
Aku dan Rido pun pamit pada Santi. Di sepanjang perjalanan Rido hanya terdiam dan fokus mengendarai sepeda motornya saja. Berbeda dengan sebelum kami pergi tadi, duda keren itu tadi terlihat sangat gelisah.
"Oi...Om, jangan seperti orang bingung gitu dong, kalau belum siap. Ya sudah nggak usah di paksakan," ucapku saat kami baru saja sampai di rumah emak.
"Bukan begitu, Kak..."
"Terus kenapa?" tanyaku kepada adik iparku itu.
"Aku hanya tak menyangka tanggapan Santi seperti itu," jawab Rido pelan dan terlihat masih seperti orang kebingungan.
Aku terkekeh, "Yang harus dilakukan sekarang adalah tunjukkan keseriusan Om, kalau Om itu benar-benar nggak main-main..."
"Aku serius, Kak. Tapi..."
"Apa?...kalau memang serius, ayo buruan di lamar. Ntar keduluan orang lain, nyesal lagi."
"Iya...Kak, iyaaa... tapi, bantuin ngomong sama emak ya," ucap Rido dengan raut wajah memelas.
Aku mengacungkan jempolku seraya tersenyum.
"Ada yang mau lamar-lamaran nih?"
Baru saja kami hendak masuk rumah, kami di kejutkan oleh suara Resti di balik daun pintu.
"Wah... ada Dedek tantik, kapan datang," ucapku seraya berjalan ke arah emak yang sedang duduk memangku bayi Resti. Ya, Resti telah melahirkan seorang bayi perempuan cantik, yang sekarang berumur enam bulan.
"Baruu...saja, Bang Iam," jawab emak, "Abang siih perginya lama banget, kemana aja?" ucap emak seolah-olah bayinya Resti yang berbicara.
"Tadi abang Ilham di ajak Om Rido pergi jalan-jalan sebentar, Dek, lihat-lihat pemandangan bagus," jawabku seraya mengambil alih bayi cantik yang diberi nama Abella itu. Dan menciumi berulang kali, begitu juga dengan Ilham anak bungsuku itu tampak begitu menyayangi adik sepupunya ini.
Rido tersipu-sipu mendengar ucapanku, lalu ia pun duduk di sebelah emak seraya memeluk Raffa yang sedari tadi asyik dengan tabletnya.
"Ayo jelaskan, tadi Abang mau melamar siapa," ucap Resti dengan wajah penasaran.
"Melamar? Nggak ada, Kau salah dengar kali..."
"Emak juga dengar kok." mata Rido terbelalak, mungkin tak menyangka kalau tadi emak juga mendengar pembicaraan kami.
Rido melihat ke arahku, seakan mengisyaratkan agar aku yang menjelaskan semua.
__ADS_1
"Begini, Mak..." ucapku seraya menarik napas panjang. Terlihat emak dan Resti seperti tak sabaran untuk mendengar ceritaku.
"Rido, akhir-akhir ini sedang menyukai seorang gadis."
Resti beralih menatap abang kandungnya itu, "Siapa orangnya, Bang?" tanya Resti dengan antusiasnya.
Rido senyum-senyum, tapi tak juga menyebutkan nama wanita yang membuatnya jatuh cinta itu.
"Orangnya adalah... Santi."
"Santi?..." tanya emak heran, raut wajah ibu mertuaku itu seketika berubah.
"Santi, adik sepupunya Kakak?" tanya Resti padaku, aku mengangguk.
"Kalau aku sih... oke-oke saja, Santi orangnya santun..."
"Mak..." tiba-tiba Rido bersimpuh di pangkuan emak, "Tolong pinangkan Sinta untukku," lanjut Rido lagi, ia merengek seperti anak kecil yang minta di belikan permen.
"Tapi, Do... Santi..." ucapan emak terhenti.
"Tapi kenapa, Mak. Santi itu gadis yang baik..."
Mata Rido terbelalak mendengar ucapan emak, Rido seakan tak percaya kalau emak berbicara seperti itu. Aku dan Resti pun terkekeh melihat ekspresi Rido, lucu sekali.
________________________
Hari ini, pagi-pagi sekali kami semua sudah rapi, karena hari ini akan ada acara penting bagi keluarga ini. Yaitu, kami akan pergi melamar Santi untuk Rido. Tentu saja sebelumnya sudah aku konfirmasi dulu pada orang tua Santi yang tak lain adalah bibi dan pamanku sendiri.
