
"Aku mau pulang!" teriak Airin dari dalam kamarnya. Aku dan Resti saling berpandangan, walau kami sedang berada di dapur namun suara Airin terdengar jelas. Ya, setelah musyawarah tadi, aku melanjutkan mencuci piring dan Resti menyapu lantai.
"Sabar, Dek.jangan malam ini...mas janji besok pagi, pagi-pagi sekali kita pulang." suara Rido terdengar sangat jelas dari arah dapur. Oh... rupanya Rido Airin memang berjalan ke arah sini, tepatnya Rido berusaha mengejar Airin dari belakang.
"Nggak... Mas, aku merasa di permalukan di sini. Baru saja minta tolong, keluarga Mas sudah menghina ku, andai saja papa mamaku tahu, mereka pasti tak akan terima," ucap Airin dengan angkuhnya.
"Kemarin bilang bersedia menjual tanah itu, tapi tiba-tiba sekarang tanah itu sudah beralih nama," Airin terus berjalan ke ruangan tanpa penyekat di sebelah dapur yang di khusus untuk menyetrika pakaian dan menyimpan peralatan rumah tangga yang jarang di pakai. Tangan lentiknya terus memilah-milah pakaian miliknya di dalam keranjang.
"Tapi... Dek..."
"Pokoknya malam ini kita pulang, kalau Mas nggak mau, aku dan Raffa saja pulang duluan," ancam Airin pada Rido.
"Biarin saja, Bang...kak Airin pulang duluan. Aku yakin istri Abang itu pasti berani nyetir mobil sendiri malam-malam begini," sela Resti pula. Gadis manis itu tersenyum mengejek ke arah Airin.
"Kau tak usah ikut campur Resti! Kau kira aku tak sanggup hah!" bentak Airin pula.
"Ayo buktikan, dong... jangan cuma omdo," tantang Resti pula.
"Res... sudah..." bisikku pada Resti.
"Biarin saja, Kak. Aku ingin lihat sebatas apa kak Airin bisa membuktikan ucapannya," ucap Airin seraya menyeringai sinis, "Jadi perempuan kok keras kepala banget," tambahnya lagi, sukses membuat Airin tambah emosi.
"Tapi, Res... kasihan Airin pulang malam-malam, apalagi sendiri," ucapku lagi dengan lembut.
"Nggak usah sok baik Kau, Kak. Tampang boleh lugu, tapi ternyata ular juga," ucap Airin seraya geleng-geleng kepala. Tega sekali Airin berkata seperti itu padaku, sedikit pun tak tersirat dalam hatiku untuk menggagalkan rencana mereka.
__ADS_1
"Sudah!...kok kalian malah ribut," bentak Rido, "Baiklah...kita pulang malam ini," ucap Rido pula seraya menarik tangan istrinya untuk menjauh dari kami. Walaupun sudah berjalan menjauh, mata Airin tetap menatap ke arah kami dengan tatapan penuh kebencian.
________________________
"Bang...kok Abang nggak pernah bilang kalau Abang menerima tanah itu?" tanyaku dengan lembut pada suamiku yang sedang sarapan, pagi ini.
"Nggak apa-apa, Dek. Kalau Abang bilang pasti Adek nggak bakalan setuju," jawabnya dengan santai.
"Bukan begitu, Bang. Lihat apa yang terjadi, Rido dan Airin menuduhku yang tidak-tidak..."
"Peduli amat dengan mereka, dari pada tanah itu di jual dan uangnya di gunakan untuk menunjang gaya hidup mewah mereka. Yang menurutku sangat mubasir itu," jelas suamiku dengan bijak.
"Iya...itu benar Bang, tapi aku nggak mau nama kita yang di seret. Apalagi emak, ia pasti tambah nggak suka padaku, karena mengira aku yang meminta Abang untuk menerima tanah itu..."
"Eits... tunggu dulu, justru ini terjadi karena emak juga menyetujui..."
"Iya... karena emak yang juga meminta makanya Abang mau," ucap suamiku seraya tersenyum manis.
"Kenapa? Adek nggak percaya?" tanyanya pula.
"Bukan begitu, Bang...tapi..."
"Ini benar, Dek. Kamu nggak lagi mimpi," ucapnya lagi seraya mencolek hidupku.
Aku ikut tersenyum melihat tingkah bang Rozi, walau sedikit kaget dan tak percaya, tapi tak mungkin juga suamiku berbohong dalam hal ini. Ya, mudah-mudahan ini jalan terbaik dan tanah yang telah di amanahkan pada kami pun bisa kami gunakan sebaik mungkin.
__ADS_1
________________________
"Dek...tolong siapkan beberapa stel baju yang agak pantas, abang mau pergi. Abang mau mandi dulu ya." baru saja satu jam yang lalu suamiku pergi bekerja, sekarang dia pulang dengan tergesa-gesa.
"Abang mau kemana?..." belum sempat menjawab pertanyaanku, bang Rozi sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Aku pun manut, masuk ke kamar untuk menyiapkan pakaian suamiku yang sekiranya pantas dia pakai untuk bepergian.
"Abang mau ke rumah sakit, mungkin menginap di sana," ucapnya seraya mengenakan pakaian yang telah ku siapkan tadi.
"Rumah sakit? Untuk apa, Bang?..."
"Rido kecelakaan..."
"Hah!..."
"Iya, tengah malam tadi kecelakaannya. Bapak baru dapat kabar pagi ini dan sekarang sudah di pindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di kota," jelas bang Rozi padaku.
"Bagaimana keadaannya, Bang?"
"Entahlah... katanya Rido yang parah, Airin dan Raffa hanya luka-luka sedikit," tambah bang Rozi lagi.
"Ya Allah... moga Rido tak kenapa-kenapa, begitu juga dengan Airin dan Raffa."
"Amin...ya sudah abang pergi dulu, sudah di tunggui sama bapak," ucap bang Rozi berpamitan padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk, moga semua baik-baik saja.