
"Rin, Airin Kau kenapa?"
Aku menepuk-nepuk pipi putih mulus itu, karena tiba-tiba saja ia terkulai lemah di sisiku. Airin pingsan? Tanpa menunggu lama aku pun segera memangkunya.
"Alah... palingan cuma akting itu, Kak," ucap Resti santai. Aku menggelengkan kepala, memang terlihat wajah Airin begitu pucat.
"Ini benerin, Res," ucapku pada Resti, "Rido, tolong angkat Resti ke dalam," pintaku pada Rido.
"Kakak yakin, kalau Airin ini nggak lagi akting saja," sahut Rido tak kalah santainya seperti Resti tadi.
"Kalian punya hati nggak sih, ada orang pingsan kok Kalian masih saja santai," ucapku dengan lantang, karena tak seorang pun yang berniat membantu Airin. Iya, aku tahu Airin jahat dan licik, tapi apa iya kita tega membiarkannya tergeletak pingsan seperti ini.
"Pa, tolong mama..." rengek Raffa, bocah tampan itu terlihat khawatir melihat keadaan mamanya.
"Rido, Rozi...ayo angkat Airin ke dalam. Kita ini punya hati, tak mungkin membiarkan ada orang pingsan begitu saja di teras rumah kita, mana sebentar lagi mau magrib."
Bang Rozi dan Rido manut dengan perintah emak, mereka berdua mengangkat Airin masuk ke dalam rumah.
"Mudah-mudahan kali ini kita nggak di tipu lagi oleh mak lampir itu ya, Kak," ucap Resti seraya berjalan di belakangku.
Aku mengangguk, aku pun berharap demikian. Mudah-mudahan kali ini Airin tak bersandiwara lagi, demi mencapai tujuannya.
________________________
"Rin, bangun... Rin," ucapku seraya menepuk-nepuk pipi wanita cantik ini, tak lupa ku arahkan minyak angin ke indera penciuman Airin.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Airin pun membuka matanya pelan, "Aku kenapa?" tanya Airin dengan lemahnya.
"Eh...dia bertanya," gerutu Resti seraya tersenyum sinis ke arah Airin.
"Kau tadi semaput, nyusahin orang saja," lanjut Resti lagi dengan sewotnya.
"Res, sudah," ucapku seraya menggelengkan kepala, memang hanya aku dan Resti yang berada di Airin saat ini, yang lain sedang beristirahat di kamar masing-masing. Kalau bang Rozi, ia pulang bersama-sama anak-anak.
"Apa yang Kau rasakan Airin?" aku beralih berbicara pada Airin.
Airin menggeleng, "A-aku lapar, Kak," ucap Airin terputus-putus.
"Kau lapar?"
Airin mengangguk cepat.
Airin kembali menggeleng lemah, "Bahkan aku belum makan dari kemarin, Kak. Aku terlalu bersemangat untuk ke sini, untuk bertemu Raffa dan mas Rido. Tapi, kenyataan ini membuatku hancur," ucap Airin pelan, matanya pun kembali berkaca-kaca.
"Baik, tunggu sebentar. Aku ambilkan makanan dulu."
Sesaat kemudian aku keluar, membawa sepiring nasi dan lauknya. Airin pun menyambar piring itu dari tanganku dan memakannya dengan cepat.
"Pelan-pelan woi, kayak nggak pernah makan aja," sewot Resti saat melihat Airin makan dengan kalapnya. Airin tak mempedulikan ucapan Resti, ia terus saja menyantap makanan di piring itu hingga tandas.
"Sudah siuman Kau, Airin," ucap emak saat baru saja keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Sudah, Mak," sahut Resti cepat.
"Oo... baguslah, berarti Kau bisa pergi dari sini sekarang juga," ucap emak pelan, tapi dengan tatapan yang tajam ke arah Airin.
Tiba-tiba Airin menangis, "Mak, izinkan aku menginap malam ini di sini. Dengan apa aku akan pulang, badanku juga masih lemas," ucap Airin mengiba.
"Bukan urusan kami lah, kau perginya mau naik apa. Mau merangkak, mau jalan kaki terserah, yang penting Kau angkat kaki dari sini malam ini," sela Resti pula.
"Mak, tolong aku..." lirih Airin seraya menangkupkan kedua tangannya.
Emak terlihat kebingungan, ia menatapku seolah meminta pendapatku. Mungkin ada rasa tak tega emak melihat Airin yang masih lemas itu.
Aku mengangguk pelan, mengiyakan untuk Airin menginap di sini malam ini.
"Baik Airin, Kau boleh tidur di sini, dengan syarat pagi-pagi sekali Kau sudah pergi dari rumah ini," ucap emak tegas, "Dan... Kau hanya boleh tidur di ruang ini, itu pun Yati dan aku yang akan menemanimu."
Airin mengangguk lemah, pasrah dengan keputusan emak.
"Kalau Airin tidur di sini malam ini, aku yang akan pergi." tiba-tiba Rido menimpali obrolan kami, dan ucapan Rido itu sukses membuat wajah Airin pucat seketika.
Rido pun melenggang seperti hendak keluar rumah.
"Mau kemana Kau, Do?" tanya emak.
"Tidur di rumah bang Rozi," jawab Rido dengan dengan santai.
__ADS_1
Airin kembali tertunduk lemah, dari matanya tergurat kekecewaan atas sikap Rido. Kasihan sih, tapi Airin memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang-orang yang pernah di kecewakan nya itu.