Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
firasat Raffa


__ADS_3

"Kak, Raffa main di sini, ya." Rido dan Raffa mendatangi rumahku siang ini.


Aku mengangguk, "Ayo Afa masuk, main dengan iIham di belakang gih," ucapku.


Rido pun terduduk lesu di teras rumahku.


"Ada apa, Om?" tanyaku pula.


"Aku pusing, Kak. Sudah dua Minggu ini Raffa murung saja, makan pun tak berselera," cerita Rido.


"Emang kenapa? Raffa lagi tak sehat ya?"


Rido menggeleng, "Raffa kangen mamanya, sedangkan Airin sudah sebulan ini tak bisa di hubungi."


"Terus bagaimana, Om?"


"Entahlah, Kak. Aku hanya takut Raffa jatuh sakit, karena terlalu memikirkan mamanya."


"Iya juga ya, Om," sahutku ikut mengkhawatirkan Raffa.


"Bawa saja Raffa menemui Airin, Om."


"Iya, Kak. Santi juga menyarankan begitu, tapi emak tak mengizinkan," ucap Rido lagi seraya menarik napas panjang. Adik iparku itu terlihat frustasi.


"Nanti, Kakak bantu bicara dengan emak ya, Om," ucapku lagi.


Rido mengangguk, "Iya, Kak. Aku memang mau meminta tolong Kakak untuk berbicara pada emak."


"Baiklah, nanti sore Kakak dan abangmu ke rumah ya."


Rido mengangguk, lalu berpamitan padaku.


____________________

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan mengizinkan siapa pun di antara Kalian pergi membawa Raffa mencari Airin," ucap emak tegas, sepertinya keputusan emak tidak bisa ditawar lagi.


"Tapi, Mak...lihat Raffa, dia begitu kepikiran dengan Airin. Aku takut Raffa jatuh sakit," sahutku pula.


"Sekali tidak, tetap tidak. Kalau Airin ingat anaknya biar dia datang sendiri..."


"Mak, simpan dulu ego kita, marah kita. Prioritas kita adalah Raffa, Mak," ucap Santi pelan.


"Tapi, aku tak percaya dengan Airin. Ini pasti akal-akalannya saja, pasti dia yang mengatur segalanya agar kita tak bisa menghubunginya."


"Tak baik menduga-duga seperti itu, Mak..." ucap Santi lagi dengan lembut.


"Tidak! Pokoknya tidak!"


"Nek, Afa mohon izinkan Afa ketemu, Mama." Raffa keluar dari kamarnya dan berbicara seraya menangis di hadapan emak. Bocah itu menangkupkan kedua tangannya, memohon kepada sang nenek.


Air mataku meleleh melihat Raffa memelas seperti itu. Kasian sekali bocah itu, dia begitu merindukan mamanya.


"Baiklah, Kalian boleh membawa Raffa menemui Airin. Tapi, yang boleh pergi hanya Rido, Yati dan Rozi," ucap emak luluh juga, "Dan Kau Santi, aku tak mengizinkan Kau ikut pergi," lanjut emak lagi dengan penuh penekanan.


Aku menarik napas lega, akhirnya kami berhasil meluluh hati emak.


________________________


"Ingat, Ti! Jaga Rido jangan sampai dekat-dekat dengan Airin," pesan emak yang kedua kalinya sebelum aku pergi pagi ini.


"Iya, Mak...iyaa," sahutku dengan lembut.


"Kalau Airin macam-macam dan berusaha merayu Rido, Kau libas saja jangan takut-takut," ucap emak lagi.


"Ingat, Do. jaga jarak dari Airin, ingat Santi di rumah," pesan emak pula pada Rido.


Aku tersenyum mendengar ucapan emak, begitu emosinya dia kalau menyangkut soal Airin.

__ADS_1


"Siap Mak bos," ucap Rido seraya tersenyum.


"Tak mungkinlah, aku lupa dengan istri Solehah ku ini," lanjut Rido pula seraya tersenyum manis ke arah Santi. Santi pun tersipu-sipu di buatnya. Oh, manis sekali mereka.


Akhirnya kami berangkat juga, setelah sebelumnya mendengar banyak wejangan dari emak mertuaku itu.


Hampir delapan jam di perjalanan, kami pun sampai di tempat tujuan, yaitu rumah mama Airin.


Saat kami turun dari mobil, rumah itu terlihat sepi seperti tak berpenghuni Halamannya pun kotor, seperti sudah lama tak dibersihkan.


Rido pun mengetuk pintu dan mulai memanggil si empunya rumah. Cukup lama kami menunggu, dan akhirnya pintu pun terbuka. Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya kami melihat sosok di hadapan kami.


"Airin..." ucap Rido seperti tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ada apa dengan Airin, sehingga dia menjadi seperti itu.


Spontan Airin menutup wajahnya dan hendak pergi dari hadapan kami.


"Mama!" teriak Raffa seraya berlari memeluk Airin.


Airin terduduk lemas, dia menangis tergugu seraya memeluk Raffa.


"Maafkan mama, Nak."


"Apa yang terjadi sebenarnya, Rin?" tanyaku seraya duduk di hadapan Airin dan Raffa.


Dengan deraian air mata, Airin pun bercerita semua yang telah menimpanya. Kalau dia di keroyok oleh istri dan anak-anak pacarnya, Airin babak belur di hajar secara membabi buta oleh wanita itu, bahkan Airin sampai di rawat di rumah sakit karena peristiwa itu.


Tadinya, Airin mau kabur setelah melihat kami, dengan kondisinya saat ini dia benar-benar malu berhadapan dengan kami. Tapi, melihat Raffa hati Airin luluh juga, rasa rindu pada anaknya mengalahkan rasa malu itu.


Aku memeluk Airin, untuk memberi penguatan padanya. Karena peristiwa pengeroyokan itu, Airin jadi trauma, bukan hanya itu saja, peristiwa itu juga meninggalkan bekas luka di wajah cantik Airin dan rambut indah Airin pun jadi korban juga.


Kini, keseharian Airin hanya di rumah saja. Dia belum punya keberanian keluar rumah untuk berhadapan dengan khalayak ramai. Sedangkan untuk biaya hidup sehari-hari mereka, kini mama Airin yang bekerja.


Sungguh aku sangat kasihan melihat nasib Airin. Aku tak menyangka hidup Airin akan menjadi seperti ini, Airin benar-benar sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, moga Airin bisa melewati ini semua dengan ikhlas dan ke depannya Airin bisa belajar dari kesalahan dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2