Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
menantu durhaka


__ADS_3

Sudah satu bulan aku tak ke rumah emak, sesuai dengan keinginan Airin, sekarang dialah yang mengurus semua keperluan di rumah itu. Aku yakin Airin pasti bisa, dan emak kembali bersikap baik padanya. Karena memang dulu emak sudah sangat sayang padanya.


Sedangkan Resti ikut Ferdi pindah ke kota, agar Ferdi tak bolak-balik dari kampung ke kota untuk bekerja. Selain itu, Resti juga ingin membantu suaminya. Ferdi itu bekerja di bank dan kebetulan mempunyai usaha sampingan yaitu sebuah konter HP. Jadi, nantinya konter HP itu Resti yang akan mengurusnya.


Dan aku, di sinilah aku sekarang, hari-hariku di sibukkan di kebun sayuran ini. Bekerja semampuku di sini, pagi-pagi aku dan si bungsu diantar oleh bang Rozi ke sini dan ia pergi menyadap, sedangkan tiga anakku yang lainnya bersekolah. Baru siangnya nanti bang Rozi kembali ke sini bersama ketiga anakku dan suaminya kak Minah juga. Terkadang kak Minah juga ikut. Sekarang kebun ini selalu ramai setiap hari, bahagia sekali rasanya.


"Kak Yati! Kak Yati!"


Aku yang sedang mencabuti rumput liar di sela-sela tanaman kangkung pun berdiri. Sepertinya suara Resti yang memanggilku.


"Res! Kakak di sini," teriakku seraya berjalan ke arah pondokan.


Ternyata benar Resti yang datang, tapi nggak sendirian ada emak juga bersamanya. Emak dan Resti tersenyum kepadaku, di sisi mereka ada Ilham yang sedang asyik menyantap jajanan. Mungkin jajanan itu di kasih emak dan Resti.


"Orang kota kapan pulang?"


"Ah... Kakak bisa aja, sore kemarin aku sampe, kangen aku sama Kalian," sahut adik iparku itu.


"Emak sakit?" tanyaku. Karena wajah emak terlihat pucat.


Emak menggeleng, "Nggak emak sehat-sehat saja, kok."


"Benar, Mak?" tanyaku lagi seraya memegang tangan ibu mertuaku itu.


"Iya nih, Kak. Dari kemarin aku tanya jawabannya begitu," timpal Resti pula.


"Nggak, emak cuma pusing saja melihat tingkah Airin."


"Makanya, Kak. Kakak saja yang nemanin emak."


"Tapi, Res. Airin tak suka aku ke sana."


"Peduli apa sama dia," sahut Resti sinis, "Apa Kakak tega lihat emak selalu pusing seperti ini, nanti emak sakit lagi."

__ADS_1


"Iya, Ti. Emak capek setiap hari harus berkoar-koar mengingatkan Airin apa yang harus dia lakukan, bukannya beres malah tambah berantakan," cerita emak pula. Mertuaku itu terlihat putus asa.


"Aku sih nggak keberatan, Mak. Aku malah senang tiap hari bersama emak."


"Airin itu benar-benar suka membatah apa yang emak katakan," gerutu emak pula.


"Iya, Mak. Nanti aku bilang dulu pada bang Rozi ya."


"Nah gitu dong, Kak. Bang Rozi pasti setuju," ucap Resti seraya tersenyum manis. Begitu juga dengan emak, raut wajahnya terlihat bahagia setelah mendengar ucapanku.


"Oh ya, Kak," ucap Resti lagi seraya mengeluarkan sesuatu dari tasnya, "Ini buat Kakak."


"Apa ini, Res?" tanyaku.


Aku pun menerima pemberian Resti yang di bungkus dengan kantong kresek merah muda bertuliskan RESTI CELL. Mungkin itu nama konter milik Resti.


"Buka dong, Kak," ucap Resti pula.


Aku mengangguk dan mulai membuka pemberian wanita yang mempunyai senyuman manis itu.


"Iya hape, itu untuk Kakak. Biar kita bisa video call kalau lagi kangen."


"Tapi Res, ini pasti harganya mahal," ucapku seraya meletakan handphone itu di hadapan Resti, "Kakak nggak tahu cara menggunakannya."


"Sini aku ajarkan." Resti menarik tanganku, "Percaya deh, Kak. Nanti pasti Kakak bisa dengan sendirinya," lanjutnya lagi seolah meyakinkan ku agar tak menolak pemberiannya.


