Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
Menantu kesayangan emak


__ADS_3

"Ya Tuhan...ini gaun apaan sih, bahannya juga bikin gerah," ucap Airin seraya mendengus kesal.


Ya, hari ini baju seragam keluarga yang nantinya akan kami pakai di acara sakral Resti dan Ferdi sudah jadi dan di antar oleh penjahit ke rumah emak. Waktu kami akan membuat baju seragam itu memang Airin lagi tak ada di sini. Jadi, ukuran dan mode untuk Airin Rido yang menentukan. Sedangkan waktu akan di hubungi no ponsel Airin tak aktif. Memang no ponsel Airin jarang aktif saat ia pergi kemarin.


"Apa yang salah, Dek. Ini bagus kok," sahut Rido pula. Rido terlihat sungkan karena penjahit itu saja belum pergi dari rumah ini.


"Rendahan banget selera Kalian," gerutu Airin. Semua orang kaget mendengarnya, termasuk emak. Mata emak melotot tajam melihat Airin.


"Apa Mak, ini jelek 'kan. Emak sih, nggak tanya Airin dulu kemarin," ucap Airin seolah menyadari kalau emak memperhatikannya dari tadi.


"Kau tak suka dengan gaunnya, Rin?" tanya emak lembut.


"Nah, emakku tahu," ucap Airin seraya tersenyum, "Kita ganti aja ya, Mak. Mana warnanya ini norak banget."


Terlihat emak masih berusaha tersenyum melihat kelakuan istri Rido itu. Untung Resti lagi nggak ada di rumah, kalau ada sudah bisa di bayangkan keributan seperti apa yang akan terjadi. Karena warna baju seragam ini usulan dari Resti.


"Biar nanti Airin ke kota nyari bahannya ya Mak, kita buatkan seragam baru lagi," ucap Airin masih dengan senyuman manisnya.


"Tiga hari acara akan di gelar, Dek. Mana keburu," sela Rido.


"Kau Yati, apa Kau suka gaunnya?" tanya emak padaku. Karena mungkin dari aku tak berkomentar apapun, jadi emak bertanya padaku.


Aku mengangguk, aku yang orang kampung ini dan jarang memakai baju bagus dan mahal seperti ini, jadi menurutku gaun ini tak buruk sama sekali bahkan sangatlah bagus menurutku.

__ADS_1


Airin tertawa cekikikan, "Emak tanya sama kak Yati, mana dia ngerti tentang fashion. Di kasih daster seharga tiga seratus ribu saja dia pasti bilang bagus." lagi-lagi Airin meledekku.


"Ehemm..." bapak yang dari tadi juga diam mulai mengeluarkan suaranya. Terlihat bapak mertuaku itu sangat risih dengan ucapan Airin.


"Maaf ya, Buk. Saya permisi dulu," ucap ibu penjahit itu pada emak. Kasihan dia dari tadi terlihat salah tingkah karena ulah Airin.


"Iya, Mbak. Terima kasih banyak," jawab emak dengan lembut.


"Silahkan Mbak, bajunya juga mau ganti," ucap Airin saat penjahit itu akan bangkit dari duduknya. Ucapan Airin tadi otomatis membuat wajah penjahit itu memerah menahan malu dan amarah.


"Iya, mau di ganti," sahut emak pula dan membuat raut wajah penjahit tambah tak karuan berbeda dengan Airin, dia terlihat sumringah karena keinginannya di iyakan oleh emak.


"Tapi Airin saja, kami enggak!" seru emak dengan lantang. Seketika mata Airin terbelalak mendengar ucapan emak, senyuman yang tadi mengembang di bibir merahnya pun memudar seketika.


"Kami suka kok, jahitan Mbak sangat rapi, kita 'kan sudah lama berlangganan," ucap emak lagi.


"Dan... maaf atas semua ketidak nyamanan ini," lanjut emak lagi seraya menyalami ibu penjahit itu. Ibu penjahit mengangguk dan terlihat memaklumi apa yang terjadi tadi.


"Pokoknya aku nggak suka," bisik Airin pada Rido.


"Sudah, Dek. Ini 'kan yang mau nikah Resti bukan Adek, jadi nggak usah berlebihan deh," bisik Rido pula pada Airin.


"Biarin saja, Do. Dia nggak suka nggak usah di pakai. Pusing kepala emak melihat kelakuan istrimu yang nggak jelas ini," ucap emak seraya berlalu dari hadapan kami. Begitu juga dengan bapak, ia juga berdiri dan berjalan ke teras rumah. Dan aku pun mundur dengan teratur dari hadapan Rido dan Airin. Biar jadi urusan Rido untuk membujuk istri manjanya itu, aku tak mau ikut campur.

__ADS_1


_____________________


"Mana Airin, Ti?" tanya Bibi Arni padaku. Bibi Arni adalah adik perempuan bapak mertuaku.


"Nggak tahu, Bi," jawabku pelan. Padahal sebenarnya aku tahu Airin masih di kamar, mungkin masih berdandan, karena hari ini adalah hari pernikahan Resti dan Ferdi.


"Nggak pernah berubah menantu kesayangan emakmu itu, Ti," sewot Bibi Arni lagi, "Sudah orang di rumah sedang repot, eh dia enak-enakan ngedekem di kamar. Bibi jadi bingung, yang nikah itu Resti apa dia, dandan kok lama banget, nggak tahu apa dia tamu-tamu bentar lagi datang," lanjut bi Arni lagi seraya geleng-geleng kepala.


"Ehemm... kayaknya ada yang nyebut namaku nih." Emak menyela obrolan kami.


"Iya Kak, kami lagi ngomongin menantu kesayangan Kakak, mana sih dia?" sahut bi Arni pula.


"Itu..." Emak refleks menunjuk ke arahku, dan otomatis membuatku gelagapan. Begitu juga dengan bibi Arni, ia terheran-heran melihat reaksi emak.


"Eh... Ka-kau nanya siapa tadi, Arni?" tanya emak terbata-bata.


"Aku nanya Airin," jawab Bibi Arni masih sedikit bingung.


"Oo..." jawab emak singkat.


"Kok nggak kelihatan dia dari tadi ya?"


"Mana ku tahu," jawab emak datar kemudian berlalu dari hadapan kami. Bibi Arni terlihat semakin bingung mendapat tanggapan cuek dari emak. Kerena memang biasanya emak selalu bersemangat kalau menyangkut hal tentang menantu cantiknya itu.

__ADS_1


"Aneh ya mertuamu itu, Ti," ucap Bibi Arni padaku. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Bibi Arni, karena aku tak merasa aneh lagi dengan semua itu. Perlakuan emak memang sudah berubah terhadapku, berubah ke arah yang lebih baik.


__ADS_2