Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
POV emak


__ADS_3

"Yati, hari ini masak udang dong. Bosan tiap hari makan makanan kampung." terdengar suara besanku memerintah Yati, sepertinya Yati sudah datang. Enak saja dia berlagak seperti nyonya besar di rumahku. Sudah untung aku masih mau menampungnya di sini, karena atas permintaan Rido anakku. Kalau tidak sudah ku usir dia dari rumahku dari kemarin-kemarin, apalagi kalau teringat saat dia meminta Airin memulangkan Rido. Sebel sekali aku rasanya.


"Tapi, Tante di kulkas lagi nggak ada udang," jawab Yati pelan. Aku masih menguping obrolan antara Yati dan mama Airin dari sini, dari halaman belakang sambil memberi ayam-ayam ternakku makan.


"Ya... Kau belilah, itu saja nggak ngerti. Lagian mana enak udang yang di simpan di kulkas. Nggak seger lagi," ucap mama Airin, semakin menjadi-jadi memerintah Yati.


Benar-benar tak tahu diri dia, sudah untung Yati mau dengan sukarela membantu pekerjaan di rumah ini dan melayani kebutuhannya dan Airin. Kalau tidak pasti aku sudah keteteran melakukannya. Kalau anaknya yang manja itu, mana mau melakukan pekerjaan rumah tangga seperti Yati. Sebenarnya kasihan juga aku melihat istri anak sulungku itu, tapi apa daya aku sangat membutuhkan bantuannya saat ini.


"Beli?...aku tak punya uang Tante..."


"Ya, mintalah pada mertuamu itu. Masa minta padaku, aku 'kan tamu di sini," ucap mama Airin lagi. Enak saja dia berkata tamu, tamu apaan sudah lebih satu bulan dia menumpang gratis di sini. Apakah masih bisa disebut tamu selama itu?


"Tapi...sepertinya emak sudah belanja tadi," sahut Yati. Aku tersenyum mendengar ucapan Yati, memang tadi sengaja aku belanja pagi-pagi di tukang sayur. Biar saat Yati datang bisa langsung masak.


"Hah! Kangkung, tahu tempe?" terdengar suara mama Airin seperti sangat terkejut. Aku makin tersenyum mendengarnya.


"Iya...Tante. ku masak cah kangkung ya, enak kok..."


"Enak apanya....dasar ya mertuamu itu memang pelit," ucap mama Airin dengan nada mengejek. Panas hatiku mendengarnya, enak saja dia bilang aku pelit.


"Ehemm!..." aku pura-pura batuk dengan keras dari belakang rumah, sehingga besanku itu berhenti mengoceh.


Cukup lama, tak terdengar lagi suaranya. Aku pun masuk dapur, menemui Yati yang terlihat sedang sibuk menyapu.


"Yati, masak saja apa yang ada."


"Baik... Mak," ucap menantuku itu mengangguk patuh.


"Jangan dengar ocehan nenek lampir itu..."


"Siapa nenek lampir Mak?" tanya Resti tiba-tiba menyela ucapanku.


"Tuh...tamu tak tahu diri," sahutku pula.


"Hah! Nggak salah dengar nih, emakku bilang mamanya kak Airin, nenek lampir," ucap Resti lagi seraya tersenyum manis.

__ADS_1


"Kau anak kecil berani mengolok orang tua ya," ucap seraya men-toyor kepala anak bungsuku itu. Lalu kami tertawa bersama, seolah ucapan kami barusan sangat lucu. Ku lirik sekilas ke arah Yati, dia ikutan tetawa walaupun tak terdengar bunyinya olehku.


Begitulah menantuku yang satu itu, tertawa pun dia seperti takut di rumah ini. Saat matanya tak sengaja melihat ke arahku dan tatapan mata kami saling bertemu, tiba-tiba tawa itu memudar. Ya Tuhan sebegitu menyeramkan kah aku baginya, sehingga tawanya seketika terhenti melihat tatapanku. Entahlah, mengapa akhir-akhir ini setiap aku melihat Yati ada rasa iba terselip di hatiku.


______________________


"Mak..." panggil Rido seraya membuka pintu kamarku.


"Hmmm..." sahutku. Aku sedang rebahan, beristirahat sejenak setelah menunaikan shalat Zuhur siang ini.


