BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Keras kepala


__ADS_3

Michael menggelendot dengan wajah mengantuk dalam pelukan Rico, bocah itu kelihatan senang sekali bersama Rico.


Sisca nampak tidak senang melihatnya seharusnya dia yang menggendong Michael, aku cemburu pikir Sisca dengan perasaan merana.


Cemburu dengan kenyataan bahwa Michael kini lengket dengan pengasuh barunya, begini kah perasaan para ibu lain yang berangkat kerja dan meninggalkan anak-anak mereka dalam asuhan orang lain?


Perasaannya yang sedih itu membuat bingung ia memang sayang kepada Michael, tetapi bocah itu kan hanya sebagian kecil saja dari hidupnya?


Tanggung jawab yang dipikulnya dengan sebaik-baiknya, itu memang benar tetapi bukankah kariernya menduduki urutan teratas?


Benarkah?


Seandainya iya, tidakkah kemarin malam ia berusaha lebih keras lagi untuk menyenangkan hati Steven?


Akankah ia langsung menolak tawaran Steven itu, dan menangani secara profesional dan bijaksana?


"Astaga yang benar saja", komentar Rico kasar.


Membuyarkan pikiran Sisca yang melamun.


"Kau benar-benar mau masuk kantor?"


"Astaga Sisca, kau tidak punya otak ya?"


"Kau kan sedang tidak sehat"


Sudah berapa lama tidak ada orang yang mengkhawatirkan dia seperti itu lagi?


Kapan ia terakhir mengalaminya?


Waktu kedua orangtuanya masih hidup?


Pikiran itu membuat Sisca takut, ia merasa seolah-olah kakinya mendadak menginjak tanah yang sangat labil dan tubuhnya terhisap kedalamnya.


Sikap emosional merupakan kelemahan kaum wanita, yang selalu menjebak dan menyesatkan mereka.


Kelemahan yang selama beribadah-abad, dieksploitasi oleh kaum pria dengan tidak berperasaan.


Baiklah Sisca tidak mau dieksploitasi oleh siapa-siapa, "Kurasa aku yang berhak menentukan bukan?" tandas Sisca garing.


Sisca tidak berani memandang Rico, walaupun suaranya terdengar mantap. Ia menyadari tatapan jengkel, yang terpancar keluar dari mata Rico.Habis kesabaran lelaki itu, menghadapi ke tololannya.


"Bawa Michael ke bawah dan beri dia sarapan, kumohon Rico?" pinta Sisca garing.


Masih belum mau melihat", hari ini aku mau berangkat lebih awal, banyak yang harus aku kerjakan ".


Rico nampaknya bisa membaca pikiran Sisca dengan sangat tepat dan akurat, karena lelaki itu tidak beranjak juga dari sana dan malah berkata dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Misalnya menghubungi Steven dan meminta maaf, karena kemarin malam kabur begitu saja?".


Tanpa bisa dicegah wajah Sisca merah padam, bagaimana Rico bisa mengetahui jalan pikirannya?


Tatapan tidak senang di mata Rico, menunjukkan perasaan lelaki itu kepadanya.


Sisca ingin menjerit berkata bahwa Rico tidak mengerti, tidak tahu kesulitan keuangan yang ia alami... bahwa lelaki itu tidak menyadari, betapa penting artinya kontrak itu bagi Sisca dan bagi Michael.


"Itukah yang akan kau lakukan?", desak Rico dengan nada lembut.


Sisca terlalu terpana, hingga tidak sempat memarahi Rico atas pertanyaannya itu. suara Rico yang bernada menyindir itu membuat Sisca menghadapi laki-laki itu dengan kepala terangkat, dan matanya menyala-nyala menantang.


"Kurasa itu bukan urusanmu, kan?"


"Etikamu sudah berubah, rupanya Sisca?"


Sisca tersentak mendengar maksud di balik kata-kata yang diucapkan dengan tenang itu, sampai -sampai tidak memperhatikan bahwa Rico memanggilnya dengan nama kecil.


Tiba-tiba saja Sisca merasa perlu menjelaskan, niatnya melakukan hal itu.


"Semalam aku panik ", kata Sisca dengan suara serak.


"Sikapku konyol dan tidak profesional ".


"Oh begitu, jadi kali ini kau akan menanganinya dengan cara berbeda begitu kan? kali ini kau akan membiarkan dia memanipulasi mu, untuk tidur dengan dia iya kan?"


