
Senyum sumringah emak tak henti-hentinya tercipta di wajah keriputnya itu, dia terlihat begitu bahagia bersenda gurau bersama cucu-cucunya, kebetulan Raffa juga ikut bersamanya tadi. Tangannya pun tak henti-hentinya memilah-milah timun yang baru saja kami panen. Ya, emak emang sengaja kami minta hanya di pondok saja, cuaca hari ini panas sebab itu kami tak izinkan ia ikut memanen di kebun.
"Banyak juga ya, Ti," ucapnya padaku saat aku mengantarkan sekeranjang kangkung yang baru di panen. Kebetulan hari ini kami panen mengajak beberapa orang tetangga di sekeliling rumahku, sehingga sebentar saja panen bisa dapat banyak.
"Iya, Mak," sahutku pula. Memang lahan ini cukup luas, wajar saja suamiku bisa menanam bermacam-macam sayuran secara bersamaan. Bang Rozi juga tak menggarap lahan ini sendiri, ada suami kak Minah yang membantunya setiap hari.
Selain cukup luas untuk bertani, tanah ini juga cocok juga untuk membangun rumah karena terletak di pinggir jalan dan juga sudah beberapa rumah warga yang di bangun dekat lahan kami ini.
"Nanti sayuran ini di bawa kemana, Ti?" tanya emak pula.
"Nanti, insyaallah ada yang borong langsung ke sini Mak," jelasku kepada emak mertuaku itu.
Emak mengangguk pertanda ia mengerti, "Sisakan ya Ti, untuk pesta Resti besok."
"Iya, Mak. Yang bagian sana sengaja di sisakan bang Rozi untuk pesta Resti nanti," ucapku seraya menunjuk di bagian samping kiri pondok.
Emak pun kembali tersenyum mendengar penjelasan ku.
"Ti..." panggil emak lagi.
"Iya, Mak," sahutku dengan cepat.
"Moga kedepannya kehidupan kalian lebih baik ya," ucap emak terdengar sangat tulus. Matanya terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
Aku mengangguk, terenyuh rasanya hatiku mendengar ucapan emak tadi. Setelah sekian lama aku jadi menantunya, seingatku baru kali ini emak mendoakan seperti itu.
"Sudah... panggil orang-orang itu, ayok kita makan siang," ucap emak tiba-tiba mengangetkan ku dari lamunan. Dengan cepat aku menuruti perkataan mertuaku itu, memanggil mereka yang sedang panen untuk beristirahat, karena memang sebentar lagi akan masuk waktu shalat Zuhur.
Sesudah shalat ashar kami pun pulang, kami pulang semua menggunakan mobil Ferdi, hanya tinggal bang Rozi dan suami kak Minah saja di kebun, mereka menunggu orang yang akan membeli hasil panen kami tadi tiba.
Saat akan sampai di rumah emak, dari jauh terlihat seperti seorang wanita duduk di teras rumah itu. Mobil semakin mendekat, baru tampak jelas kalau wanita yang duduk itu ternyata Airin. Airin menatap kami dengan tajam.
"Siapa yang ngizinin kalian bawa anakku ke ladang," seru Airin, padahal kami belum juga turun dari mobil.
"Lihat anakku jadi burik," ucap Airin lagi seraya menarik tangan Raffa yang baru saja turun dari mobil.
"Aku yang membawanya," ucap emak lantang setelah ia turun dari mobil calon suaminya Resti itu.
"Kalau tak mau anakmu di ajak ke ladang, iya jangan di tinggal dong Kak," sela Resti pula, "Sudah untung tadi kami ajak, coba kalau tidak anak manjamu ini sendirian di rumah," sewot Resti lagi. Aku mundur teratur, pura-pura sibuk menurunkan barang-barang kami tadi dari dalam mobil. Aku tak mau ikut campur, karena aku yakin pasti nanti akan terjadi keributan besar antara emak Resti dan Airin.
"Raffa itu cucuku, jadi aku berhak membawanya..."
"Tidak bisa begitu, Mak. Nanti Raffa sakit gimana, Raffa tak terbiasa dengan cuaca panas dan apalagi tempatnya semak-semak begitu," sewot Airin pula.
"Ta...pi, Afa suka kok, Ma. Di kebun Tante Yati seru, Ma," sela Raffa pula.
"Mama tak suka ya, Afa pergi ke hutan..."
__ADS_1
"Nah... anaknya sendiri suka-suka saja tuh, eh emaknya yang berlebihan," ucap Resti seolah mengejek kakak ipar cantiknya itu.
"Eh, terserah aku dong. Anak-anakku, aku tak izinkan dia pergi masalah buat loh..."
"Aku yang izinkan!" seru Rido pula dari dalam rumah. Airin menoleh, air mukanya berubah, seperti ada kemarahan di wajah cantiknya itu.
"Nah, itu dengar! Bapaknya aja ngizinin," ucap Resti seraya menjulurkan lidahnya kepada Airin.
"Sudah... sudah perkara itu saja di ributkan," ucap emak, "Dengar ya Airin, kalau Kau ingin Raffa seperti apa yang Kau mau, jangan di tinggal lagi dong anakmu ini," lanjut emak lagi seraya masuk ke dalam rumah. Dan aku pun ikut masuk seraya membawa barang-barang dan sedikit sayuran untuk di masak di rumah ini.
"Yati, besok Kau tak usah ke sini," ucap emak padaku. Aku terperangah mendengar ucapan emak, apalagi kesalahanku sehingga emak berbicara demikian dan melarang aku datang ke rumah ini.
"Ta-tapi Mak, a-aku salah apa?"
"Kau nggak salah apa-apa, justru aku ingin Kau istirahat. Emang Kau nggak capek seharian ini panen sayur," ucap emak seraya tersenyum, seolah mengerti dengan kekhawatiran ku.
Aku mengangguk, ya Tuhan begini rasanya di perhatikan oleh mertua. Rasanya aku sangat bahagia.
"Terus siapa yang bantu emak di sini, Resti katanya mau pergi..."
"Tenang...ada Airin," ucap emak lagi.
"Eh...kok aku," sela Airin, "Aku juga capek, baru juga sampai masak sudah di suruh kerja," sewot Airin pula.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau Kau tak mau tak usah makan," ucap emak dengan tegas, "Belum juga mulai bekerja, sudah bilang capek," gerutu emak.
"Ya sudah Yati, Kau pulang sana sudah sore. Tuh Ferdi sudah nunggu di depan," perintah emak padaku. Aku mengangguk dan manut dengan perintah ibu suamiku itu. Aku pun pulang dengan perasaan bahagia, bahagia mendapatkan perhatian dari emak. Ya Tuhan, terima kasih atas mukjizat ini.