Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
Rido menceraikan Airin


__ADS_3

Satu Minggu Rido pergi mencari Airin, tak memberi kabar dan tak bisa di hubungi. Semua orang di sini cemas menunggu kepulangannya, apalagi Raffa bocah itu selalu menanyakan keberadaan papa dan mamanya.


"Rido, Kau kenapa?" tanyaku sesaat setelah Rido turun dari sepeda motor yang ia tumpangi-nya.


Aku letakkan sapu lidi di tanganku dan segera menghampiri adik iparku itu. Wajah tampan itu terlihat pucat dan penampilannya pun acak-acakan.


Rido tak menjawab ucapanku, dia hanya menyerahkan tas ransel yang tadi di sandangnya kepadaku. Sepertinya Rido lagi tak sehat.


"Mak... maafkan Rido..." lirih Rido seraya berhamburan memelukku emak.


"Kau kenapa, Nak?" tanya emak seraya memegang kening Rido.


"Kau sakit?"


Rido menggeleng, "Selama ini aku tak pernah mendengar ucapan Emak. Airin...dia..."


"Ulah apa lagi yang dibuat oleh istrimu itu."


"A-airin selingkuh, Mak," ucap Rido sembari tertunduk.


"Kurang ajar," ucap emak dengan penuh emosi.


"Aku sudah menalak Airin, Mak..."


"Yang Kau lakukan itu sudah benar, Nak," ucap emak lembut, "Wanita seperti Airin tak pantas Kau perjuangkan."


"Aku kasihan sama Raffa, Mak." Rido menarik napas panjang, mungkin berusaha menetralkan perasaannya.


"Nggak apa-apa, Nak. Yakinlah Raffa tak akan kekurangan kasih sayang di sini."


"Kak..."


Rido beralih padaku yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Aku mengangguk seraya duduk di dekat Rido dan emak.


"Maafkan aku yang selama ini ikut-ikutan membenci Kakak," ucap Rido tulus.


Aku kembali mengangguk, "Iya, Om. Aku juga minta maaf dan mudah-mudahan Om dan Raffa bisa melewati ini dengan ikhlas."


"Iya, Kak. Terima kasih."


Rido akhirnya menceritakan apa yang ia alami selama seminggu ia pergi mencari Airin.


Rido menginap di rumah temannya. Dari temannya itu Rido mengetahui kalau Airin selingkuh, dan di bantu oleh temannya itu juga Rido berusaha mencari tahu tentang perselingkuhan Airin dan juga mencari bukti-bukti untuk menggugat Airin nanti.


Berhari-hari lamanya Rido menguntit Airin, mencari bukti perselingkuhan istrinya itu. Hingga dua hari yang lalu Rido melihat Airin, dia membawa lelaki selingkuhannya itu pulang ke rumah mamanya. Berarti selama ini mamanya Airin mengetahui perselingkuhan anaknya itu dengan lelaki yang perawakannya sepantaran dengan suaminya, yaitu papa Airin.


Karena sudah tak tahan lagi melihat apa yang di depan matanya, Rido pun melabrak istrinya itu dan menjatuhkan talak saat itu juga di hadapan mama dan lelaki selingkuhan istrinya itu.


Rido hancur, tersakiti, di khianati. Wanita yang sangat ia kasihi tega berbuat serendah itu. Mudah-mudahan Rido bisa melewati semua ini dengan ikhlas. Yakinlah, semua pasti ada hikmahnya.


____________________


Perlahan memang, hari-hari demi hari Rido bangkit dari keterpurukannya. Sekarang kehidupannya lebih tertata, hari-harinya diisi dengan mengurusi kebun setelah itu fokus kepada Raffa. Berulang kali emak meminta Rido mencari ibu sambung untuk Raffa, tapi Rido selalu bilang belum saatnya. Bahkan beberapa kali emak ingin menjodohkan Rido dengan gadis-gadis di kampung ini. Tapi Rido selalu menolaknya dengan lembut.


Sore ini kami sedang berkumpul di teras rumah emak. Ada bapak, Rido, bang Rozi, emak dan anak-anak, tak ketinggalan adik iparku yang paling cerewet Resti. Resti sementara waktu memang tinggal di sini, karena ia ingin melahirkan di sini, dekat dengan keluarganya.


Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti, dari dalam mobil turun seorang wanita. Sepertinya aku mengenal wanita itu, aku pun berdiri untuk memastikan kalau aku mengenal wanita yang turun dari mobil itu.


"Assalamualaikum." wanita berjilbab ungu itu mengucapkan salam, suaranya terdengar lembut dan santun.


"Santi?..." iya itu Santi adik sepupuku, anak dari adik ibuku. Walau sudah lama tak bertemu, tapi aku masih mengingat wajahnya yang manis itu.


"Iya, Kak. Ini aku Santi," sahutnya seraya menyalamiku dengan santun.


"Ayo masuk, itu keluarga Kakak. Dan itu abangmu, apa Kamu masih ingat," ucapku seraya menunjuk kepada suamiku.

__ADS_1


"Masih ingat dong, Kak," ucap Santi seraya menangkupkan kedua tangannya ke arah bang Rozi, khas salaman seorang akhwat.


"Aku nggak lama, Kak. Kasihan pak sopir itu nunggu lama," ucap Santi dengan lembut dan diiringi dengan senyumannya yang manis.


"Ya sudah, Kamu mau kemana sih Dek?"


"Aku sudah lulus kuliah, Kak. Dan sekarang aku akan mengajar di kampung ini."


"Wah... asyik dong, setiap hari bisa ketemu Kakak."


"Iya, Kak. Tadi aku singgah di rumah kak Minah, aturan mau ke rumah Kakak juga. Tapi kata kak Minah, Kakak di sini, ya sudah deh akhirnya aku ke sini."


Aku mengangguk seraya tersenyum kagum, tak menyangka bisa bertemu dengan Santi hari ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi adik sepupuku ini akan tinggal di sini sekarang. Ya, Santi akan mengajar di kampung ini sebagai guru mata pelajaran agama Islam, memang adik sepupuku itu dulu sekolahnya di pesantren.


Setelah menyapa dan menyalami kami semua, Santi pun pamit. Dia bilang padaku, kalau dia tinggal di kontrakan dekat SMP tempatnya mengajar. Tak lupa ia meminta agar aku mampir di sana. Ya tentu saja aku mengiyakannya.


"Kak!" panggil Rido, saat aku sedang menunggu bang Rozi menjemputku. Karena tadi suamiku mengantar anak-anak pulang duluan.


"Iya, Om. Ada apa?"


"Aku antar pulang, boleh?" ucap Rido seraya tersenyum penuh arti.


"Boleh dong, tapi kok tumben Om mau mengantar Ilham," ucapku seolah-olah anak bungsuku yang berbicara.


"Ah... Kakak." wajah Rido bersemu merah, pasti ada yang ingin ia sampaikan.


"Ayo...ada apa?" tanyaku seraya meledek Rido.


"A-anu Kak..."


"Anu...apa?" selaku pula, lucu sekali melihat adik iparku ini salah tingkah begitu.


"A-aku ingin berkenalan lebih dekat dengan Santi, boleh?"

__ADS_1


Mataku terbelalak mendengar ucapan Rido, ternyata adik sepupuku tadi yang membuat lelaki tampan ini jadi bertingkah aneh.


Aku tersenyum dan mengangguk dan jawabanku itu membuat wajah Rido tersenyum sumringah.


__ADS_2