Mulut Rico yang tegang mengendur sedikit, waktu mendengar sanggahan Sisca tadi.


"Kau menipu diri sendiri kalau mengira ia mau menerima yang lain selain itu", tukas Rico.


Sesaat Sisca sadar, bahwa perkataannya itu benar. Semalam ia telah meruntuhkan harga diri Steven, dan itu baru bisa pulih kembali bila Sisca bersedia menyerahkan dan mempermalukan diri sendiri dihadapan lelaki itu.


Bahu Sisca merosot letih, matanya yang memandang keluar jendela tampak putus asa.


Kemarin malam ia kehilangan peluang emas, hanya karena panik ia menyia-nyiakan begitu saja.


Ceroboh seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, dan itu hanya karena ia tidak tahan membayangkan Steven menyentuh tubuhnya.


"Semestinya aku menghadapinya secara bijaksana ".


Kata-kata itu lebih ditujukan kepada dirinya sendiri daripada kepada Rico, tapi Rico mendengarnya dan mengejek.


"Bagaimana?


Dengan membiarkan Steven mengira kau mau tidur dengannya, lalu mundur disaat-saat terakhir?


Kau mau menjalankan bisnis, dengan cara seperti itu Sisca?

__ADS_1


Tidak! sisca menggigil tidak menyukai, bayangan yang digambarkan Rico untuknya.


"Aku harus berangkat ke kantor", kata Sisca dengan nada datar.


Ia tahu bahwa dari nada suaranya, Rico mengira perkataannya tadi telah memaksa Sisca membatalkan rencananya untuk menghubungi Steven.


Rico telah menunjukkan pada Sisca bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, ia sudah mendapat kesempatan dan ia telah menyia-nyiakan nya.


Dewi fortuna mungkin tidak akan menghampirinya lagi, dan bila tidak...


Bila tidak.. ia bisa kehilangan semua yang dirintisnya..pikir sisca sedih.


Tiba-tiba saja Sisca bergerak, meringis menahan sakit di tungkainya.


Ia sudah bangun dan sudah berpakaian lengkap, tapi anehnya ia merasa lemah dan itu bukan hanya karena kakinya ter kilir.


Tenggorokannya terasa gatal, dan ia berulang kali harus menahan diri supaya tidak menggigil.


"Aku harus berangkat ", katanya, terkejut mendengar suaranya serak.


Sisca berharap ia tidak sakit, dilihatnya Rico mengerutkan kening. Ia sempat berharap Rico melarangnya pergi, ia pasti berhalusinasi bila berfikir seperti itu..kecam Sisca pada dirinya dengan marah.


"Apakah Michael punya kursi untuk naik mobil?"


Pertanyaan ini datang dengan tiba-tiba membuat sisca kaget, tidak mengerti maksud dari pertanyaan Rico.


"Keranjang untuk menggendong atau semacamnya, sehingga ia bisa duduk dengan aman sementara aku menyopiri mu. "


"Sebenarnya kau boleh - boleh saja membawa Ferrari ku, tetapi dengan kaki ter kilir seperti itu memasukkan gigi satu saja kurasa kau tidak bisa".


Membawa mobil Ferrari-nya?


Mata Sisca melebar sedikit menyadari nikmatnya duduk dalam mobil, dan membiarkan Rico mengantarkannya.


Lalu rasa paniknya muncul menyadari betapa berbahayanya kelemahan seperti itu, ia telah berjuang selama masa dewasanya untuk hidup mandiri dan tegar.


Ia tidak akan membuang hasil kerja kerasnya selama ini, hanya karena kepala pusing dan tungkai kaki berdenyut-denyut.


"Aku bisa naik taxi".


"Tidak perlu, omong -omong bisakah kau turun kebawah atau..."


"Tentu saja bisa."


Sisca sebenarnya tidak yakin tetapi untuk mengalihkan perhatian Rico kepadanya, Sisca memberitahukan tempat penyimpanan kursi bayi yang bisa diikat di kursi belakang mobil.


Sisca bisa menyetir dengan cukup baik tetapi tak urung dia terkesan juga, melihat cara Rico mengemudikan Ferrari-nya dengan cukup percaya diri.

__ADS_1


lelaki itu mempunyai kemampuan mengemudi dan bakat yang mungkin dapat dilukiskan sebagai macho, walaupun sisca tidak suka menggunakan istilah yang berlebihan seperti itu.


__ADS_2