Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
POV Rido


__ADS_3

"Mas...kapan sih, mobil kita di ganti," rengek Airin, istriku. Dia baru saja pulang dari arisan sosialitanya.


"Lihat Amel, teman arisan adek, tadi pamer mobil baru. Padahal suaminya hanya punya toko grosir sembako. Masa adek yang istri seorang pengusaha masih pakai mobil butut sudah ketinggalan zaman pula," ucapnya lagi seraya bergelayut manja di lenganku.


"Jangan samakan rezeki orang dengan kita, Dek. Mana tahu suaminya mbak Amel punya toko grosir banyak dan tersebar di mana-mana..."


"Ah... Mas, selalu ngomong begitu. Suka banget hidupnya stay di tempat saja. Susah sekali di ajak maju," sungutnya. Wajah cantik itu seketika muram.


"Bukan begitu, Dek. Tapi, untuk saat sekarang mas memang tak bisa mengabulkan permintaanmu, usaha kita lagi sepi, Dek," ucapku lagi, berusaha menjelaskan.


"Aku 'kan nggak minta di belikan mobil lagi, Mas. Mobil yang kita sekarang di ganti ke yang lebih bagus, palingan Mas tambah dikit aja," ucapnya masih keukeh dengan keinginannya.


"Apa bedanya sih, Dek. Adek ngerti nggak sih, kalau kepala aku pusing mikirin usaha kita yang sepi akhir-akhir ini!" ucapku lantang. Ya, lama-lama aku kesel juga mendengar ucapan Airin.


"Mas...bicara keras padaku," ucap Airin geleng-geleng kepala, matanya pun berkaca-kaca, ia seperti akan menangis.


"Dek..." lirihku sembari ingin memegang tangannya. Tapi, secepat kilat ia tepis dan ia pun berlari masuk ke dalam kamar kami.


__________________


"Rido, Kau apakan anakku!" ucap mama mertuaku dengan sengitnya. Tiba-tiba dia sudah berada di tempat usahaku pagi ini. Entah kapan dia datangnya.

__ADS_1


"Eh... Mama, silahkan duduk, Ma."


"Nggak usah basa-basi, aku kemari mau menanyakan mengapa Airin menelponku sambil menangis tadi malam." Mama mertuaku berbicara dengan penuh penekanan. Begitulah istriku, kalau ada masalah sedikit saja pasti mengadu pada orang tuanya.


"Aku bisa jelasin, Ma. Airin itu minta mobil baru, tapi aku belum bisa memenuhinya. Usahaku lagi sepi, Ma..."


"Rido! Airin bilang ia hanya ingin mengganti mobil Kalian dengan mobil pengeluaran terbaru. Kalau mama jadi Airin juga malu, pergi kemana-mana dengan mobil tua itu," ucap wanita paruh baya yang selalu tampil cetar ini. Ya, sifatnya itulah yang di warisi oleh istriku. Selalu tampil modis di mana pun ia berada.


"Ma, dengarkan aku dulu..."


"Rido! Kalau Kau masih membuat Airin menangis. Jangan salahkan mama, kalau mama ambil paksa Airin dari sisimu," ancam mama mertuaku.


Aku mengacak rambutku, ucapan mama benar-benar membuat pikiranku kalut.


Ya, dulu memang aku hampir gagal menikah dengan Airin, karena terhalang restu dari mertuaku ini. Aku yang dulu baru merintis karier, tak sepadan dengan calon pilihan orang tua istriku ini. Papa mama Airin ingin menjodohkan anak semata wayang mereka ini dengan pengusaha muda yang sangat kaya raya.


Karena kekuatan cinta aku dan Airin. Kami berhasil melewati rintangan itu. Restu kami dapatkan dengan beberapa syarat tentunya. Termasuk mahar yang sangat fantastis, tabunganku ludes beserta uang hasil penjualan tanah bapak emakku kala itu. Semua ke relakan demi hidup bersama wanita yang kucintai, yaitu Airin.


"Dek..." sapaku lembut pada wanita yang telah memberiku satu anak itu. Tak ada sambutan dengan senyuman, apalagi segelas teh saat aku pulang kerja hari ini. Wajahnya muram, tak ada keceriaan sedikit pun.


"Mas akan turuti kehendak Adek," ucapku pelan. Airin menoleh, senyuman manis pun memgembang di bibir seksinya.

__ADS_1


"Benar, Mas," ucapnya dengan mata berbinar-binar.


Aku mengangguk, "Tapi, tahun ini kita mudik ke kampungku ya."


Tiba-tiba senyuman itu sirna, "Kok gitu sih, Mas," sungutnya. Begitulah Airin, selalu tak bersemangat kalau kuajak pulang ke rumah orang tuaku.


"Ya... tahun kemarin 'kan kita nggak pulang, Dek. Nggak ada salahnya tahun ini kita pulang ya..."


"Tapi, Mas..."


"Dengarkan mas dulu, Dek. Katanya Adek mau ganti mobil, nanti di sana mas akan minta bantuan emak dan bapak."


"Maksudnya..."


"Iya, mereka masih punya tanah yang cukup luas. Nanti mas minta mereka menjualnya, dan uangnya mas pinjam dulu," ucapku seraya menjelaskan dengan rinci alasan yang akan ku gunakan untuk merayu emak nanti.


Airin mengangguk, pertanda dia paham dengan maksudku.


"Jadi, kapan kita ke sananya, Mas? Jangan lama-lama ya kita di sana nantinya."


"Dua hari sebelum hari raya ya, Dek," ucapku lagi. Kebetulan seminggu lagi akan puasa.

__ADS_1


"Oke, setuju," sahut Airin seraya tersenyum manis. Senyuman itulah yang menjadi alasan aku melakukan semua ini.


__ADS_2