Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
indahnya persaudaraan


__ADS_3

"Dek, rumah kita sudah ada yang beli," ucap bang Rozi dengan senyum sumringah.


"Betul, Bang... Alhamdulillaah." Aku mengucapkan syukur, akhirnya uang bapak bisa kami kembalikan. Jujur, aku merasa tak enak hati, karena kedua orang tua suamiku itu sudah banyak membantu kami.


"Iya, Dek. Besok orang yang mau membeli rumah kita akan datang sekaligus membawa uangnya."


"Orang mana yang membelinya, Bang?"


"Abang tidak tahu juga, Dek. Yang jelas teman abang yang mengenali orang itu dan katanya orang itu dari kota," jelas suamiku pula.


Aku mengangguk, pertanda paham. Ya, sudahlah yang penting rumah itu sudah terjual.


_____________________


Benar yang dikatakan bang Rozi. Keesokan harinya, orang yang akan membeli rumah kami pun datang ke rumah bersama teman bang Rozi. Dia membayar lunas rumah kami, tanpa di tawar sedikit pun. Alhamdulillaah, semua di permudahkan.


Setelah surat-menyurat selesai, dan uang pun sudah di tangan kami. Tak menunggu lama, aku pun mengajak bang Rozi ke rumah emak untuk mengembalikan uang itu. Bang Rozi pun setuju dan berangkatlah kami ke rumah mertuaku.


"Pak, ini uang yang kami pakai dulu," ucap bang Rozi seraya meletakkan uang itu di atas meja, di hadapan bapak dan emak.


"Oo... sudah ada yang membeli rumah Kalian?" tanya bapak seraya mengambil uang itu dan menyerahkan pada emak.


"Iya, Pak. Alhamdulillaah," sahut suamiku.


"Ini uangnya berlebih, Zi," ucap emak.

__ADS_1


"Iya, Mak. Harga rumah kami tidak di tawar lagi oleh yang membeli," jelas bang Rozi lagi, "Yati bilang, sisanya buat emak saja."


Emak menoleh padaku, "Nggak usah, Ti. Kalian lebih membutuhkan..."


"Nggak, Mak. Kami belum membutuhkannya, lebih baik uangnya untuk Emak saja. Lagian selama ini, kami tak pernah memberi emak uang, jadi nggak ada salahnya bukan..."


"Jangan bilang begitu, lebih baik uangnya Kalian tabung untuk kebutuhan sekolah anak kalian kelak," ucap emak pula, "Emak dan bapak benar-benar tak memerlukan uang itu, lihat Kalian bahagia saja, itu sudah lebih berharga daripada uang bagi kami."


"Benar kata emak Kalian itu, sudah Kalian saja yang pegang sisanya ini," timpal bapak seraya mengambil uang dari tangan emak dan menyerahkan kelebihan uang tadi padaku.


"Yang ini, iya bapak ambil, karena ini bukan uang bapak?"


"Bukan uang Bapak?" tanya bang Rozi heran. Bapak pun mengangguk.


"Terus uang siapa?" tanyaku pula.


Aku dan bang Rozi saling berpandangan. Uang siapa? Resti? Rido?


"Do, kemari," panggil bapak pada Rido yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Iya, Pak," sahut Rido seraya berjalan ke arah kami.


"Ini uangmu, sudah di kembalikan oleh Rozi dan Yati," ucap bapak lagi seraya menyerahkan uang itu pada Rido.


"Jadi..."

__ADS_1


"Iya, yang Kalian pakai itu uang Rido," sela emak pula.


Bang Rozi menatap adiknya lama sekali, dia seperti terharu.


"Terima kasih, Do. Mengapa Kau tak bilang kalau itu uangmu?"


"Kalau aku bilang itu uangku, pasti Kalian nggak terima, apalagi kak Yati. Aku yakin kak Yati pasti menolaknya," ucap Rido seraya tersenyum manis.


"Terima kasih banyak, Om," ucapku pelan.


"Jangan sungkan gitu dong, Kak. Sudah sewajarnya kita saudara saling tolong menolong," ucap Rido tulus, "Aku yang harusnya berterima kasih, kalau tidak karena Kakak, mungkin hidupku tak akan sebahagia ini, tidak senyaman sekarang ini."


"Sudah... sudah... Yang paling bahagia ya bapak dan emak lah, mempunyai anak-anak yang saling menyayangi dan hidup rukun," ucap emak pula. Kami semua pun tersenyum mendengar ucapan emak.


"Eh, ngomong-ngomong banyak juga tabungan Kau, Do?" tanya bang Rozi lagi.


"Iya, Bang. Ingat nggak, waktu aku pergi seminggu mencari Airin dan Airin ketahuan selingkuh," ucap Rido pula. Bang Rozi mengangguk pertanda ia ingat.


"Saat itu, aku bukan hanya mencari Airin tapi juga melihat usahaku yang dulu dan ternyata masih ada aset yang bisa aku jual. Di bantu oleh Joe temanku, akhirnya aku menjual aset itu. Dan ini hasilnya, dan sengaja aku tak memberi tahu Airin," lanjut Rido bercerita kepada kami.


"Oo... kalau begitu bisa dong, Kau bangun rumah di sebelah kami..."


"Belum cukup uangnya ini, Bang..."


"Nah...ini Kau pakai dulu uang ini," ucap bang Rozi seraya menunjukkan uang di tanganku. Aku mengangguk, mengiyakan ucapan bang Rozi.

__ADS_1


"Kalau belum cukup juga, aku siap membantu," ucap Resti dari arah pintu depan. Entah sejak kapan dia berdiri di sana, sehingga ia bisa menyela obrolan kami.


Kami serentak tertawa bersama. Indahnya persaudaraan ini.


__ADS_2