
Dia, tanpa disadari, kesederhanaannya mampu membuatku terkagum-kagum. Tutur katanya yang santun membuat hatiku luluh. Apalagi saat ia tersenyum, seakan meruntuhkan benteng hati yang tak ingin ku buka lagi untuk mahluk yang disebut wanita. Dia, apakah dia tahu segala kesederhanaannya itu, sangat membuatku terpesona.
Hatiku girang, hari ini aku mendapatkan nomor ponsel gadis itu. Gadis manis dengan segala kesederhanaannya yang telah mencuri hatiku pada pandangan pertama itu.
[Assalamualaikum, Dek Santi]
[Ini aku Rido, adiknya bang Rozi]
[Maaf aku menganggu, aku cuma ingin bersilaturahmi saja dengan Dek Santi]
malam telah larut tapi mata tak kunjung terpejam. Senyuman yang menampilkan ceruk di pipi gadis sederhana itu selalu menghantui pikiranku. Ku beranikan untuk mengirimkannya pesan melalui aplikasi berwarna hijau itu.
Satu jam, dua jam tak kunjung di balas. Berulang kali aku mengecek aplikasi hijau itu, tapi tak jua centangnya berubah berwarna biru. Mungkin sang pemilik senyuman manis itu sudah tertidur, karena memang hari sudah larut malam.
'Ting!'
'Ting!'
Aku terkesiap bangun, karena mendengar dentingan dari gawaiku. Sepertinya ada pesan masuk.
Tadi malam, entah berapa kali aku bolak-balik membuka aplikasi hijau itu, hingga tak terasa aku pun terlelap dengan ponsel tergeletak di sampingku.
Segera ku usap layar pipih itu, di layar utama menunjukkan hampir jam lima lewat tiga puluh menit. Ya, Tuhan, hampir saja aku telat menunaikan kewajiban dua raka'at ku. Ku urungkan membuka pesan yang masuk tadi, aku lebih memilih meletakkan benda pipih itu dan menunaikan kewajiban ku pada sang khalik.
[Wa Alaikum salam, Bang]
[Masya Allah, senang sekali dapat bersilaturahmi dengan Abang]
[Jangan lupa solat subuh ya, Bang]
[Emot tersenyum]
__ADS_1
Sesudah solat subuh aku pun langsung membuka pesan yang masuk ke gawaiku tadi. Tak ayal, aku senyum-senyum sendiri membaca pesan itu. Manis sekali rasanya ada yang mengingatkan aku tentang solat, karena perhatian seperti ini tak pernah ku dapatkan dari mantan istriku dulu.
______________________
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hingga bulan hampir genap setahun. Aku kian dekat dengan gadis bernama Santi itu.
Gadis ini memang lain dari pada yang lain, ia tak pernah mau di ajak bertemu berdua saja, pasti selalu ada orang ketiga saat kami bersama, selalu menolak dengan lembut hadiah yang ku berikan dan yang paling membuatku kagum, ia tak pernah menatap mata lawan jenisnya saat berbicara. Menurutku dia unik, dan segala keunikannya itu membuatku jadi tergila-gila.
[Assalamualaikum, Dek]
[Kita sudah lama kenal, dan rasanya Abang tak mampu memendam ini lebih lama lagi]
[Ku berharap Adek merasakan hal yang sama dengan Abang]
[Abang mencintai Adek, mau kah Adek menjadi pacar Abang]
Rasanya tak tahan lagi aku memendam perasaan ini, padahal tadi siang aku baru saja bertemu dengan Santi. Iya, tentu saja kami tidak bertemu berdua saja, ada kak Yati yang selalu bersama kami sebagai obat nyamuk.
Di pertengahan malam ini ku beranikan diri untuk mengirimkan pesan kepada sang gadis pujaan, mengungkapkan segala yang ada di hatiku. Walau ku tahu pasti dia sudah tidur, dan pesanku tak akan di balas. Tapi biarlah, ada kelegaan tersendiri di hati ini saat rasa ini telah tersampaikan.
[Assalamualaikum, Dek Santi] karena tak tahan lagi aku pun memberanikan diri mengirimkan pesan lagi kepada Santi.
[Sebelumnya Abang minta maaf, kalau ada kata-kata Abang yang membuat Adek tersinggung] ya ampun, mengapa aku jadi se-formal ini. Ya, ini semua karena Santi, menulis pesan saja aku sudah seperti menulis surat izin sakit.
Tak lama centang biru. Dek Santi mengetik, begitulah bacaannya di aplikasi hijau ini.
[Wa Alaikum salam, Bang]
[Masya Allah, nggak Bang, nggak sama sekali] isi pesannya lagi di sertai emot tersenyum.
[Tapi, mengapa pesan abang hanya di read saja?] tulisku lagi, tak lupa di sertai emot sedih.
__ADS_1
[Maaf, Bang. Santi tak berani menjawabnya]
[Maksudnya?]
[Maaf Bang, setahu Santi di agama kita tidak ada yang namanya pacaran] balas Santi dengan emot dua tangan di tangkupkan.
Aku mengerutkan kening membaca balasan Santi, kemudian aku kembali mengetik.
[Terus abang harus bagaimana, Dek?]
Centang biru tapi tidak di balas. Aku pun kembali mengetik.
[Agar bisa mengenali Adek lebih dekat lagi]
Tapi kali ini hanya centang satu, ku tunggu beberapa saat tapi kunjung juga berubah centang dua. Mungkin Santi lagi offline, eh...tapi tidak, tiba-tiba foto profil Santi menghilangkan. Aku di blok? Ya Tuhan apakah Santi marah padaku?
Aku gelisah, sudah dua hari aku di blokir oleh Santi. Rasa takut menghantui pikiranku, takut kalau cintaku bertepuk sebelah tangan.
Hari ini aku paksakan kak Yati untuk menemaniku berkunjung ke kontrakan Santi, tak begitu jauh sebenarnya. Tapi, aku tahu Santi tak akan mau menemui ku tanpa ada kak Yati bersama kami.
"Dek, Kamu marah pada abang?" tanyaku spontan. Karena kesempatan bertemu seperti ini tak akan datang dua kali. Kak Yati senyum-senyum mendengar apa yang ku ucapkan, dasar obat nyamuk.
Santi menggeleng seraya menunduk.
"Terus mengapa Adek buat abang seperti ini, Adek blok abang..." lirihku.
"Abang hanya ingin mengenal Adek lebih dekat lagi, itu saja nggak berlebihan bukan?"
Santi mengangkat kepalanya, sepertinya ia akan berbicara. Tapi bukan Santi namanya, kalau berbicara menatap mataku. Ia berbicara mengarah pada kak Yati yang duduk di sebelahnya.
"Bang, kalau memang Abang ingin mengenalku lebih dekat lagi, dan Abang tak main-main..." Santi berhenti berbicara, ia menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1
"Temui kedua orang tuaku, utarakan maksud baik Abang ini pada mereka. Jawaban ku sama dengan jawaban ayah ibuku nanti."
Aku terbelalak mendengar ucapan Santi, kak Yati pun senyum-senyum seolah meledekku. Aku bingung sendiri memikirkan maksud dari ucapan Santi. Apakah Santi ingin aku langsung melamarnya?