
ATM-ku sudah menipis, transferan dari sugar Daddy-ku Minggu lalu sudah ku habiskan untuk menyewa mobil yang ku pakai pergi menemui Raffa. Kemarin itu aku sangat merindukan anak itu, ingin rasanya kubawa dia bersamaku saja. Tapi, hidupku yang tak terarah ini membuatku buang jauh-jauh keinginan itu
Belum lagi mama, hampir setiap hari meminta uang padaku. Sekarang mama mempunyai kebiasaan baru, hampir setiap ia malam ke clubbing dan pulang-pulangnya pasti sudah teler.
Kemana lagi, aku mencari uang yang banyak dengan cepat untuk memenuhi biaya hidupku dan mama, kalau tidak dengan cara merayu om-om hidung belang. Aku cantik, postur tubuh menarik, lelaki hidung belang mana yang tak tergoda saat aku merengek memanja merayunya.
"Sayang, mama minta uang dong," ucap mama malam ini.
"Mau kemana lagi, Ma?" tanyaku pelan.
"Kamu nggak usah banyak tanya, Sayang. Membuat kepala mama yang pusing ini tambah pusing saja. Berikan saja mama uang, teman mama sudah menunggu tuh diluar," sahut mama seraya menarik dompet yang ku pegang.
"Daaa...Sayang," ucap mama setelah menandaskan isi dompetku, ia mengecup keningku lalu pergi.
Kuintip melalui kaca, ingin tahu berondong yang mana yang menjemput mamaku malam ini. Sebuah sepeda motor tracker yang membawa mama pun pergi meninggalkan halaman rumahku. Aku menarik napas panjang, mengapa hidupku jadi seperti ini. Di ceraikan oleh suami, hidup terpisah dengan anak, papa di penjara dan mama suka mabuk-mabukan bersama lelaki- lelaki muda yang lebih pantas menjadi anaknya.
'Ting!...Ting!' Dua pesan masuk ke gawaiku.
[Sayang... Mas kangen] ternyata WhatsApp dari lelaki hidung belang yang haus belaian.
[Kita jumpa yuk] bunyi pesan kedua disertai emoticon tersenyum.
Aku tersenyum lirih membaca pesan itu, dalam hati aku merutuki diri sendiri, mengapa aku tak mampu menolak ajakan lelaki hidung belang itu. Ayolah Airin, mereka itu tak ada yang tulus mencintaimu, mereka hanya candu dengan kemolekanmu saja.
Arrrggh! Aku tak punya pilihan lain, aku butuh uang dan para penghianat istri itu butuh pemuas napsu bejat mereka.
______________________
Kini, pas jam sebelas siang ini aku sudah berada di sini, di hotel berbintang lima ini. Tempat yang telah di janjikan untuk jumpa dengan sugar Daddy-ku, Om Pram namanya, lelaki hidung belang yang lebih suka aku memanggilnya dengan sebutan mas itu. Dan sudah udah enam bulan, kami menjalin hubungan gelap ini.
Aku begitu percaya diri dengan penampilanku sekarang, dress bodycon selutut dengan belahan dada yang rendah membuat penampilanku hari ini begitu mempesona. Di tambah lagi dengan high heels dan rambut sebahu ku di kerli, aku pastikan om Pram akan tambah mabuk kepayang dibuatnya. Kalau sudah begitu, uang di ATM-ku akan terisi penuh dengan sendirinya.
__ADS_1
"Selamat datang, Sayang," ucap om Pram saat aku sudah berada di dalam kamar yang di pesannya. Ternyata dia sudah duluan sampai di sini.
Aku tersenyum semanis mungkin, menyambut pelukan lelaki tua bangka itu. Tanpa menunggu lama om Pram langsung melumatkan bibirku.
"Sabar dulu dong, Mas," rengek ku manja seraya menarik tangan lelaki yang mempunyai perut buncit itu, untuk duduk di sofa yang tersedia di kamar ini.