"Iya, Ti. Terima saja, jangan kecewakan adikmu itu," sela emak pula, "Persaudaraan Kalian lebih mahal dari apa pun," tambah mertuaku dengan lembut.


"Betul itu, Kak. Nanti handphone ini bisa juga untuk Rani loh, Kak."


Resti pun kembali menyerahkan handphone itu ke tanganku. Benar juga yang dikatakan Resti, emang akhir-akhir ini Rani minta dibelikan handphone, katanya untuk mengerjakan tugas sekolah. Kasihan juga anakku itu, sering menumpang dari temannya.


"Ya sudah, Kak. Kami pamit dulu, habis ini aku mau mampir ke rumah mamer. Habis itu aku langsung pulang ke kota," pamit Resti pula, setelah sebelum dia dan emak ku bekali dengan sayur-sayuran yang baru saja aku petik.

__ADS_1


________________________


"Dek, kita ke rumah emak sekarang," ucap bang Rozi terengah-engah tangannya masih memegang handphone jadul kesayangannya itu. Beberapa orang yang sedang membantu kami panen pun ikut terkejut melihat suamiku seperti orang kalut itu.


"Ada apa, Bang?"


"Emak pingsan, Dek," ucapnya lagi dengan raut wajah cemas.


"Pingsan kenapa, Bang?" tanyaku dengan perasaan tak menentu.


"Pergi Kau dan Rozi saja, Ti. Anak-anakmu nanti biar Kakak yang bawa pulang," ucap kak Minah, seolah mengerti dengan kekalutan ku.


"Di sini biar Kakak dan abangmu yang urus," lanjutnya lagi.


Aku dan bang Rozi pun pergi ke rumah emak. Sampai di sana sudah ada juga beberapa orang tetangga di sana.


"Dasar menantu durhaka," bisik ibu-ibu di teras rumah mertuaku.


"Sudah untung dapat mertua sebaik emak ini," sahut yang lainnya.


"Permisi ibu-ibu," ucap suamiku dengan sopan. Dan hebatnya lagi ibu-ibu tadi seolah kompak diam setelah melihat aku dan bang Rozi berdiri di belakang mereka.


Aku dan bang Rozi pun masuk ke dalam. Rasa khawatir tergurat jelas di wajah tampan suamiku, ya siapa yang tak cemas mendapatkan kabar kalau ibunya pingsan. Tak terkecuali denganku, hatiku gelisah, apalagi setelah mendengar kasak-kusuk ibu-ibu di teras rumah tadi. Siapakah menantu durhaka itu? Apa aku? Apa mungkin ibu kecapekan di sini sedangkan aku belum juga datang ke rumah ini untuk menemani dan membantunya.


Sungguh aku sangat merasa bersalah, sebenarnya aku sudah bilang pada bang Rozi dan bang Rozi pun mengizinkan. Tapi, tunggu setelah kami panen dulu. Nggak lama kok, seminggu setelah Resti dan emak datang ke kebun, kami pun panen, dan rencananya lusa aku sudah mulai ke rumah emak seperti biasanya.


"Ti, siapkah pakaian emakmu. Kita bawa emak ke rumah sakit sekarang," ucap bapak dengan wajah yang kalut.


Baru saja kami sampai di ruang tengah dan berpapasan dengan bapak saat kami akan masuk ke kamar emak. Memang di ruang tamu tadi, ada beberapa tetangga yang sedang berbincang dan salah satunya menyarankan emak di bawa ke rumah sakit sekarang juga.


Aku mengangguk patuh, masuk ke kamar untuk menyiapkan pakaian emak sesuai dengan perintah bapak. Suamiku langsung memeluk emaknya, di sana ada juga ada Rido yang masih menangis tergugu. Sedangkan Airin tertunduk lesu di atas kursi, di depan meja rias emak.


"Rozi, Rido! Tunggu apa lagi, siapkan mobil sekarang juga," perintah bapak dengan tegas. Bang Rozi berdiri dan mengangguk seraya menyeka air matanya. Tak ketinggalan Rido, ia pun berdiri walau terlihat lemah.

__ADS_1


"Ingat ya Kau Airin! Apa bila sampai terjadi sesuatu sama emakku. Aku ceraikan Kau saat itu juga!" teriak Rido seraya mengacungkan telunjuknya pada Airin.


__ADS_2