Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
ending


__ADS_3

"Dek...Dek...bukan itu Rido yang mengetuk-ngetuk pintu," ucap bang Rozi seraya menggoyang-goyangkan tubuhku.


Aku terkesiap bangun, "Iya, Bang. Ada apa ya?"


"Nggak tahu, ayo kita bukakan pintu," ucap suamiku seraya bangkit dari peraduan kami.


Aku pun mengekor di belakang bang Rozi, saat melewati ruang tamu kulirik jam dinding, menunjukkan hampir pukul setengah empat pagi.


"Ada apa, Do?" tanya bang Rozi pada adiknya itu saat pintu rumah kami terbuka.


"Bang...aku baru saja dapat kabar kalau Airin meninggal..."


"Hah!..." Aku dan bang Rozi serentak terkejut.


"Inalillahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucapku pelan, "Siapa yang ngabarin, Om? Nanti jangan..." tanyaku pula.


"Nggak, Kak. Ini beneran, Joe yang menelpon ku tadi," sahut Rido cepat.


"Astaghfirullah...maaf, Do," ucapku sungkan, wajar saja aku suudzon Airin sudah berulangkali bersandiwara membohongi kami dengan tujuan untuk menarik perhatian Rido.


"Iya, Kak nggak apa-apa, awalnya tadi aku sempat mikir gitu juga," ucap Rido pelan, "Kasihan Raffa ya, Kak," lirih Rido pula.


"Terus kapan kita pergi ngelayat ke sana?" tanya bang Rozi.


"Habis subuh nanti, Bang. Aku jemput mobil dulu di rumah ibu," sahut Rido.


"Ya sudah, kita siap-siap nanti habis subuh kita pergi bersama-sama," ucap bang Rozi lagi.

__ADS_1


Selepas solat Subuh kami pun berangkat bersama menuju kota tempat tinggal Airin, kami pergi bertujuh, aku, bapak, emak, bang Rozi, Rido, Santi dan Raffa sedangkan anak-anak yang lain kami titipkan ke rumah kak Minah dan nanti juga Resti akan pulang untuk menjaga anak-anak, mana tahu nantinya kami akan telat pulang.


Perjalanan ke kota Airin yang memakan waktu hampir setengah hari itu tentu sangat melelahkan, mudah-mudahan kami bisa sampai tepat waktu, sehingga nanti Raffa bisa melihat jasad mamanya untuk terakhir kalinya.


Entahlah, walau Airin semasa hidupnya begitu membenciku, dia yang selalu menganggap aku musuhnya, tapi sedikit pun aku tak membencinya. Apalagi kalau melihat wajah polos Raffa air mataku menetes dengan sendirinya. Kasihan dia, masih kecil sudah kehilangan mama seperti aku dulu, ibuku meninggal dunia saat aku kelas empat SD.


Akhirnya kami sampai juga di rumah duka, rumah itu terlihat lengang hanya beberapa orang berpakaian serba hitam khas pelayat yang duduk di depan rumah mama Airin.


Saat kami turun dari mobil, dan tiba-tiba mama Airin muncul dan berlari ke arah kami, dia langsung memeluk Rido dan menangis sejadi-jadinya.


"Rido! Mengapa Kau lama sekali datang, Airin sudah pergi, huhuhu," ucap mama Airin di sela tangisnya.


"Maaf, Ma. Kami baru dapat kabarnya tadi pagi," sahut Rido, terlihat Rido juga menyeka air matanya.


"Di akhir-akhir hidupnya hanya Engkau yang di sebut anakku, Rido," ucap mama Airin lagi tambah histeris.


"Sudah, Ma... sabar... ikhlaskan Airin," ucap Rido lagi seraya mengelus pundak mantan mertuanya itu. Mama Airin merenggangkan pelukannya, tapi dengan tetap terisak. Kali ini dia beralih pada Raffa yang baru saja turun dari mobil, karena tadi Raffa ketiduran dan kami sengaja tak membangunkannya, mama Airin memeluk cucunya itu dengan erat.


"Emang mama kenapa, Oma?" tanya Raffa, memang sedari tadi kami belum memberi tahu kalau mamanya sudah meninggal dunia.


"Mama sudah pergi, Nak..."


