
Aku terkejut mendengar ucapan bang Rido, kalau wanita yang berusaha mendekati bang Ferdi itu sepupunya Airin. Aku yakin tak yang kebetulan saja, semua ini pasti ada campur tangan Airin di dalamnya. Awas Kau Airin, suatu saat pasti aku akan buat perhitungan.
Ka tatap bang Ferdi, dari kemarin di tuduh selingkuh, padahal dia tidak melakukan apapun.
"Maafkan aku, Bang..." lirihku seraya menunduk.
"Iya, Dek. Abang juga minta maaf, karena ulah wanita itu membuat Adek tak nyaman."
"Aku yang salah, Bang..."
Bang Ferdi menggeleng, "Nggak, Dek aku yang bodoh, seharusnya dari awal aku sudah curiga kalau wanita bernama Siska itu bukan fatner bisnis yang tepat buat usaha baru kita. Bahkan dia sama sekali tidak mengerti tentang kuliner tradisional."
"Eh, sudah...kok Kalian jadi saling menyalahkan sih," sela bang Rido pula.
"Anggap saja yang terjadi kemarin adalah ujian rumah tangga kalian," tambah kak Yati.
Aku dan Ferdi tersenyum, lalu kami saling berpelukan.
"Percayalah, Dek. Tak akan ada yang bisa menggantikan posisi Kau dan Abella di hati abang," bisik suamiku.
"Iya, Bang aku tahu," sahutku pelan.
Aku dan Abella pun pulang bersama bang Ferdi, aku sengaja tak singgah di rumah emak, karena tak mau emak bertanya-tanya mengapa aku pulang tiba-tiba dan itupun pulangnya ke rumah bang Rozi, bukan ke rumah emak. Ini semua gara-gara Airin, tampaknya dia berusaha menghancurkan rumah tanggaku, awas Kau Airin sudah berani-beraninya mencari gara-gara denganku.
Seminggu aku mencari cara, bagaimana caranya membalas Airin. Pokoknya aku tak akan tinggal diam begini saja, aku hubungi kak Yati, meminta padanya agar menghubungi ku kalau Airin datang menengok Raffa ke rumah bang Rido. Tunggu pembalasan ku Airin.
________________________________
"Hallo, Res. Kakak mau ngasih tahu kalau Airin besok akan datang."
"Besok, Kak?"
"Iya, tadi Airin menelpon ke ponsel Santi ingin berbicara dengan Raffa. Kebetulan Santi lagi main di rumah Kakak."
"Baiklah, Kak. Terima kasih informasinya."
__ADS_1
Setelah dua minggu berlalu akhirnya aku mendapatkan kabar kalau Airin akan datang menengok Raffa. Tanpa menunggu lama, aku pun bersiap-siap pulang ke rumah emak. Tak sabar sekali rasanya ingin bertemu mantan kakak iparku yang cantik itu.
"Bella pulang kok nggak ngasih kabar ke nenek dulu," ucap emak menyambut anakku dengan bahagianya.
"Iya, Nek. Bella rindu sama nenek."
"Ya sudah ayo masuk, tante Santi dan tante Yati juga ada di dalam," ucap emak lagi seraya masuk ke dalam rumah bergandengan dengan Abella, anakku.
Aku pun ikut masuk, kak Yati menatapku lama sekali.
"Rencana apa yang ingin Kau lakukan, Res," bisik kak Yati pelan.
"Kakak lihat aja besok,' sahutku seraya tersenyum.
"Jangan lakukan hal bodoh, Res," ucap kak Yati lagi.
"Tenang saja kakakku sayang, kakak masih meragukan kepintaran adikmu ini."
Kak Yati pun tersenyum mendengar ucapanku. Kita lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan untuk membalas Airin si nenek lampir itu.
__________________________
Benar ternyata, sebelum siang Airin datang. Dia dengan tampang sok kalemnya masuk kedalam rumah abangku. Tak tahan aku dengan mengintip saja dari jendela rumah bang Rozi, aku pun langsung pergi ke rumah bang Rido.
"Hai...kak Airin apa kabar?" sapaku lembut, kak Santi tersenyum manis ke arahku berbeda dengan Airin dia tampak sedikit terkejut dengan kehadiranku.
"Ba-baik Res," jawabnya terbata-bata.
"O... baguslah," sahutku seraya mengangguk.
"Suamimu mana, Kak. Ke kebun?" tanyaku pada kak Santi, ku lirik sekilas pada Airin, mukanya memerah mendengar ucapanku, mungkin dia cemburu dengan kak Santi.
"Bang Rido, ada di belakang Res. Nggak, dia lagi istirahat. Ini 'kan hari minggu."
"Jaga baik-baik suamimu yang ganteng itu, Kak. Sekarang banyak pelakor merajalela, kadang pelakor itu berpura-pura baik pula di hadapan kita, Kak," ucapku seraya melirik ke arah Airin.
__ADS_1
"Mana anakmu, Res?" tanya Airin padaku, basa-basi sekali perempuannya ini.
"Ada, di rumah kak Yati, lagi bermain dengan Rani."
"Oo..."
"Kak," panggilku pada Airin pula.
"Ya... Res," sahut Airin cepat.
"Aku mau tanya, ap Kakak kenal dengan perempuan ini?" tanyaku lagi seraya memperlihatkan foto Siska bersama suamiku.
Seketika wajah Airin pucat, dia menggeleng. Dan kak Santi, ia pun segera membawa Raffa dan Raisa menjauh dari kami. Sepertinya dia sudah tahu rencana ku, mungkin kak Yati yang cerita padanya.
"Tapi, bang Rido bilang ini sepupu Kakak dan juga sangat dekat dengan Kakak?"
Wajah Airin tambah pucat, "O..iya ini Siska, dapat dari mana foto ini?"
"Benar Kakak nggak tahu apa-apa?" tanyaku seraya menatap Airin tajam.
"Maksud Kau apa, Resti?"
Airin melotot tajam ke arahku.
"Maksudku, apa benar kakak nggak tahu bagaimana Siska ini bisa berkenalan dengan suamiku dan pura-pura paham tentang kuliner tradisional, padahal tujuannya ingin merayu suamiku dan menghancurkan rumah tanggaku..."
"Kau menuduhku Resti?" tanya Airin dengan lantang.
"Dengar ya, Kak. Kalau Kau sampai macam-macam denganku dan masih mengirim sepupumu yang janda gatal itu untuk merayu suamiku, aku buat perhitungan denganmu..."
"Heh! Resti! Kau kira aku takut dengan ancamanmu, hah!"
"Oo... Kak Airin tak takut ya," ucapku seraya mengeluarkan ponsel dan menyetel sebuah rekaman video padanya.
Mata Airin terbelalak, "Da-dari mana Kau dapatkan rekaman itu?" tanya Airin terheran-heran, tapi dia berbicara sambil berbisik mungkin takut di dengar oleh orang lain.
__ADS_1
"Eh... Airin! Kau kira, Kau saja yang licik," ucapku seraya tersenyum sinis, "Dan Kau tak perlu tahu di mana aku mendapatkan rekaman laga ini, kalau Kau tak mau aku viralkan, jangan Kau usik-usik lagi ketentraman keluarga kami, kalau perlu enyahlah Kau jauh-jauh dari kehidupan kami."
Airin terhenyak mendengar ucapanku, dia terduduk lemah dengan raut wajah pucat pasi.