
Rido mengalami patah tulang di kakinya, sedangkan Airin dan Raffa hanya mengalami luka ringan. Setelah menjalani operasi pemasangan pen Rido sudah di perbolehkan pulang.
Sebenarnya emak dan bapak ingin membawa Rido pulang ke rumah mereka. Maksud emak dan bapak baik, saat dalam masa pemulihan ini Rido tinggal bersama mereka. Karena lebih tenang tinggal di desa dari pada di kota.
Tapi, bukan Airin namanya dengan pongahnya dia menolak keinginan orang tua suaminya itu. Dia merasa sanggup mengurus suaminya, katanya nanti dia akan sewa suster khusus untuk merawat Rido, juga Rido akan di bawa terapi sesering mungkin. Dan itu akan di biayai oleh papa mamanya yang kata raya itu.
Emak dan bapak pun hanya bisa menuruti kehendak Airin, walau pun berat dan mempunyai firasat tak baik, mereka akhirnya melepaskan Rido ikut pulang ke kota tempat tinggal Airin. Toh, Rido juga bersikeras ingin ikut dengan istrinya itu.
Tapi, mertuaku itu tak lepas tangan begitu saja, mereka selalu mengirimkan uang untuk Rido walau pun kadang nominalnya tak menentu. Mereka menyadari kalau sekarang Rido tak bisa bekerja seperti sedia kala dan membutuhkan biaya yang besar untuk berobat.
Tiga bulan berlalu, Airin menelpon. Airin minta bapak menjemput Rido, dia bilang tak sanggup lagi mengurus orang sakit. Karena sampai sekarang Rido belum bisa berjalan. Entahlah, ku dengar cerita dari Resti. Katanya mama mertua Rido selalu mengompori Airin untuk memulangkan Rido pada emak dan bapak. Airin itu cantik masih muda, masa repot-repot ngurusin orang sakit.
____________________
Rido akhirnya pulang ke rumah emak, di jemput oleh bang Rozi dan bapak. Pertama kali melihatnya, tak seperti Rido yang dulu. Tubuhnya kurus dan wajahnya sangat pucat. Kasihan sekali Rido, bahkan Airin tak ikut bersama Rido ke sini, alasannya dia sibuk mengurus usaha mereka di sana.
"Yati... Kau setiap hari ke sini ya," ucap emak saat kami akan pulang sore ini.
Aku mengangguk, mengiyakan permintaan emak. Walaupun sebenarnya aku tak tahu untuk apa aku di suruh setiap hari ke rumah ini.
"Tadi, emak sudah bilang pada Rozi. Emak minta tolong supaya Kau bantu emak di sini mengurus Rido. Tapi, Rozi menyuruh emak langsung bertanya padamu," ucap emak pelan.
"Bagaimana?...apa Kau mau?" tanya emak penuh harap.
"Baik, Mak," jawabku seraya mengangguk patuh.
Akhirnya, mulai dari hari itu aku setiap hari datang ke rumah emak membantunya mengurus Rido dan beberes rumah, di bantu Resti juga tentunya. Bahkan, kain bekas kotoran Rido kadang aku yang mencucinya. Karena Rido belum bisa berjalan, dia buang hajat di tempat tidur menggunakan pispot.
__ADS_1
Dan bang Rozi, juga mendapatkan tugas. Setiap dua hari sekali membawa Rido ke kota untuk terapi. Dalam keadaan seperti ini, aku menyadari. Saat kita terpuruk seperti ini, hanya keluarga tempat kembali. Hanya keluarga yang ikhlas menerima apapun keadaan kita.
__________________
Dua bulan berlalu, Rido sudah banyak perubahan. Dia sudah mulai bisa belajar berjalan menggunakan tongkat. Wajah gantengnya pun mulai tampak berseri, kami sekeluarga sangat senang melihat kemajuan Rido.
Hari ini, ada sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah mertuaku. Aku yang sedang menyapu halaman pun berhenti, aku ingin tahu siapa yang datang. Pintu sebelah kemudi terbuka, keluar seorang lelaki paruh baya, dari pakaiannya dia seperti seorang sopir pribadi. Kemudian dia berlari kecil dan membuka pintu mobil bagian belakang. Saat pintu terbuka ternyata yang keluar Airin. Sosialita cantik itu turun dari mobil dengan anggunnya.
