Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
apakah ini sandiwara Airin lagi?


__ADS_3

Hari ini, hari minggu kami semua berkumpul di rumah emak, kami masak tumpeng bersama. Karena hari ini ulang tahun emak, tidak ada salahnya kami anak-anaknya memberi sedikit kejutan untuknya.


Potong tumpeng sudah selesai, makan bersama pun juga sudah. Emak dan bapak terlihat begitu bahagia, bermain bersama ketujuh cucu-cucunya di halaman belakang. Emak dan bapak tak henti-hentinya tersenyum melihat tingkah polah cucu-cucunya itu.


Santi dan Resti membereskan dapur. Sedangkan aku menyapu seluruh rumah, karena rumah sudah seperti kapal pecah, karena ulah dari anak-anak kami.


'Drett...drett'


'Dret...drett...'


Berulang kali ponsel milik Rido bergetar, ponsel itu tergeletak di atas meja ruang tamu. Sedangkan Rido mengobrol di teras bersama bang Rozi dan suami Resti.


Aku ambil ponsel itu, dan melihat nama yang memanggil. Ternyata mama Airin yang berulang kali menghubungi Rido.


"Om, dari tadi hpnya berbunyi," ucapku seraya menyerahkan ponsel itu pada Rido.


Rido pun menyambut ponselnya dari tanganku, dan Rido pun mengusap-usap benda pipih itu. Mungkin sedang memeriksa siapa yang menghubunginya barusan. Bukannya menghubungi balik orang yang menelponnya, malahan Rido menonaktifkan dan memasukkan ponsel itu ke saku bajunya.


"Siapa, Do?" tanya bang Rozi.


"Mama Airin, Bang," jawab Rido.


"Kok nggak di hubungi balik?" tanya suamiku lagi.


"Nggak apa-apa, Bang. Malas aja," sahut Rido datar.


"Ada perlu apalagi ya, mereka menghubungi, Bang?" tanya suami Resti pula.


"Nggak tahulah, Fer. Tadi dia bilang Airin masuk rumah sakit. Ah...palingan sandiwara lagi," jawab Rido pelan.


"Mana tahu kali ini betulan, Om," ucapku menimpali pembicaraan tiga orang lelaki tampan itu.


"Bagaimana ya, Kak. Aku capek dengan sikap Airin, dengan segala kebohongannya. Lagian, dia masuk rumah sakit kek, mau ngapain aja kek, bukan urusanku juga 'kan?" sahut adik iparku itu, dari cara dia berbicara tampak sekali kalau dia sangat kecewa dengan mantan istrinya itu.


Aku mengangguk pelan, tak berani berkomentar apapun lagi. Karena yang dikatakan Rido itu ada benarnya juga.


__________________________


POV Rido


'Drett... drett'


Aku tersentak bangun mendengar ponselku bergetar di atas nakas. Ku ambil benda pipih itu, di layarnya tertera nama mama mantan mertuaku.


Ku angkat panggilan telpon itu dengan malas. Mau apalagi mama Airin menghubungiku.

__ADS_1


"Rido, tolong..." ucap mama Airin dengan cepat.


"Iya, Ma. Ada apa?"


"Airin, Do... Airin, Do," ucapnya lagi, terdengar kalut.


"Iya, Ma. Airin kenapa?" tanyaku pula.


"Airin masuk rumah sakit, dia..."


'Tut...tut...tut'


Panggilan itu terputus, aku tak tahu penyebabnya dan aku pun tak berniat untuk balik menghubunginya. Entahlah, mungkin karena terlalu sering di bohongi oleh Airin, jadi sangat sulit aku mempercayainya.


Ku lirik jam di layar ponselku, pukul empat pagi. Belum subuh, batinku.


Raisa, gadis mungilku masih tertidur pulas di sampingku. Sedangkan bundanya, sudah tak ada di tempat tidurnya.


Aroma makanan menusuk ke indera penciumanku. Ya, begitulah istriku selalu menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum masuk waktu subuh, karena siangnya nanti dia harus pergi mengajar, sudah menjadi kebiasaannya seperti itu, mengerjakan pekerjaan sebelum subuh, walau hari minggu seperti saat ini, Santi tetap melakukan rutinitas seperti itu juga.


