BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Hati yang rapuh karena di bohongi


__ADS_3

"Tidak ada orang yang mencintainya lebih dari kau, Sisca."


"Tetapi kau harus mengakui bahwa tidak mudah mengelola perusahaan yang masih baru, sekaligus menghadapi persoalan sehari -hari dalam membesarkan anak kecil".


Argumen Richard itu memang masuk akal, dan membuat tubuh Sisca dingin.


Apa yang akan ia lakukan?


Menawarkan uang supaya ia mau berpisah dengan Michael?


"Sisca kita berdua telah sama-sama memutuskan untuk melajang".


"Kita berdua telah memutuskan bahwa kita sama-sama tidak menginginkan komitmen ikatan perkawinan atau partner seumur hidup."


"Saran ku, sebaiknya kita mempertimbangkannya lagi."


"Aku banyak belajar selama tinggal di sini, misalnya bahwa seorang lelaki menemukan kebahagiaan dengan mengasuh seorang anak.."


"Bahkan anak kecil sekalipun, dan sekarang aku juga tahu betapa sulitnya mengasuh seorang anak..."


"Betapa mengikat dan kadang-kadang melelahkan."


"Aku juga tahu bahwa ternyata ada wanita lain yang berbeda dari wanita-wanita yang kadang-kadang menemaniku, dan aku menyalahkan diriku sendiri kenapa baru mengetahuinya sekarang."


Richard merasakan tubuh Sisca mengejang, dan bisa merasakan keinginan wanita itu untuk melepaskannya darinya.


"Yang ingin kukatakan Sisca daripada kita memperebutkan Michael, mengapa kita tidak menyatukan kekuatan dan berbagi kebahagiaan dan tanggung jawab membesarkannya."


"Satu minggu denganmu dan setelah itu satu minggu denganku, begitu maksudmu", tanya Sisca rapuh.

__ADS_1


"Berpindah -pindah tangan begitu."


"Tidak juga," mata Richard menyipit sewaktu memandanginya.


Ia bisa Merasakan sifat keras kepala Sisca, dan ia tahu persoalan ini ternyata jauh lebih sukar dari harapannya semula.


"Yang ada di benakku agak lebih baik daripada itu, Menikahlah denganku Sisca ".


Sisca sudah tidak kaget lagi...kesedihan dan kesakitan karena mendapat begitu banyak, sekaligus juga terlalu sedikit.


"Karena Michael? ", tanyanya pahit.


"Tidak, maaf Richard." kata Sisca tegas.


"Kau mungkin punya pandangan lain tapi aku khawatir pandangan kita tidak sama, aku ingin berkarier bukan berubah tangga".


Ia tidak ingin Richard melihat wajahnya dan melihat penderitaannya, ia harus menyakinkan lelaki itu bahwa ia tidak bisa menikah dengannya.


Menikah dengan lelaki yang ia cintai, hanya demi seorang anak yang sama-sama mereka sayangi...


Tidak! ia tidak sanggup dan tidak rela menjalaninya, ia punya harga diri.


"Begitu", betapa licin dan menakutkannya suara Richard itu.


"Karier, katamu. Karier apa, Sisca?".


"Bekerja untuk orang lain?".


"Karena itu yang akan terjadi kan?".

__ADS_1


"Uangmu hampir tidak cukup untuk membiayai perusahaan mu, selama lebih dari dua bulan".


"Kau sangat membutuhkan kontrak baru, kau..." belum selesai Richard bicara Sisca sudah memotongnya.


"Kau menyelidiki keadaan perusahaan ku?"


"Berani- beraninya kau! Apa yang ingin kau buktikan?"


"Bahwa aku tidak kompeten dalam masalah keuangan?".


"Baik sebentar lagi aku akan mengubahnya.."


"Tinggal menelepon Steven saja tentu saja aku harus rela tidur dengannya untuk mendapat kontrak itu, tapi apa artinya itu sekarang? aku..."


"Tuhan... Sisca... tidak!," potong Richard meledak.


"Lupakan saja aku...kalau perlu benci aku sekalian kalau kau mau..tapi tolong jangan jual dirimu pada orang seperti Steven."


"Kau akan hancur. Kalau perusahaan itu begitu berartinya bagimu, aku akan memberikanmu proyek! Aku sudah.."


"Terimakasih....tetapi tidak usah, ada apa Richard?".


"Hati kecilmu merasa bersalah mungkin?".


"Aku toh sudah tidur denganmu, oleh karena itu aku pantas menerima bayaran seperti teman wanita-wanita mu yang lain?", tuntut Sisca sembarangan.


"kau benar-benar menganggapnya begitu?", mulut Richard berkerut.


"Kurasa ada yang harus kau ketahui dengar Sisca, terserah kau mau percaya atau tidak tapi yang ini benar."

__ADS_1


__ADS_2