BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Demam membuatmu rapuh


__ADS_3

Sisca kaget juga ketika Rico tampaknya tahu persis letak kantornya tanpa harus diberitahukan, lelaki itu menghentikan mobilnya dan dengan sopan membantunya turun.


Sisca sadar bahwa ia memang perlu dibantu, ia berusaha agar tidak menggigil ketika udara pagi yang dingin membelai kulitnya yang panas membara.


Terpikir oleh Sisca bahwa ia mungkin terkena gejala demam, tetapi ia menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh tidak mau memikirkan masalah lain lagi.


Persoalannya sudah cukup banyak.. seolah-olah bisa membaca pikirannya, Rico menandaskan.


"Waktu kau pulang semalam, aku kagum pada pendirian mu yang teguh Sisca. Zaman sekarang jarang ada orang yang bermoral tinggi, jangan kau kira itu tidak ada artinya."


"Kau yang akan paling menderita bila mengubah pendirian mu itu, karena kau satu dari segelintir orang yang lebih menghargai anggapan mereka terhadap diri sendiri dari pada pujian semu dari orang lain."


Ucapan Rico itu benar sekali, tetapi sisca heran bagaimana lelaki itu memahami harga dirinya yang keras kepala dan yang diam-diam dibencinya itu.


Ia tidak sanggup lagi melepaskan diri dari jalinan nilai-nilai moral, yang sudah ia tentukan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Lambat laun ia mulai sadar bahwa ia harus membayar mahal, untuk mempertahankan sikap seperti itu.


"Dunia ini tidak melulu dihuni lelaki seperti Steven", tambah Rico tenang.


Seolah-olah menentramkan hati.. pikir Sisca membiarkan lengannya dipegang erat-erat oleh Rico.


"Juga tidak melulu berisi kontrak", tukas Sisca garing.


Tidak ingin terlanjur senang melihat perhatian Rico kepadanya, itu berarti ia lemah bila ingin berpegang pada penghiburan yang diberikan oleh Rico.


Sentuhan Steven membuatnya teringat pada rasa jijik dan takut yang ia rasakan waktu remaja, ketika salah seorang anak lelaki di panti asuhan mencoba melakukan perbuatan yang tidak senonoh terhadapnya.


Namun sebaliknya sentuhan Rico tidak membuatnya merasa jijik atau tidak suka, ketika Rico menyentuhnya ia merasa...


"Masih ada Kontak lain", tegas Rico menyakinkan sisca sambil memandanginya lekat-lekat, seolah-olah ingin menularkan keteguhan dan keyakinan yang dikatakannya itu.

__ADS_1


"Dan karena datangnya setelah peristiwa semalam, kontrak -kontrak itu pasti lebih bagus. Selain itu juga karena datangnya dari orang-orang yang menghormatimu sebagai wanita baik-baik ".


"Sebagai orang baik-baik, maksudmu?", Sisca membenarkan dengan pahit, tidak ingin Rico tahu bahwa ia sebenarnya senang mendengar penghiburan Rico itu.


"Aku tidak ingin ada rekan bisnis yang menganggap ku sebagai wanita, aku ingin berdiri sejajar dengan mereka. Mengenai kontrak- kontrak lain..semoga saja kau benar Rico, karena kalau tidak tak lama lagi kau pasti akan kehilangan pekerjaan."


Baru kali ini Sisca mengungkapkan kekhawatirannya mengenai keuangannya, yang kritis pada orang lain selain sahabatnya.


Ia sering mendengar cerita orang-orang sukses yang mengatakan, bahwa masa-masa mereka berjuang dulu adalah masa -masa yang paling indah dan menantang.


Tetapi itu kan cerita dulu dan seringkali diutarakan, di saat mereka memiliki partner atau kekasih yang bisa diajak berbagi kesusahan.


Sedangkan Sisca tidak punya siapa-siapa, tetapi ia memiliki tanggung jawab kepada Michael.


Pada awalnya ia menikmati tantangan dalam berjuang sendirian, tetapi sekarang setelah tahu ia kehilangan kontrak Steven ia merasa putus asa.

__ADS_1


__ADS_2