
Dua Minggu lagi di rumah emak akan di adakan acara pernikahan Resti. Aku tambah sering datang ke rumah itu, membantu apa saja yang ku bisa ku kerjakan di rumah itu. Terkadang juga kami di minta emak untuk menginap, ku merasa ada perubahan dari sikap emak. Emak sedikit lebih baik kepadaku dan anak-anak, entahlah aku tak mau menanggapi terlalu senang, aku takut nanti kecewa. Bisa saja emak bersikap demikian karena memang saat sekarang lagi membutuhkan tenagaku. Ya Tuhan mengapa aku berpikiran buruk kepada orang tuaku sendiri. Lebih baik aku berdoa saja, mudah-mudahan perlakuan emak benar-benar berubah lebih baik kepada kami.
Airin sudah kembali ke kotanya, katanya ia mau menemani mamanya, sekaligus pergi mengunjungi papanya di lapas. Kasus papanya sudah di putuskan, papanya terbukti bersalah menggelapkan uang perusahaan. Aku tak tahu vonisnya berapa lama, karena Airin memang tak pernah memberi tahu pada kami di sini. Setiap di tanya siapa pun tentang kasus papanya, raut wajah Airin berubah. Sepertinya ia tak suka membahas kasus hukum yang sedang di jalani papanya itu.
Rido dan Raffa tetap tinggal di sini. Rido bekerja membantu bapak di kebun, sedangkan Raffa sudah di pindahkan sekolahnya ke sini. Aku tak menyangka kehidupan Rido berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini, dulu dia terbilang cukup sukses sebagai seorang pengusaha. Mempunyai istri yang cantik dan anak yang cerdas, dulu kehidupan Rido terlihat sangat sempurna. Tapi, kini Rido bekerja di kebun seperti suamiku, tinggal terpisah dengan istri cantiknya dan anaknya pun sekarang sama seperti anakku, yang dulu sering di bilang anak kampung oleh Airin.
______________________
"Mak... besok aku nggak bisa ke sini," ucapku pada emak saat aku hendak pulang sore ini.
"Emang Kau mau kemana?" tanya emak padaku.
"Aku mau bantu bang Rozi panen sayuran," jawabku pelan. Eh, aku belum cerita ya. Kalau lahan kosong yang di hibahkan bapak kepada kami, kini di tanami bermacam-macam sayuran oleh suamiku. Jadi, selepas menyadap karet suamiku baru mengolah lahan itu. Lumayan hasilnya sangat membantu keuangan kami.
"Panen sayur apa Rozi besok?" tanya emak lagi.
"Panen cabai, kangkung dan timun, Mak..."
"Seru tuh, emak ikutan ya," ucap emak seraya tersenyum. Aku pun kaget mendengarnya, apa nggak salah dengar nih, emak mau ikut denganku ke kebun sayuran.
"Iya, emak ikutan ya. Nanti kita makan sama-sama di sana pakai daun pisang, makan pakai sambel terasi dan lalapan segar langsung dari pohonnya," ucap emak seolah membayangkan kelezatan itu.
__ADS_1
"Be...nar emak mau ikut?" ucapku setengah tak percaya mendengar emak berbicara seperti itu padaku. Dulu jangankan berbicara akrab seperti ini, aku bertanya saja sering tak di jawab.
Emak mengangguk dengan antusias, "Nanti ku suruh Resti ajak Ferdi sekalian besok kan hari Minggu, Ferdi kerjanya libur. Anggap saja refreshing sebelum pesta pernikahan mereka di adakan."
"Baiklah, nanti aku buatkan sambel terasi-nya..."
"Biar emak yang nyiapin nasinya, nanti Resti nyiapin lauk lainnya. Buat ikan bakar enak kali ya, tempe goreng, tahu, terong dan...hmmm pasti enak," ucap emak pula.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya Mak, itu bang Rozi sudah jemput," ucapku seraya menunjuk kedatangan suamiku dengan motor bututnya. Sore ini aku pulang dengan perasaan bahagia, bahagia tadi melihat emak begitu manis berbicara kepadaku yang bukan menantu impiannya ini.
"Bang, besok emak mau ikut kita panen," ucapku pada bang Rozi saat kami baru saja sampai di rumah.
"Emak mau ikut?..." tanya suamiku, sama sepertiku tadi bang Rozi juga seperti tak percaya apa yang di dengarnya.
"Oo...ya sudah nggak apa-apa, panen rame-rame seru juga."
Aku mengangguk, "Emak juga bilang, besok pengennya kita makan sama-sama pakai daun pisang..."
"Emak bilang begitu padamu, Dek?"
"Iya... Bang..."
__ADS_1
Mendengar ucapanku barusan, seketika suamiku tersenyum.
"Alhamdulillaah ya, Dek," ucap suamiku seraya tersenyum bahagia.
"Alhamdulillaah, untuk a...pa Bang?"
"Ya Alhamdulillah, abang sangat bahagia sekarang melihat Adek bisa sedekat itu dengan emak."
Aku mengangguk dan ikut tersenyum, sepertinya suamiku juga menyadari perubahan emaknya padaku.
"Eh...itu apa?" tanyanya saat melihat kresek hitam di tanganku.
"Nggak tahu, Bang. Tadi di kasih emak untuk anak-anak katanya," ucapku seraya membuka kresek hitam yang di beri emak sebelum aku pamit pulang tadi. Memang dari tadi aku belum sempat membukakan.
"Ya...di lihat dong," ucap bang Rozi pula.
Aku pun membuka kresek hitam itu, dan ternyata isinya jajanan terdiri dari makanan ringan, biskuit dan empat buah susu kemasan kotak siap minum. Tak percaya rasanya, emak begitu peduli dengan anak-anakku, sampai membeli jajanan yang enak-enak ini, padahal dulu sisa-sisa mereka baru di berikan kepada kami. Tak terasa air mataku menetes dengan sendirinya.
"Kok nangis," ucap suamiku seraya menarik kresek hitam itu.
"Nggak apa-apa, Bang," jawabku seraya menyeka air mata.
__ADS_1
"Di kasih makanan kok nangis," ucap bang Rozi seraya tersenyum mengejekku. Sepertinya dia tahu kalau aku sedang terharu.
"Sudah kasih anak-anak gih," ucap suamiku pula. Aku pun memanggil anak-anakku dan membagi dengan adil pemberian nenek mereka tadi. Anak-anakku pun makan jajanan itu dengan lahapnya. Aku menatap mereka tanpa berkedip. Ya Tuhan, moga suatu saat kami bisa membuat kehidupan mereka lebih bahagia lagi.