"Pergi kemana Oma?" tanya bocah sepuluh tahun itu dengan lugunya, pertanyaan Raffa itu tadi sukses membuat kami yang melihatnya menyeka air mata.


"Mama sudah meninggal, Nak," ucap mama Airin lagi dengan isak tangisnya semakin menjadi-jadi, kami pun mendekat kepadanya dan berusaha menenangkannya.


"Mama!..." teriak Raffa kencang, umur sepuluh tahun tentu telah bisa membuatnya mengerti arti dari kehilangan.

__ADS_1


Raffa menangis sejadi-jadinya, berlari masuk ke dalam rumah omanya, tapi sayang di dalam rumah itu tak di temukan lagi jasad mamanya. Karena kami datang terlambat, Airin sudah dimakamkan tiga jam yang lalu.


'Brukkk!' tiba-tiba mama Airin terkulai pingsan, beruntung aku dan bang Rozi yang berdiri di dekatnya bisa menangkapnya. Ya Tuhan, kasihan sekali mama Airin, suami masih di penjara, kini dia di tinggal pergi untuk selamanya oleh anak semata wayangnya. Moga beliau bisa menerima ini dengan ikhlas, Tuhan tak akan menguji hambanya, diluar batas kemampuannya. Aku sangat yakin itu, mama Airin pasti mampu melewati semua ini.


__________________________


"Maafkan atas semua kesalahan anakku ya, Mbak," ucap mama Airin pelan seraya memegang tangan emak mertuaku.


Ya, di sini kami sekarang, di atas gundukan tanah merah yang masih basah ini, setelah mama Airin siuman tadi kami semua di bawa ke makam Airin. Entah mengapa saat melihat nisan yang bertulisan nama Airin, tiba-tiba terbayang semua perlakuan Airin terhadapku. Tapi, demi Tuhan aku ikhlas memaafkan semua yang telah dilakukan Airin padaku duku.


"Iya, Mbak. Aku telah memaafkan Airin, aku juga minta maaf atas kesalahanku pada kalian, pada Airin khususnya," ucap emak seraya memeluk mantan besannya itu, mata emak terlihat berkaca-kaca, iya emak mertuaku itu menangis.


"Yati, mama juga minta maaf atas nama Airin padamu, akhir-akhir hidupnya ia juga menyebut namamu, ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf..." ucap mama Airin kembali terisak.


"Aku mengangguk, "Iya Tante, aku juga minta maaf..." tak ayal aku pun ikut menangis. Ya Tuhan, tempatkan lah Airin di surga-Mu.


"Santi..." panggil mama Airin pelan, adik sepupuku itu menoleh.


"Maafkan Airin...mama mohon..." lirih mama Airin, air mata seakan-akan tak pernah mau berhenti mengalir di pipinya.


Santi mengangguk, "Airin berpesan, sayangi Raffa seperti anakmu sendiri."


Santi kembali mengangguk, air mata pun mengalir di pipi wanita manis itu.


Setelah dari makam Airin, kami pun menginap satu malam di rumah mama Airin. Setelah mama Airin tenang, dia pun bercerita penyebab meninggalnya Airin. Dengan diiringi isak tangisnya dia menceritakan kalau Airin seminggu yang lalu nekad meminum racun penyemprot nyamuk. Memang dalam sebulan terakhir ini Airin terlihat berbeda, dia sering menangis sendiri di kamarnya. Entahlah, mungkin Airin mengalami depresi.


Airin di bawa ke rumah sakit, lima hari dirawat Alhamdulillaah dokter sudah diperbolehkan Airin pulang dan Airin dinyatakan sembuh. Tapi, dua hari setelah pulang ke rumah, Airin tiba-tiba muntah darah dan mengeluh sesak dan sakit di dadanya. Airin dilarikan kembali ke rumah sakit, tapi Tuhan berkehendak lain nyawa Airin tak bisa tertolong lagi.

__ADS_1


Ya Tuhan, sesak dadaku mendengarnya, mengapa Airin jadi seperti itu. Tapi, tak henti-hentinya aku berdoa semoga Tuhan mengampuni semua dosa-dosanya dan Airin di tempatkan di surga-Nya. Amin.


________________________


__ADS_2