Semua sudah siap dan rapi, sembari menunggu mobil satunya lagi di teras rumah emak. Karena di rumah ini hanya ada dua mobil, yaitu mobil bapak dan mobil suami Resti. Jelas tak muat karena kami keluarga besar, jadi bapak berinisiatif menyewa sebuah mobil lagi. Karena yang pergi nanti bukan hanya keluarga besar kami, juga ada pak RT dan keluarga dekat lainnya.
Sebuah mobil minibus berhenti di halaman rumah emak, mungkin itu mobil yang disewa bapak, lumayan besar juga.
Tapi, semua orang terkejut saat pintu belakang mobil itu terbuka, dan turun seorang perempuan. Airin? Ada keperluan apa dia datang ke sini.
"Afa!..." teriak Airin seraya memeluk Raffa, "Mama... kangen, Nak," lirih Airin. Tapi, bocah ganteng itu menanggapi pelukan mamanya dengan datar.
"Heh! Airin....mau apa Kau datang kemari," ucap emak seraya berbisik.
"Aku mau ketemu anakku, Mak. Memang nggak boleh?"
__ADS_1
"Siapa yang bilang nggak boleh," sahut emak sinis, "Hanya saja Kau datangnya di waktu yang tidak tepat."
"Tidak tepat, maksudnya apa, Mak?" tanya Airin heran, dan mengedarkan pandangannya ke semua orang.
"Kalian semua pada rapi, mau kemana?" tanya Airin pula, mungkin dia baru menyadari kalau kami akan bersiap-siap pergi.
"Bukan urusanmu," jawab emak masih dengan nada sinisnya.
"Afa mau kemana, Nak. Kok dandannya ganteng sekali?" seolah tak putus asa mencari tahu, Airin pun bertanya kepada Raffa.
"Kita semua mau ke rumah tante Santi, Ma."
"Tante Santi itu siapa, Nak?" tanya Airin lagi.
"Kata papa, tante Santi itu calon bundaku."
Seketika wajah Airin syok mendengar ucapan anaknya, ia beralih menatap Rido lama sekali, mungkin meminta penjelasan.
"Mas... yang di ucapkan anak kita itu tidak benarkan," ucap Airin seraya geleng-geleng kepala dan berjalan ke arah mantan suaminya itu.
"Aku ke sini mau minta maaf, Mas. Aku ingin kita seperti dulu lagi," lirih Airin pula. Ia jatuh tersungkur di kaki Rido. Rido bergeming, wajah tampan itu terlihat kebingungan.
"Aku minta maaf, Mas...aku yakin masih ada cinta untukku di hati Mas," ucap Airin sambil terisak memeluk kaki Rido.
"Airin, apa-apaan Kau!" bentak emak seraya menarik tubuh Airin yang memeluk erat kaki Rido.
"Jangan dengarkan wanita tak tahu di untung ini, Do. Ingat hari ini Kau akan melamar Santi..."
Ucapan emak terhenti karena Rido mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar emak diam. Aku dengan sigap berjalan ke arah emak, dan menepuk-nepuk pundaknya. Mudah-mudahan emosi emak bisa redam.
"Dek," ucap Rido dengan lembut seraya mengangkat tubuh Airin. Airin bangkit seraya menyeka air matanya, dan Airin pun menatap Rido penuh dengan harap.
"Semua benar, di hatiku selalu ada cinta untukmu..." ucap Rido terdengar lirih. Emak geleng-geleng kepala, napas emak tersengal-sengal menandakan kalau ia sedang emosi. Begitu juga dengan Resti raut wajah terlihat sedang menahan amarah.
"Tapi, itu dulu sebelum aku sadar, kalau hanya jadi budak cintamu." kali ini Airin yang geleng-geleng kepala, ia seolah-olah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Pergilah, Dek. Jangan ganggu kehidupanku lagi, karena setelah ini ada wanita yang lebih pantas ku perjuangkan daripada dirimu..."
Airin terduduk lemas mendengar ucapan Rido barusan. Seiring dengan itu mobil sewaan bapak datang, dan kami semua masuk ke dalam mobil. Air mata Airin bercucuran mengiringi kepergian kami, tapi itu semua tak membuat langkah Rido terhenti. Dia mantap menatap ke depan, karena di sana ada sang gadis pujaan yang sedang menantinya.
__ADS_1