Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
POV Airin


__ADS_3

'Drrreettt! Drrrettt!' ponselku bergetar di atas nakas. Baru saja akan rebahan setelah beres-beres rumah mertuaku hari ini.


Aku pun bangkit dengan malasnya, ternyata pesan dari mama. Tanpa menunggu lama aku pun membaca pesan itu.


[Sayang, kirimin mama uang lagi, dong]


Padahal baru saja dua hari yang lalu mama ku kirimkan uang.


[Dua hari yang lalu aku kirim uang satu juta, emang sudah habis, Ma?]


[Sayang uang segitu masih saja di tanyakan] balas mama disertai dengan emoticon menangis.


Memang uang segitu tidak ada artinya bagi mama sebelum papa masuk penjara dulu. Apa yang mama inginkan ia tinggal gesek saja. Sebenarnya kasihan juga mama, dia pasti sangat terkejut dengan kehidupannya yang berubah seratus delapan puluh derajat ini.


[Iya, Ma. Nanti aku usahakan ya]


[Iya, Sayang. Mama tunggu ya] balas mama dengan emoticon love berjejer.


Aku menarik napas dalam-dalam, berpikir bagaimana caranya aku mendapatkan uang untuk mama. Meminta pada mas Rido pun tak mungkin, dia baru saja memberikan uang dua hari yang lalu. Apalagi sekarang mas Rido bekerja di kebun, dengan penghasilan yang tak seberapa dan tak menentu itu.


Setelah berpikir sejenak, aku pun keluar kamar. Tak sengaja aku melihat emak sedang duduk di teras rumah. Tiba-tiba muncul ide cemerlang, akan ku coba meminjam uang pada emak mertuaku itu. Mudah-mudahan berhasil.


"Mak..." panggilku dengan lembut, emak menoleh dengan tatapan sinis. Kesal sekali rasanya mendapatkan respon seperti itu, kalau tidak karena aku sedang butuh. Ingin rasanya aku timpuk kepala orang tua ngeselin ini.


"Mamaku lagi butuh uang, Mak..."


"Terus apa urusannya denganku."


Belum lagi aku selesai bicara, emak sudah menimpalinya dengan sinis. Entah apa yang merasukinya, sehingga setiap hari selalu sinis padaku, terkadang juga marah-marah nggak jelas.


"A...ku boleh minjam uang, Mak," ucapku lagi dengan lembut.


"Uang?... Emang Kau kira aku ini Bank," sahutnya dengan lebih sinis dari tadi.


"Tolong aku, Mak. Kali ini saja..." lirihku setengah memohon.


"Nggak ada," jawab emak singkat. Dasar pelit.


____________________

__ADS_1


Semalaman aku tak nyenyak tidur, selalu terbayang pada mama. Betapa susahnya mamaku saat ini, tinggal sendirian tak punya uang pula.


"Airin!..." teriak emak dari dapur.


Kepalaku tambah nyut-nyutan mendengar teriakkan orang tua sialan itu. Aku pun keluar kamar dengan malasnya.


"Iya, Mak," sahutku dengan lembut.


"Kau belum nyuci piring ya."


Kepalaku yang tadinya nyut-nyutan karena kurang tidur semalaman, kini bertambah sakit mendengar emak pagi-pagi sudah mengoceh.


"Sabar dong, Mak. Baru juga bangun..."


"Dasar pemalas," gerutu emak pula.


"Bisa nggak sih, emak itu berbicara sedikit mengenakan..."


"Bisa, asalkan Kau pergi dari rumah ini," ucap emak seraya pergi meninggalkan ku sendirian di dapur.


Saking kesalnya, tak sengaja aku menjatuhkan gelas kesayangan emak.


"Nggak sengaja, Mak," sahutku dengan santainya.


"Minggir," ucap emak lagi. Matanya melotot, seakan biji matanya mau lepas dari kelopaknya.


"Lama-lama bisa habis peralatan di rumah ini," tambahnya lagi seraya mengambil alih cucian piring-piring ini.


Aku tersenyum, akhirnya terlepas juga aku dari pekerjaan rumah menyebalkan itu.


"Airin!" teriaknya lagi. Apa lagi maunya nenek peot itu.


"Iya, Mak," sahutku dengan malas.


"Sapu semua rumah, habis itu pel," perintahnya padaku. Sungguh sangat menyebalkan.


Aku mengangguk lalu mengambil sapu dengan malasnya.


Pekerjaan rumah sudah selesai, waktunya aku bersantai. Saat melewati kamar emak, pintu kamar itu terbuka. Tapi, sepertinya emak lagi tak ada di dalamnya. Entahlah, seperti ada sebuah suara yang memerintahku untuk masuk ke dalam kamar itu.

__ADS_1


Saat aku telah berada dalam kamar emak, mataku tertuju ke atas nakas. Sebuah dompet wanita terlihat begitu tebal, pasti itu kepunyaan emak. Aku ambil dompet itu lalu kubuka. Isinya benar-benar membuat ku takjub, uang berwarna merah muda memenuhi dompet milik emak ini. Dan karena inilah aku tak bisa tidur semalaman.


"Apa yang Kau lakukan di kamarku Airin!"


Aku terkejut mendengar bentakan emak, uang yang telah aku keluarkan separuh dari dompet emak pun buru-buru kumasukkan ke saku celanaku.


"Ng-nggak ada apa-apa, Mak."


"Kau apakan dompetku," ucapnya lagi seraya merebut dompet yang masih di tanganku.


"A-aku nggak ngapa-ngapain, Mak," elakku.


"Ini apa?" emak meraba-raba saku celanaku dan mengeluarkan isinya.


"Kau mencuri uangku Airin?" tanya emak seraya melotot tajam.


Aku menggelengkan kepala, aku ketakutan karena kepergok oleh emak.


"Awas Kau ya Airin, aku laporkan Kau ke polisi."


"Tidak, Mak. Jangan..." lirihku seraya menarik tangan mertuaku itu.


"Tidak bisa Airin, Kau sudah keterlaluan!" bentak emak pula. Ia menampik tanganku dengan kasar.


"Mak, jangan..."


Aku kembali menarik tangan emak, tapi naasnya aku menariknya terlalu kencang. Sehingga emak terjatuh ke belakang dan langsung tak sadarkan diri.


"Kau apakan istriku, Airin!" teriak bapak seraya mendorong tubuhku. Entah kapan dia datangnya, setahuku tadi dia belum pulang dari kebun, begitu juga dengan mas Rido.


"Ada apa, Pak?" Mas Rido pun masuk juga ke kamar emak. Mungkin terdengar teriakan bapak tadi.


"Lihat emakmu, ini ulah Airin," sahut bapak seraya menunjuk ke arahku.


Seketika mas Rido menatapku tajam.


"Ada apa lagi ini, Dek?" tanya mas Rido padaku.


"A-aku nggak sengaja, Bang."

__ADS_1


__ADS_2