"Mas kangen Kamu, Sayang," ucap om Pram menatapku sayu.
"Iya, Mas. Airin juga kangen..." bisikku di telinganya, om Pram tersenyum lalu memeluk tubuh sintal ku ini.
"Massss..." rengek ku pula seraya memainkan ponselku.
"Iya Sayang..."
"Aku mau ini," ucapku seraya menunjukkan gambar tas dilayar ponselku.
"Berapa?" tanya om Pram pula.
Om Pram tersenyum, "Apa sih yang nggak buat Kamu Sayang," ucap om Pram seraya meraih gawainya dan mulai mengusap-usap benda pipih itu.
'Ting!' tiba-tiba gawaiku berdenting, kembali ku usap gawai di tangankan itu. Aku senyum-senyum sendiri saat membaca pesan yang masuk itu.
"Terima kasih, Mas," ucapku seraya memeluk lelaki di sebelahku. Iya, tadi yang masuk ke gawaiku adalah m-banking, om Pram langsung mentransfer uang yang ku minta, malahan nominalnya lebih dari yang kuinginkan.
Om Pram tersenyum seraya mengedipkan matanya, tangannya meraih tubuhku untuk tambah merapat dengannya. Aku mengerti, sekarang giliran ku untuk menyenangkan om Pram, baiklah akan ku tunjukkan kelihaian ku padamu, Om.
________________________
"Kau hebat, Sayang," ucap om Pram, lelaki tua bangka itu terlihat kelelahan setelah mengimbangi permainanku.
Aku tersenyum, "Mas juga hebat..." bisikku dengan lembut.
__ADS_1
"Terima kasih, sudah memuaskan mas. Mas sudah lama tak merasakan sensasi seperti tadi," ucapnya lagi seraya tersenyum.
Aku mengangguk dan tersenyum, tapi tiba-tiba om Pram kembali melumatkan bibirku dan sepertinya permainan ronde kedua pun akan segera di mulai.
______________________
Aku dan om Pram sudah kembali mengenakan pakaian lengkap, dan kami akan bersiap-siap untuk meninggalkan peraduan ini.
"Mas antar Kamu pulang ya, Sayang."
Aku mengangguk.
Kami pun keluar dari hotel dan berjalan ke parkiran menuju mobil om Pram.
"Dasar ******!"
Tiba-tiba ada yang menarik tanganku saat aku akan masuk ke dalam mobil om Pram. Aku terpelanting ke belakang, dan betapa terkejutnya aku ternyata yang menarik tanganku adalah istrinya om Pram.
"Ma... sudah, Ma. Malu dilihat orang," ucap om Pram mencegah istrinya yang membabi buta menyerang ku, bukan hanya istrinya, kedua anak perempuan om Pram pun ikut menyerang ku.
"Minggir Kau, Pa!" teriak istri om Pram, tapi om Pram tak gentar dia tetap berusaha melindungi ku.
Tapi, tiba-tiba dua orang lelaki berbadan tegap suruhan istri om Pram, menarik tubuh om Pram untuk menjauh dariku. Dan setelah itu dengan leluasa tiga perempuan itu menyerang ku. Tanpa perlawanan, karena memang lawan ku tak sebanding denganku.
Aku dipermalukan, rambutku di potong habis oleh wanita tak berperasaan itu. Aku di telanjangi, dan yang lebih perih lagi kemaluanku di lumuri dengan cabai rawit, perih sekali rasanya.
Sebenarnya banyak yang menonton aksi ketiga wanita brutal itu, tapi entahlah tak ada satupun yang berniat menolongku, malahan mereka menjadi paparazi dadakan, mereka seakan kompak mengeluarkan ponsel dan mengabadikan momen menjijikkan ini.
Setelah merasa puas, istri dan kedua anak om Pram baru melepaskan ku itupun karena ada polisi yang datang dan setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
Saat aku tersadar, aku sudah di ruangan serba biru ini dan ada mama menangis tergugu di sisi ranjang ku.
__ADS_1