
"Rin, Rin...bangun " terdengar suara emak pelan membangunkan Airin.
Seusai solat subuh tadi, aku memang langsung berkutat dengan urusan dapur. Resti pun sudah bangun, ia lagi mencuci baju seraya mengajak si kecil Abella bermain, sedangkan para lelaki di rumah ini belum pulang dari mushola. Kecuali Rido, adik iparku itu belum pulang dari rumahku.
"Ah...ganggu orang tidur saja..." ucap Airin, ya memang begitulah Airin tak pernah bisa untuk bangun pagi.
"Dasar pemalas," gerutu Resti. Aku tersenyum, rupanya Resti juga ikut mendengar suara emak yang membangunkan Airin
"Heh! Airin bangun, ini sudah pagi... di sini tak ada orang yang bangun kesiangan," ucap emak lagi dengan lantang, "Bangun, Rin... Kau harus pergi secepatnya dari sini, tak enak di lihat tetangga, Kau bukan istri Rido lagi tak patut menginap di sini."
"Iya, Mak...iyaaa. Bawel banget sih!" seru Airin pula.
"Kak, mas Rido belum pulang?" tanya Airin tiba-tiba muncul di dapur.
"Ngapain Kau nanya-nanya abangku," sewot Resti pula.
"Ya jelas ada perlulah, diakan papanya anakku," jawab Airin sinis.
"Dasar tak tau malu," gerutu Resti pula.
"Kau bilang apa!" seru Airin, matanya terbelalak seakan biji mata Airin mau keluar dari kelopaknya.
"Aku bilang, kapan Kau pergi. Pusing kepalaku melihat ulahmu," sahut Resti pula.
"Suka-suka akulah, mau perginya kapan," ucap Airin seraya melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
____________________
Hingga siang, Airin tak kunjung juga pergi dari rumah emak. Ia beralasan nunggu Rido pulang dulu, Airin ingin membicarakan sesuatu tentang Raffa dengan Rido nanti.
Tapi, yang di tunggu-tunggu tak kunjung pulang. Berulang kali emak menelpon meminta Rido pulang, tapi Rido bilang dia tak akan pulang sebelum Airin pergi.
Airin ini benar-benar bermuka tebal, di sindir tak mempan, bahkan dikatain terang-terangan pun juga tak mempan. Sehingga emak jadi menyerah sendiri dan membiarkan Airin menuggu Rido di rumah ini sampai bosan.
Hingga sore hari, akhirnya Rido pun pulang. Airin cepat-cepat menghampiri mantan suaminya itu.
"Belum pergi juga Kau?" tanya Rido sinis.
"Aku nungguin Mas," sahut Airin dengan ciri khas manjanya.
"Untuk apa?"
Mata Rido terbelalak, "Apa aku tidak salah dengar, Airin? Bukankah Kau yang pergi meninggalkan anakmu itu..."
"Betul itu, Bang. Jangan dengarkan omong kosong kak Airin ini," timpal Resti pula. Ya, aku dan Resti memang sedang duduk di teras seraya melihat si kecil Abella bermain dengan kakak dan abang-abangnya. Sedangkan emak di halaman belakang, biasalah sedang memberi makan ayam-ayam peliharaannya.
"Mas... coba bayangkan, apa Mas nggak kasihan melihat anak kita harus di urus oleh ibu tiri."
"Maksud Kau apa, Airin!" teriak emak. Kami serentak menoleh, emak terlihat begitu marah.
"Iya, Mak. Bukankah di mana-mana ibu tiri itu jahat," sahut Airin santai.
__ADS_1
Emak geleng-geleng kepala mendengar ucapan mantan menantunya itu.
"Rido! Tolong usir Airin, bisa-bisa darah tinggi ku kumat karena melihat Airin lama-lama di sini."
"Baik, Mak." Rido mengangguk seraya menarik tangan Airin.
"Tunggu, Mas...aku tak mau pergi, aku mau berubah Mas. Ayo kita kembali seperti dulu lagi,' ucap Airin memelas. Airin pun memberontak, berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Rido.
"Tunggu apa lagi Rido, ayo usir Airin kalau tidak panggil saja polisi. Bukankah Airin dulu pernah berbuat kriminal terhadapku."
Spontan Airin mematung mendengar ucapan emak barusan, air matanya meleleh. Kemudian ia berjalan perlahan ke arah Raffa.
"Afa... tolong mama, Nak. Bilang sama papa dan nenek agar tak mengusir mama. Mama masih mau di sini bersama dengan Afa." seolah tak putus asa, kali ini Airin menggunakan Raffa untuk memuluskan aksinya.
Raffa pun terlihat kebingungan, dia menatap papanya lalu neneknya, Resti dan terakhir bocah tampan itu menatap mamanya lama sekali.
"Ayo Sayang, bilang kalau Afa mau mama bukan calon bunda baru itu..."
"Airin! Jangan Kau pengaruhi Raffa dengan akal bulus mu itu," bentak Rido.
Raffa menggeleng, kemudian berlari ke arahku.
"Tante, bilang sama mama kalau Afa sayang sama bunda Santi, bunda Santi baik setiap bertemu selalu ngajarin Afa mengaji, nggak seperti mama yang selalu pergi ninggalin Afa."
Air mataku seketika menetes mendengar ucapan anak tak berdosa ini. Bahkan anak sekecil ini sudah bisa merasakan mana orang yang benar-benar baik dan tulus.
__ADS_1
"Ayo Tante, suruh mama pergi, Afa takut..." lirih Raffa pula, dan Airin seketika itu juga ia pun terduduk lemas mendengar penolakan dari anak kandungnya itu.