tidak bisa melakukannya sendiri Sisca, jadi Kuharap kau tidak menganggapku ingin memanfaatkan keadaan"


Rico mengalami kesulitan menenangkan tangannya yang gemetar, sewaktu mengucapkan pernyataan yang kedua itu.


Padahal sebenarnya ia sudah sangat terpengaruh, hingga walaupun ia memerintahkan dirinya untuk bersikap dingin dan menjaga jarak tubuhnya terang- terangan mengabaikan perintahnya.


"Tidak, aku juga bukan mantan majikanmu", bisik Sisca dengan nafas terengah-engah.


Ketika Rico dengan lemah lembut mengangkat badannya, dan meloloskan gaun yang basah kuyup itu dari pinggulnya.


"Benar", timpal Rico tanpa ekspresi.


"Sekarang karena kita sudah sama-sama sepakat tidak akan terjadi apa-apa, mungkin sebaiknya kau mandi dan setelah itu tidur"


Karena pikiran Sisca sibuk menganalisis apa yang membuatnya merasakan sensasi yang menggelora, ketika mendengar suara Rico yang parau itu.


Sisca tidak benar-benar menyadari maksud perkataan Rico sampai laki-laki itu membuka branya dan melepaskan baju dalam sutra yang basah kuyup dari badannya.

__ADS_1


Saat itu Sisca terbaring dalam posisi tengkurap, tapi walaupun begitu rasa malu yang amat sangat yang lebih panas daripada kulit perutnya yang dimesrai Rico tadi.


Apa yang mendorong Rico melakukannya? Apakah lelaki itu kasihan kepadanya? Benarkah begitu?


Pasti begitu, karena Rico jelas-jelas tidak menginginkannya.


Rico tidak mau keluar dari kamar mandi tetapi setidaknya, dia membiarkan Sisca untuk mandi sendiri.


Sisca menenggelamkan badannya dalam air, walaupun sudah terlambat saat ini untuk menyembunyikan ketelanjangannya.


Sisca tidak sadar bahwa pikiran-pikirannya terpampang jelas diwajahnya, tubuhnya membeku waktu mendengar Rico berkata.


Sisca terpana sehingga tidak bisa mengatakan apa-apa, ia hanya memandang laki-laki itu secara sembunyi -sembunyi sambil berusaha keras membasuh badannya.


Apakah ia mimpi, ataukah Rico benar-benar mengatakan bahwa ia menginginkan dirinya? Sisca melirik Rico sekilas dari balik bulu matanya, dan mendengar lelaki itu memaki pelan.


"Jangan paksa aku, Sisca", tukas Rico memperingatkan dengan nada parau.


"Kau tidak membutuhkan aku di tempat tidurmu sekarang, tetapi itu yang kau dapat kalau kau terus-terusan memandangiku dengan tatapan ingin tahu seperti itu".

__ADS_1


Sisca memelototinya, Rico tertawa masam.


"Baiklah, silahkan pelototi aku kalau kau memang mau. Tapi kau melihatku seolah-olah bagaimana rasanya bila tubuhku menempel di tubuhmu, jadi kalau kau tidak berhenti juga aku jamin kau akan merasakannya".


Sisca tidak tahu harus bereaksi bagaimana, tetapi untunglah ia mendadak bersin-bersin. Sebelum ia sempat protes Rico sudah mengangkatnya dari bak air, dan membungkus tubuhnya dengan selembar handuk hangat.


"Kurasa demi kesehatan kita, semakin cepat kau tidur semakin baik", sergah Rico dengan suara serak.


"Bisakah kau mengeringkan tubuhmu sendiri, sementara aku turun mengambil botol air panas untukmu?".


Sisca mengangguk sebenarnya ia merasa lebih lemah daripada tadi, tetapi ia tidak berani mengatakannya karena takut Rico mengira ia mengajak lelaki itu bercinta dengannya.


Tetapi bagaimana bila ia memang ingin?


Apakah itu berarti kiamat?


Akhir dari harga dirinya?


Bukankah sekali-kali ia berhak mengendorkan pertahanan?

__ADS_1


Toh mereka tidak menyakiti atau melukai hati siapa-siapa...toh mereka berdua sama-sama tidak mempunyai hubungan dengan orang lain.


__ADS_2