BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Gerald terpana


__ADS_3

Mereka makan dengan hening karena tidak ada yang berniat memulai percakapan, namun pandangan mata mereka diam-diam saling melirik dan ketika bentrok keduanya saling menunduk.


Gerald merasa debar jantung makin kencang sehingga mengira dirinya bakal terkena serangan jantung , sewaktu tidak sengaja matanya bertatapan dengan Cintya.


Cintya juga merasa jantungnya berdebar sehingga menundukkan kepalanya , malu bila perasaan cintanya terbias lewat sorot matanya dan ketahuan oleh Gerald.


"Kamu... ", tanpa sengaja keduanya bicara bersamaan.


" Duluan aja ", Lagi-lagi mereka bicara secara bersamaan dan akhirnya mereka tertawa.


" Gerald aku hanya mau bilang apa kau mau kopi setelah makan seperti biasanya ", akhirnya Cintya bersuara.


" Boleh makasih", sahut Gerald.


"Aku tunggu di sofa", katanya lagi sambil berjalan ke arah ruang tamu.


Cintya merapikan semua piring kotor dan mencuci dengan bersih, lalu membersihkan meja dengan lap sampai meja bersih serta menyimpan makanan sisa ke dalam lemari es.


Lalu mulai merebus air dalam ceret sambil menuang bubuk kopi ke dalam gelas cangkir, dan menuang air yang sudah mendidih ke dalam kopi hitam Gerald.

__ADS_1


Sementara itu dia menuang air panas ke dalam mug dan membuat susu coklat panas , lalu membawa minuman itu ke meja ruang tamu di mana Gerald sedang menunggunya.


"Aku mengira kau menyukai kopi ", kata Gerald.


"Aku memang menyukai kopi capucino namun karena sudah malam aku takut tidak bisa tidur bila minum kopi", kata Cintya.


" Oo begitu... ", sahut Gerald sambil mengangguk mengerti alasannya.


" Apa kau sudah merasa nyaman tinggal di sini? ", tanyanya.


" Iya aku suka di sini tenang", sahut Cintya.


" Sekarang kalau kau lelah beristirahat lah di kamarmu, aku masih harus menyelesaikan pekerjaan yang buat pertemuan besok." kata Gerald.


"Apa bos besar tidak datang lagi besok? ", tanya Cintya.


Dia ingat tingkat bucin bos nya itu sejak menikah dengan nyonya nya, dan melimpahkan semua tugas kepada Gerald untuk mengurusnya.


Dia merasa kasihan juga melihat Gerald menjadi sapi perah nya, sementara bos nya bersenang-senang dengan istrinya.

__ADS_1


Namun apa lah dayanya yang karyawan kecil dengan bekerja di perusahaan ini, dia sudah sangat bersyukur karena gaji lebih besar di banding perusahaan lain sejenisnya.


Perusahaan juga sangat memperhatikan karyawan , dan tidak segan memberikan bonus bila pekerjaan mereka memuaskan hati bosnya.


Cintya mengenal dengan baik bagaimana bosnya yang gila kerja itu tidak mengenal kata libur, bahkan kantor seperti rumah kedua baginya.


Pernah dia melihat bosnya sampai jam sepuluh malam masih bekerja, dan hanya tidur 1-2 jam namun bisa menghindari dengan mudahnya.


"Nah kau bantu angpao ini sampai kepada yang membutuhkan", kata gerald.


" Baik ", sahut Cintya.


" Apa aku boleh menemanimu di sini atau menganggu pekerjaanmu bila tetap di sini? ", tanyanya.


" Tentu saja tidak mengganggu ,aku justru senang bila kau di sini,"balasnya.


"Aku cuma khawatir kau akan bosan melihatku bekerja", lanjutnya.


Cintya senang mendengar itu dan tidak mengganggu kerja Gerald, dia membuka salah satu buku novel yang dia bawa dari rumah dan membacanya.

__ADS_1


Dia tidak mengajak Gerald mengobrol karena tahu sedang sibuk bekerja, dia juga mengetahui pentingnya draft yang sedang di periksa gerald saat ini itu adalah kontrak kerjasama pembangunan taman kota.


__ADS_2