
"Mama, Afa mau tidur dengan Mama," rengek anak sulungku pada Airin. Mungkin ia begitu rindu pada mamanya itu.
"Tapi, mama nggak bisa lama-lama di sini, Nak," sahut Airin dengan lembut.
"Kemarin mama janji mau tidur di sini sama Afa," ucap Raffa lagi, Ia terlihat begitu kecewa.
"Iya, tapi..."
"Mama jahat!" Seru Raffa, lalu pergi berlari ke kamarnya.
Nggak bisa dipungkiri, hati ayah mana yang tak terluka melihat anaknya bersedih seperti itu. Ya Tuhan, andaikan aku dan Airin tak bercerai, pasti hati anakku tak akan terluka seperti itu.
Apa yang ku pikirkan ini, sekarang ada Santi dan Raisa di hidupku. Walau bagaimanapun, Santi, Raisa dan Raffa adalah hal yang terpenting dalam hidupku. Airin masa lalu, akan tetap jadi masa lalu. Masa depanku adalah keluarga kecilku saat ini.
"Kau mau pulang sekarang, Rin?" tanyaku pada Airin.
Aku keluar dari kamar dan menemui Airin yang duduk termenung di ruang tamu sendirian.
"Eh... iya, Mas," sahut Airin sedikit terkejut.
"Apa Kau tak ingin tidur sama Raffa malam ini?"
Airin termenung mendengar ucapanku, raut wajahnya tiba-tiba sendu, entahlah semenjak berbicara dengan Resti tadi Airin jadi pendiam, seolah takut untuk berbicara.
"A-aku ada urusan mendadak, Mas," ucap Airin lagi terbata-bata.
"Kasihan Raffa, Rin. Dia kangen sama mamanya," ucapku lagi dengan pelan.
"Maaf... Mas," sahut Airin seraya tertunduk lesu.
"Mbak Airin mau pulang sekarang?" tanya Santi pula.
"Iya, San. Aku ada urusan mendadak," sahut Airin seraya mengangguk.
"Aku sudah beresin kamar Raffa untuk tempat Mbak tidur nanti," ucap Santi lagi, hatiku terenyuh mendengar ucapan istriku. Dia mempunyai hati seluas samudera, dia bisa bersikap begitu baik dengan Airin, yang jelas-jelas berusaha menghancurkan rumah tangga kami.
"Nggak bisa San, aku ada urusan mendadak," sahut Airin seraya tersenyum.
Santi mengangguk, sepertinya ia memahami kalau Airin membatalkan rencana menginap di rumah kami.
__ADS_1
"Tapi...aku minta tolong mas Rido mengantar aku ke kota, nggak apa-apa 'kan, San?" tanya Airin terlihat sungkan.
Santi menatap ke arahku, aku hanya terdiam tak berani mengiyakan permintaan Airin itu.
"Soalnya, travel nggak ada yang bisa jemput sore-sore begini," ucap Airin lagi dengan lembut.
Santi mengangguk, "Iya...Nggak apa-apa, Mbak?"
Seketika aku terperangah mendengar ucapan istriku itu, apakah dia tidak takut kalau aku yang pergi mengantar Airin.
"Ta-tapi... Dek..."
"Nggak apa-apa, Bang. Kasihan mbak Airin," sahut Santi dengan lembut.
"Baiklah, tapi ku ajak anak-anak ya," ucapku pelan, "Dek, tolong panggilkan anak-anak bang Rozi, biar anak-anak ikut bersamaku."
Santi mengangguk dan segera pergi ke rumah bang Rozi. Ku rasa lebih baik begitu, biar aku tak berdua saja dengan Airin.
Akhirnya aku pun pergi mengantar Airin ke kota, kebetulan mobil bapak sedang berada di rumahku.
__________________
Aku menoleh, "Iya, Rin."
Airin menoleh sekilas ke belakang, terlihat anak-anak sedang asyik melihat pemandangan di sekitar.
"Aku kasihan sama Raffa, Mas," ucap Airin pelan, "Dia jadi korban atas keegoisan kita, orang tuanya."
"Maksud Kau, Rin?" tanyaku pula.
"Andai kita bersama lagi, Mas..."
'Degh!' dadaku berdegup kencang mendengar ucapan Airin, bisa-bisanya dia berbicara seperti itu. Airin seakan-akan tak pernah kapok untuk menganggu ku.
"Kau ngomong apa, Rin?" ucapku cepat.
"Iya, bang...tak bisakah kita kembali bersama demi Raffa..."
"Kau sudah gila, Rin," ucapku seraya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Demi Raffa, Bang. Aku rela walau abang jadikan aku yang kedua," ucap Airin pelan.
"Rin, hentikan omong kosong mu itu," sahutku pula.
"Aku sungguh-sungguh, Bang..."
"Kita sudah berakhir, Rin. Dan tak akan pernah bisa seperti dulu lagi."
"Mengapa tak bisa, Mas?" tanya Airin lembut.
"Apa Kau lupa, Rin. Kau yang telah menghancurkan semua..."
"Itu semua gara-gara emakmu, Mas. Dia terlalu ikut campur..."
"Jangan bawa-bawa emakku, Rin. Bukankah dulu emakku sangat menyayangi mu, Kau saja yang tak tahu diri," ucapku lagi seraya geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba Airin terkekeh mendengar ucapanku, "Emakmu lebih sayang pada Yati kampungan itu..."
"Itu semua karena kak Yati tulus menyayangi emak dan keluargaku," timpal ku pula.
"Hmm... tulus," Airin tersenyum sinis, "Sampai menyuruh adiknya yang sok alim itu merayu mu."
"Tak ada berubah-ubahnya Kau ini ya, Rin,' ucapku seraya melambatkan laju mobilku. Setelah itu aku menghentikan mobilku.
"Mengapa berhenti, Mas?" tanya Airin heran.
Aku tersenyum sinis, "Turun..." ucapku lantang pada Airin.
Mata Airin terbelalak, "Apa maksudmu, Mas?"
"Turun Kau dari mobilku!" ucapku lebih tegas lagi.
Airin menggelengkan kepalanya, air matanya pun luruh.
"Mas, mau ninggalin aku di sini..." lirih Airin pula, tangannya memegang tanganku.
Aku tepis tangan Airin cepat, anak-anak yang duduk di belakang pun terlihat ketakutan. Untung Raffa tadi tak ikut, karena dia lagi merajuk pada Airin.
"Kalau masih mau di mobilku dan minta di antar ke tempat tujuanmu, tolong duduk diam dan berhenti berbicara omong kosong itu," ucapku pada Airin dengan tegas.
__ADS_1
Airin tertunduk diam, dia terlihat ketakutan dengan ancaman ku. Mudah-mudahan Airin tak macam-macam lagi.