"Hai...Kak," sapanya padaku. Istri Rido itu juga melambaikan tangannya padaku. Lambaian tangannya bak seorang model di atas catwalk. Aku pun berjalan mendekat kepadanya.
"Kak, tolong ajak pak Tono masuk. Dia sopirku, suruh dia istirahat dan buatkan kopi ya," perintah Airin padaku.
Aku mengangguk, kemudian Airin masuk ke rumah berjalan dengan anggunnya. Ku akui, iparku itu memang cantik sekali, penampilannya juga cetar membahana.
Aku mempersilahkan pak Tono masuk, dan menyuruhnya beristirahat di ruang tamu. Tapi, pak Tono tak mau duduk di sofa ruang tamu, dia lebih memilih duduk selonjoran di atas karpet di depan TV.
"Rido di kamar, lagi istirahat. Tadi habis latihan jalan," jawabku cepat, "Bapak lagi ke kebun, emak dan Resti lagi ke pasar," sambungku lagi.
"Oo..." sahut Airin seraya mengangguk-angguk. Lalu Airin berlalu dari hadapanku, mungkin mau menemui suaminya. Sedangkan aku bersiap-siap mengantarkan kopi untuk pak Tono.
"Kok... baru datang ke mari, Dek?" terdengar dari arah kamar Rido bertanya pada istrinya. Pintu kamar tak di tutup, sehingga suaranya sangat terdengar jelas dari ruang TV. Aku yang sedang mengantar kopi dan makanan ringan untuk pak Tono pun tak sengaja mendengar pembicaraan suami istri itu.
"Aku lagi sibuk, Mas. Menghandle usaha kita," jawab Airin santai.
"Bagaimana?... Semua lancarkan. Raffa apa kabarnya?...kok nggak di ajak," tanya Rido bertubi-tubi pada Airin.
"Lancar dooong..." jawab Airin dengan bangganya, "Raffa sekolah, makanya tak di ajak. Lagian aku cuma sehari di sini, besok pulang lagi," ucap Airin lagi.
__ADS_1
"Besok?..."
"Iya...aku ke sini hanya ingin melihat keadaan Mas. Kalau Mas sudah bisa berjalan, mau ku ajak pulang sekalian..."
"Tapi, Dek. Mas baru belajar berjalan pakai tongkat," ucap Rido pelan.
"Yah... terpaksa deh Mas tak jadi ku ajak pulang. Dari pada nanti buatku repot..."
"Ya sudah, Adek kalau mau pulang ya pulang saja. Mas biar di sini dulu sampai sembuh," ucap Rido pelan, tersirat kekecewaan dari nada bicaranya.
______________________
"Maassss!...kok ngompol sih, bauuukk!" pagi ini, baru saja sampai di rumah emak, aku sudah mendengar teriakan Airin dari dalam kamarnya.
"Maaf, Dek. Mas nggak sanggup menahannya lagi... kalau mas paksaan ke kamar mandi pakai tongkat pun pasti nggak keburu," ucap Rido pelan.
"Bagaimana sih, Mas!" bentak Airin seraya membuka pintu kamar dengan kasar.
"Airin... baru saja sehari Kau di sini, Kau sudah membuat keributan," ucap emak tergesa-gesa masuk ke kamar Rido. Biasanya emak mengganti celana Rido dan mengumpulkan sprei bekas ompol untuk ku cuci. Benar ku duga, emak memanggilku dan menyerahkan satu keranjang sprei dan bad cover bekas ompol Rido tersebut.
"Habis... Mas Rido ngompol, bauuk sekali," ucap Airin membela diri.
"Kau istrinya, Rin. Kok jijik sama suami sendiri," ucap emak dengan lantang.
"Nah...ya itu... Aku ini istri, bukan suster pengurus orang sakit. Yang kalau seorang istri itu harus di bahagiakan, di manjakan. Sedangkan suster, baru itu tugasnya," jawab Airin dengan entengnya.
Wajahnya emak memerah mendengar ucapan Airin. Dia hendak menjawab ucapan Airin, tapi dengan sigap Rido memegang tangan emak seraya menggelengkan kepalanya. Mungkin dia tak mau mendengar keributan antara emak dan istrinya di pagi hari ini.
__ADS_1