"Aku boleh masuk?" tanyanya lagi.


"Masuklah," jawabku singkat.


Rido pun masuk, senyuman manis pun tercipta di wajah tampannya.


"Ada apa?" tanyaku pula. Pasti ada yang mau di katakan oleh Rido, sehingga ia menyambangi kamarku siang ini.


"Enggak, pengen ngobrol aja sama emak," ucap Rido sambil duduk di tepian ranjang dan tangannya mulai memijat kakiku dengan lembut.


"A-anu... Mak," Rido mulai berbicara dengan terbata-bata. Aku menatap dengan seksama anak lelakiku itu, menunggu ia mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.


"Aku...ingin minta uang yang dulu aturannya di kasih bapak kepadaku," ucap Rido lagi dengan pelan.


"Uang?..."


"Iya, uang itu ingin aku gunakan untuk memulai usahaku lagi," sambung Rido seraya menunduk.


"Uang yang mana lagi Rido, setahun Kau sakit, emang Kau kira tak butuh biaya," ucapku dengan tegas.


"Tapi... Mak..."


"Nggak ada tapi-tapian kecuali Kau menceraikan Airin. Akan mak usahakan modal usaha untukmu..."


"Mak!..." seru Rido seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa, Do. Sekarang aku sudah cukup menyadari perempuan seperti apa istrimu itu," sahutku tak kalah tegas dari sebelumnya.


"Mak... mengapa Emak tiba-tiba berubah seperti ini," ucap Rido seraya menatapku dengan tatapan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya, memang semenjak Rido kecelakaan, mataku terbuka untuk melihat seperti apa sebenarnya menantu yang ku agung-agungkan itu. Dia perempuan tak baik, perempuan materialistis, hanya mau di saat anakku sehat dan senang saja dan...ah sudahlah mungkin ini hikmah di balik musibah itu. Karena itu, aku bisa menyadari kalau Airin memang tak baik.


"Gimana?" tanyaku lagi.


Rido menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Tidak Mak, aku tak akan menceraikan Airin sampai kapanpun." Rido pun keluar kamarku seraya membanting pintu.


Ku tarik napas dalam-dalam melihat perlakuan anak lelakiku itu, mudah-mudahan suatu saat ia sadar kalau selama ini dia hanya menjadi budak cinta istrinya saja.


________________________


"Aku pulang dulu ya, Mak," pamit Yati padaku. Aku menoleh, Yati terlihat menggandeng tangan Ilham, cucuku.


"Rozi sudah jemput?" tanyaku pula, karena dari tadi aku duduk di kursi teras ini tak kelihatan anak sulungku itu datang.


Yati menggeleng.


"Jadi, Kau pulang pakai apa?..."


"Aku yang akan mengantar kak Yati," ucap Resti tiba-tiba muncul di belakang Yati.


"Oo...ya udah," ucapku pelan, "Oh ya, jadi Kau bawa lauk tadi. Biar nanti Kau tak masak lagi sesampai di rumah."


"Sudah Mak, ini..." Yati memperlihatkan kresek hitam yang ku taksir di dalamnya sebuah rantang tempat makanan. Di belakang Yati terlihat Resti cengengesan, entah apa yang di tertawai-nya.


"Ilham sini dulu," ucapku memanggil anak bungsu Rozi itu. Ilham pun mendekat kepadaku.


"Ini untuk jajan, bagikan kakak dan abang ya," ucapku memberikan uang berwarna merah muda kepada cucuku itu, Ilham pun menyambar dengan cepat uang itu dari tanganku.


Sudah lama sekali rasanya aku tak memberikan uang kepada anak-anak Rozi ini. Nggak apa-apalah kali ini ku kasih mereka uang jajan, kebetulan kemarin hasil panen kebun kakeknya cukup banyak.


"Bilang apa sama nenek," timpal Resti seraya tersenyum manis. Entah apa yang merasuki anak gadisku itu, sehingga raut wajahnya terlihat sangat sumringah sore ini.

__ADS_1


"Makasih, Nek," ucap Ilham seraya mencium pipiku. Seketika rasa bahagia menyeruak di dadaku. Ya, aku merasa bahagia melihat Ilham tersenyum dan sangat antusias menerima uang dariku.


__ADS_2