
Airin akhirnya menyerah, ia lebih memilih pergi saat itu juga. Sebenarnya, ada rasa tak tega melihat Airin mendapatkan penolakan dari Raffa. Tapi, itulah kehidupan, apa yang kita tanam itu yang kita tuai.
Tapi sebelum pergi, Airin seperti membisikkan sesuatu pada Rido.
"Awas kalau Kau berani lakukan itu!" bentak Rido dengan raut wajah memerah menahan amarah. Entah apa yang di bisikin Airin sehingga Rido jadi tersulut emosinya.
"Kita lihat saja nanti," ucap Airin seraya hendak melenggang pergi.
"Kau mengancamku Airin!" Rido menarik tangan Airin dan memelintirnya ke belakang. Tapi, Airin tak meringis kesakitan sedikit pun, malah dia tersenyum sinis.
Beruntung anak-anak sudah di bawa Resti ke dalam rumah untuk menonton kartun, sehingga mereka tak sempat melihat adegan itu. Apalagi Raffa, betapa terpukulnya hati anak itu kalau sampai melihat percekcokan antara papa dan mamanya ini.
Airin bergeming, ia masih dengan senyuman angkuhnya, karena telah mampu menyulut emosi Rido.
"Apa-apaan ini, lepaskan Airin, Do. Biarkan dia pergi," ucap emak lantang.
"Emak lihatkan, Mak. Anak Emak sendiri yang menahanku di sini," ucap Airin seraya terkekeh, "Mas Rido ini masih mencintaiku, Mak. Iyakan, Mas..."
"Pede sekali, Kau," ucap Rido seraya mendorong tubuh Airin hingga tersungkur ke depan. Beruntung posisiku berada di depan Airin, sehingga aku reflek menangkapnya. Coba kalau tidak, sudah di pastikan Airin akan tersungkur ke lantai.
"Pergi Kau, Airin. Sebelum kesabaran-ku habis..."
"Tenang, Mas...aku memang akan pergi, tapi ingat aku tak main-main dengan kata-kataku tadi." Airin pun pergi dengan senyuman sinisnya.
"Emang apa yang di katakan Airin tadi, Do?" tanya emak pula.
"Dia mau datang dan mengacaukan hari pernikahanku, Mak."
__ADS_1
"Benar-benar sudah stres Airin itu," gerutu emak.
"Bagaimana ini, Ti? Aku tak bisa bayangkan Airin datang di acara Rido dan Santi bulan depan, lalu membuat kekacauan di sana."
Aku menggeleng, tak tahu harus menjawab apa.
"Ya udah, nanti kita bicarakan lagi, kita rembukan lagi bersama-sama," ucap emak lagi, di sambut dengan anggukan oleh Rido dan juga aku.
____________________________
Setiap hari Rido mendapatkan teror melalui pesan singkat, siapa lagi pelakunya kalau bukan Airin. Bahkan bukan Rido saja, Santi pun mendapatkan teror itu. Entahlah, darimana Airin mendapatkan nomor ponsel Santi. Beruntung Santi adalah wanita yang kuat dan sabar, dia tak terlalu ambil pusing dengan teror-teror itu.
Hari ini, acara akad nikah itu akan di laksanakan. Semua terlihat gelisah, termasuk aku. Aku takut Airin datang dan mengacaukan semua, karena aku tahu Airin itu orangnya sangat nekad dan rela melakukan apa pun demi mencapai tujuannya.
"Semoga semua lancar ya, Mak..." bisikku pada emak saat kami berada di dalam mobil menuju kediaman orang tua Santi yang tak lain adalah paman dan bibiku sendiri.
___________________________
Tuhan memang tidak tidur, Dia pasti tahu dengan kegelisahan hamba-Nya. Yakin doa-doa kita akan di kabulkan.
Alhamdulillah acara akad nikah Rido dan Santi berjalan dengan lancar. Semua orang terlihat bahagia, termasuk Raffa, dia terlihat bahagia dengan pernikahan papanya dan Santi. Begitu juga Santi, ia terlihat sangat menyayangi Raffa, mudah-mudahan kebahagiaan selalu menyertai kehidupan mereka, selamanya.
Acara sudah usai, kami sekeluarga pamit pulang pada si empunya rumah. Tentu saja Rido tidak ikut bersama kami, sekarang ini juga rumahnya. Tapi, ada kejadian lucu, Raffa tak mau ikut pulang bersama kami. Ia menangis ingin tidur bersama bunda barunya, semua membujuk Raffa agar mau ikut pulang. Tapi, tidak dengan Santi, dia malah memeluk Raffa dan mengiyakan kemauan anak sambungnya itu. Kalau begitu ceritanya, gagal deh malam pertama.
___________________
"Habis nelpon siapa, Pak?" tanya Resti, setelah bapak menyudahi panggilan telpon dengan seseorang. ya, kami sekarang sudah di mobil menuju perjalanan pulang.
__ADS_1
"Pak RT..."
"Oo... Kok nggak bicara tadi saja, Pak?"
Iya, memang tadi pak RT dan keluarga yang lain juga ikut, cuma berbeda mobil saja dengan kami. Kami sekeluarga satu buah mobil, dan ada dua mobil lagi yang membawa pak RT dan yang lainnya.
"Iya, kalau bapak bicara sebelum kita pulang tadi, nanti takut ketahuan oleh abangmu," timpal emak pula.
"Maksudnya?" tanya Resti heran.
"Iya, tadi ada yang menelpon ke ponsel Rido, mengabarkan kalau Airin kecelakaan..."
"Kecelakaan?..." ucapku dan Resti hampir bersamaan.
"Iya, tadi Airin mau datang ke acara Rido tapi di perjalanan mobil yang di sewanya kecelakaan."
"Terus sekarang kita mau kemana, Mak?"
"Kita mau ke rumah sakit, aku ingin tahu seperti apa keadaan Airin. Apakah ia benar-benar kecelakaan atau cuma sandiwaranya saja," sahut emak pula.
"Eh... Mak, ponsel bang Rido masih sama emak?" tanya Resti pula.
"Iya, ini ponselnya," ucap emak seraya mengeluarkan ponsel milik Rido dari tasnya. Memang saat sebelum melaksanakan ijab Kabul tadi, Rido menitipkan ponselnya pada emak.
"Tak akan aku biarkan, wanita gila itu mengganggu hari bahagia anakku dengan teror-terornya itu," lanjut emak lagi seraya mematikan dan memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya kembali.
Aku dan Resti mengangguk, pertanda kalau kami paham maksud emak. Emak sengaja tak memulangkan ponsel Rido, agar Airin tak bisa menganggu hari bahagia anak dan menantunya itu.
__ADS_1