Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
hidupku tak akan tenang, sebelum kau hancur (POV Airin)


__ADS_3

Hatiku hancur melihat keharmonisan mas Rido dan Santi. Mas Rido memperlakukan Santi dengan lembut, sama seperti yang dilakukannya padaku dulu. Mas Rido adalah sosok suami yang selalu ingin membuat istrinya bahagia, oh aku rindu padamu mas


Rasa cemburu menyelinap ke dalam hatiku, aku tak bisa terima semua ini, aku harus melakukan sesuatu untuk membalas rasa sakit ini. Aku hancur mas, dan kau juga sama denganku.


Berbagai macam cara aku lakukan untuk memisahkan mas Rido dan Santi, tapi itu tak berhasil juga. Baiklah, kalau aku tak bisa menghancurkan mereka, aku akan cara lain untuk membuat keluarga itu sedih dan sakit hati. Kalau salah satu keluarganya hancur pasti mas Rido ikut merasakan sedihnya, dan aku suka itu.


Hari ini, sepulang bekerja aku sengaja mampir ke rumah Siska sepupu jauhku yang juga sahabat karib di masa sekolah dulu. Aku akan meminta bantuan padanya, iya hanya Siska yang ku rasa bisa menjalankan misi ku kali ini.


"Tumben Lo ke sini," ucap Siska saat aku baru saja duduk di sofa ruang tamu rumahnya ini.


"Nggak, gue kagen saja sama Lo, Sis," sahutku seraya tersenyum manis.


"Gimana kerjaan Lo, lancar?" tanya Siska pula.


"Ya... begitulah, Sis. Kerja capek uangnya nggak seberapa." aku menarik napas panjang, memang pekerjaanku di butik sangat melelahkan.


"Yang penting di syukuri ajalah, Rin. Aku ya senang lihat hidup Lo sekarang, lebih tentram kelihatannya."


Aku tersenyum kecut mendengar ucapan janda bahenol di hadapanku ini, ah andai dia tahu hidupku ini tak pernah tenang selalu dibayang-bayangi masa lalu.


"Eh... Sis, lagi dekat dengan siapa Lo sekarang?"


Siska menggeleng, "Khoshoooong..." jawabnya seraya terkekeh.


"Aiih... payah Lo, betah banget ngejanda."


"Hoii...Non. ngomongin diri sendiri Lo," sungut Siska.


Aku tertawa lebar mendengar ucapan sepupuku itu, "Kalau gue kenalkan dengan seseorang, mau nggak?"


"Ceritanya, mau ngencomblangin gue nih?


Aku mengangguk, "Tepatnya minta tolong..."

__ADS_1


"Minta tolong? Tolong apa?"


"Hidup gue tak tenang, sebelum hidup mereka hancur..."


"Maksud Lo?" tanya Siska heran.


"Ini orangnya," ucapku memperlihatkan foto seseorang.


"Wah... tampan syeekale...dia siapa sih, Rin?"


"Suami mantan adik iparku, aku ingin Lo merayunya dan hancurkan rumah tangga mereka..."


"Ini suaminya adik Rido, Ress..."


"Iya Resti, gue tak berhasil mendapatkan mas Rido kembali, dan juga tak berhasil menghancurkan rumah tangganya yang baru. Tapi, gue tak putus asa, akan gue hancurkan dia melalui adiknya."


"Gila Lo, Rin..."


"Sis...please..." ucapku memohon, "Lo mau 'kan lihat hidup gue damai?"


"Lagian Ferdi ini, orangnya tampan, kaya juga. Gue rasa memang cocok dengan selera Lo," ucapku pula.


"Baiklah, Rin. Demi Lo sepupu, sehabat tersayangku," sahut Siska seraya tersenyum manis, "Eh, tapi... bagaimana caranya agar gue bisa kenal dengan si tampan ini..."


"Tenang, sudah gue atur semua. Ferdi itu mau membuka bisnis baru di bidang kuliner, dan dia sekarang sedang mencari seseorang untuk di ajak bekerja sama dalam bisnis barunya, orang yang paham tentang kuliner tradisional. Nanti ada seseorang yang akan ngenalin Lo dengan Ferdi sebagai orang yang paham tentang kuliner tradisional tadi," jelasku pada Siska.


Siska geleng-geleng kepala, "Gila Lo, mana gue ngerti tentang kuliner-kuliner itu, apalagi yang tradisional..."


"Ya dicoba aja dulu. Yang penting Lo kenal dulu dengan Ferdi, terus pepet dia. Kalau dia sudah jatuh ke dalam pelukan Lo, beda lagi ceritanya."


"Tapi, awalnya ini sayangku, di tanya-tanya soal kuliner gue mau jawab apa?"


"Ada Mbah Google yang siap membantu," jawabku seraya tersenyum manis.

__ADS_1


"Baiklah, akan kucoba."


Aku tersenyum mendengar jawaban Siska, mas Rido tunggu kehancuran keluargamu.


_________________________


"Gimana berhasil?" tanyaku pada Siska. Sudah satu bulan aku dan Siska menjalankan misi menghancurkan rumah tangga si judes Resti.


"Berhasil apanya, sekarang malahan Ferdi memutuskan hubungan kerjasamanya dengan gue dan juga semua akses di blokir nya." Siska terlihat sangat kesal


"Lo bagaimana sih?" sewot ku.


"Lo yang bagaimana, baru mulai aja Lo sudah kirim-kirim foto kepada Resti," sahut Siska cepat.


"Iya...gue 'kan mau membuat dia panas..."


"Iya...panas. Tapi, jadinya seperti ini..."


"Maksud Lo, gara-gara Resti, Ferdi membatalkan kerjasama Kalian?" tanyaku pula.


"Ya iyalah, Ferdi bilang dia tak mau buat istrinya berprasangka, karena hubungan kerjasama itu..."


"Sial..." rutukku.


"Dia juga bilang, risih dengan gue yang terlalu agresif... dasar lelaki sok alim," gerutu Siska pula.


"Terus Lo nyerah gitu aja?" tanyaku.


"Ya, nggak lah. Malahan gue semakin tertantang untuk mendapatkan Ferdi. Dan juga gue terlanjur jatuh cinta dengan pesona lelaki itu," ucap Siska dengan tatapan mata yang sayu.


"Bagus...kita cari cara yang lain lagi," ucapku pula. Aku berpikir keras untuk menyusun rencana yang baru.


"Gue setuju, nggak ada sejarahnya seorang Siska tak bisa menaklukkan hati lelaki manapun," sahut Siska seraya mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Siap... jangan sampai harga diri seorang Siska tercabik-cabik karena di tolak lelaki, apalagi lelaki itu sekelas Ferdi," ucapku lagi, dan kami pun tertawa bersama.


Mas Rido, aku tak akan menyerah sebelum Kau hancur dan kembali kepadaku.


__ADS_2