Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
Airin kabur?


__ADS_3

"Kak Airin kabur, Kak."


Aku terperangah mendengar ucapan Resti, baru saja sampai di rumah emak, aku sudah mendapatkan berita yang tidak mengenakkan.


"Tadi malam perginya, Kak," lanjut Resti lagi.


"Emang apa masalahnya, Res?"


"Nggak tahu. Dia bosan hidup susah kali, Kak," sahut Resti dengan santainya.


Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan Resti dan tak ingin bertanya lebih lanjut lagi.


"Emak tak mengizinkan Kau pergi, Rido!" teriak emak dari depan.


Aku dan Resti saling berpandangan, seolah penasaran apa yang terjadi.


"Aku harus cari Airin, Mak," ucap Rido dengan lantang juga.


"Tak usah repot-repot Kau mencari wanita tak tahu di untung itu," teriak emak tak kalah keras dari tadi.


"Tapi, Airin itu istriku Mak," ucap Rido terdengar lirih.


"Baik Kau boleh pergi, tapi emak tak Sudi Kau bawa Airin ke rumah ini lagi," sahut emak dengan tegas.


"Iya, Mak. Aku hanya ingin tahu di mana keberadaan Airin saja. Agar hatiku tenang."


"Lelaki bodoh..."

__ADS_1


Mataku melotot ke arah Resti, sungguh tak percaya kata-kata seperti itu terucap dari mulutnya.


"Nggak usah terkejut begitu, Kak. Memang benarkan bang Rido itu bodoh, buciiin," ucap Resti lagi seolah mengerti kalau aku terkejut mendengar ucapannya.


"Tapi, kakak kok iba pada Rido ya Res."


"Aku juga begitu sebenarnya, Kak. Tapi, bang Rido saja begitu sikapnya. Kita yang lihatnya jadi muak," jelas adik iparku itu.


"Sudahlah, Res. Kita do'akan yang terbaik saja untuk mereka."


"Itu aku setuju, Kak. Ya sudah yok kita lanjutkan bikin kue saja Kak, biar cepat selesainya," ucap Resti pula. Ya, aku saat ini sedang membantu Resti membuat kue. Kue yang nantinya akan menjadi buah tangan Resti saat berkunjung ke rumah mertuanya.


_______________


Dua Minggu Rido pergi, akhirnya dia pulang. Wajah adik iparku itu terlihat lesu, mungkin karena ia pulang tanpa membawa serta istrinya itu.


Aku mengangguk, "Ada apa, Om?"


"Maaf kalau selama ini Airin sering menyinggung perasaan Kakak."


"Iya, Om," ucapku seraya mengangguk.


"Airin mau pulang ke sini, asalkan..." ucapan Rido tertahan, dia seperti ragu-ragu untuk mengutarakannya padaku.


"Asalkan apa Om?" tanyaku pula.


"Airin tak mau melihat Kakak sering-sering ke sini."

__ADS_1


Mataku terbelalak mendengar ucapan Rido, ternyata keberadaan aku di sini membuat Airin tak nyaman.


Aku tak tahu harus berkata apa, karena emak yang memintaku ke sini setiap hari. Membantunya membereskan rumah memasak sekaligus menemaninya di sini. Apalagi sekarang Resti sudah jarang di rumah karena lebih sering menginap di rumah mertuanya. Seandainya aku boleh memilih, aku lebih memilih membantu bang Rozi beke di kebun sayurannya. Hatiku lebih tentram berada di kebun sayur itu.


"Rido! Apa hak Airin melarang Yati kemari," ucap emak dengan sengitnya.


Aku kembali terkejut karena ternyata emak mendengar pembicaraan kami.


"Tapi, Mak Airin mau pulang dengan syarat itu," sahut Rido pelan.


"Terserah dia, aku nggak peduli dia mau kesini lagi atau nggak."


"Mak... nggak ada salahnya kita berikan kesempatan untuk Airin. Aku yakin Airin kali ini bisa berubah," ucap Rido lembut seraya menatap emak dengan penuh harap, "Izinkan istriku menunjukkan baktinya pada Emak, percayalah Airin pasti bisa juga seperti kak Yati."


"Nggak, aku nggak percaya wanita seperti istrimu itu bisa berubah..."


"Mak..." emak menoleh padaku, "Nggak ada salahnya kita memberikan kesempatan pada Airin, aku yakin Airin itu wanita yang baik."


"Nggak Yati, syaratnya saja sudah terdengar gila, tidak masuk akal," sela emak seraya menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak apa-apa kok, Mak," sahutku seraya tersenyum agar lebih meyakinkan emak mertuaku itu


Emak terdiam sesaat lalu menarik napas panjang, sepertinya emak sedang mempertimbangkan ucapanku tadi.


"Baiklah, Do. Aku beri Airin kesempatan, tapi dia tidak berhak melarang Yati ke sini."


Seketika wajah Rido sumringah mendengar ucapan emak. Dia melenggang pergi dengan senyuman bahagia di wajah tampannya.

__ADS_1


Dan aku, biarlah aku tak sering-sering ke rumah ini. Karena yang terpenting bagiku ketentraman di keluarga ini. Mudah-mudahan Airin benar-benar berubah.


__ADS_2