Hampir setiap malam dia membangunkan tepat jam setengah tiga pagi untuk menunaikan solat malam, setelah itu dia langsung berkutat dengan urusan dapur, sedangkan aku kembali tertidur seraya memeluk putri kecil kami.


Karena mataku tak mau lagi di pejamkan. Aku pun bangkit dan ke dapur untuk menengok istriku.


"Bunda masak apa?" tanyaku seraya memeluk permaisuriku dari belakang.


"Iya, Sayang. Bau masakan mu yang membangunkan," ucapku lagi seraya mencium tengkuknya.


Istriku menggelinjang, "Udah... Bang," ucapnya manja seraya berusaha melepaskan pelukanku yang melingkar di pinggangnya.


Aku pun merenggangkan pelukanku seraya membalikkan badan Santi menghadap padaku.


"Terima kasih ya, Dek?" ucapku pelan.


"Terima kasih untuk apa, Bang?..."


"Terima kasih telah menjadi penyempurna hidupku, telah menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya, menyayangi keluargaku" jawabku dengan tulus.


Santi tersenyum seraya mengangguk, dan aku pun langsung membawanya ke dalam pelukanku. Damai sekali rasanya.


"Ohya, Bang. Hari ini ulang tahun emak," ucap Santi seraya melepaskan diri dari pelukanku, "Kak Yati ngajak kita masak tumpeng bersama di rumah emak nanti."


"Bagus itu, abang setuju," ucapku seraya tersenyum.


"Iya, Bang. Resti juga mau pulang," ucap wanita manis di hadapanku itu.

__ADS_1


"Jadi, kita kumpul-kumpul nanti, Dek?"


Santi mengangguk.


"Wah... pasti seru tuh, apalagi menunya tumpeng, kak Yati paling jago membuatnya."


"Iya, Bang. Kalau soal memasak kak Yati nggak usah diragukan lagi," ucapnya seraya tersenyum manis. Ya Tuhan, betapa beruntungnya aku berjodoh dengan wanita manis ini.


"Dek..." panggilku lagi dengan pelan.


Santi yang sedang memindahkan masakannya dari wajan ke mangkuk pun menoleh kepadaku.


"Iya... Bang," sahutnya dengan lembut.


"Tadi, abang terbangun karena mama Airin yang menelpon," ucapku lagi, entah mengapa aku tak bisa berbohong pada istriku tentang apapun.


"Mamanya...mbak Airin?" tanya Santi heran.


"Iya... Dek," sahutku seraya mengangguk.


"Mau apa dia, Bang?" tanyanya lagi.


"Dia...bilang Airin masuk rumah sakit."


"Masuk rumah sakit? Mbak Airin sakit apa, Bang?" tanya istriku lagi, dia terlihat kaget.


"Nggak tahu, Dek..."


"Loh...kok bisa nggak tahu, Bang. Bukankah tadi Abang berbicara dengan mamanya mbak Airin."


"Iya, Dek. Tapi, pas mama Airin mau bercerita tiba-tiba sambungannya teleponnya terputus," jelasku pada Santi.


"Ya... telepon balik lah, Bang..."


"Malas, Dek. Abang takutnya nanti di bohongi lagi oleh Airin lagi, jangan-jangan ini semua hanya sandiwara Airin..."


"Ya... nggak bisa begitu, Bang," ucap Santi seraya pergi dari hadapanku. Beberapa saat kemudian dia datang lagi dengan ponselku di tangannya.


Istriku itu mengusap-usap layar pipih itu, kemudian meletakkan ponsel itu di telinganya.


"Nggak aktif, Bang," ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.


"Sudah abang bilang tadi, Dek. Ini pasti sandiwara Airin lagi."


Santi menarik napas panjang, lalu dia menyerahkan ponsel itu kepadaku. Setelah itu dia kembali berkutat dengan pekerjaannya yang belum selesai tadi.

__ADS_1


__________________


__ADS_2