Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
Ada apa dengan emak?


__ADS_3

"Abang saja yang pergi ya," ucapku pada bang Rozi. Malam ini, selepas magrib aku dan anak-anak di ajak ke rumah emak oleh bang Rozi, katanya besok Rido mau pergi. Jadi malam ini kami di suruh kumpul bersama di sana.


"Jangan gitu dong, Dek. Ini bapak yang minta, masak Adek tolak," balas bang Rozi pula.


"Tapi, Bang..."


"Kenapa?...Kau takut di sindir emak dan Airin," ucapnya lagi, seolah bisa membaca pikiranku.


Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya, "Tenang ada...Abang," ucapnya seraya berlagak seperti jagoan.


Aku tersenyum geli melihat tingkah lelaki-ku itu, "Sudah... nggak usah di ambil hati, biarkan saja mereka bicara apa, yang penting Adek tetap yang terbaik di hati abang." kali ini bang Rozi berbicara seraya tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya. Ya Tuhan, dia berusaha merayuku. Tapi, Tak bisa di pungkiri hatiku merasa tersanjung mendengar ucapannya.


Akhirnya kami pun pergi ke rumah emak, tetap seperti biasa bang Rozi mengantar anak-anak dulu, baru kemudian menjemputku berdua dengan Ilham.


_________________


"Lagi apa, Neng?" tanyaku pada Resti, adik iparku terlihat sedang sibuk di dapur. Beginilah aku, sudah terbiasa kalau ke rumah ini pasti dapur yang dulu ku tuju.


Seketika gadis manis itu menoleh, senyum sumringah pun mengembang di bibirnya.


"Nah... Kakak datang juga, bantuin Resti dong Kak," ucapnya manja.


"Boleh, bantuin apa nih?" tanyaku seraya tersenyum.


"Ini nyiapin makan malam, Kakak buatin teh ya..."


"Oke..." ucapku seraya mengacungkan jempol.


"Emak mana, Res?" tanyaku lagi.


"Emak lagi tak enak badan, Kak. Ada di kamar sedang istirahat," jawab Resti dengan raut wajah sedih.


Aku mengangguk pelan, "Airin mana?" tanyaku pula dengan suara pelan.


"Lagi ngambek," jawab Resti singkat.


"Ngambek kenapa?" tanyaku pelan.


"Apalagi kalau bukan karena tanah itu gagal di jual," jawab Airin pula.


"Gagal?..."

__ADS_1


"Iya, nggak jadi di jual sama bapak. Emang Kakak nggak tahu?"


Aku menggeleng.


"Masak Kakak nggak tahu, sertifikat tanah itu 'kan sudah di alihkan atas nama bang Rozi," ucap Resti seraya tersenyum.


"Hah?..." aku terkejut setengah mati mendengar ucapan adik iparku itu. Aku tak pernah di beritahu soal ini oleh bang Rozi.


Ekspresi wajah Resti berubah setelah melihat aku begitu terkejut mendengar ucapannya.


"Kakak benar-benar nggak tahu?" tanyanya dengan hati-hati padaku. Aku menggeleng, seketika Resti menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Bukankah... Kakak juga menyetujui kalau tanah itu di alihkan atas nama bang Rozi," ucapnya pelan dan ragu-ragu. Sekali lagi aku menggeleng.


Ya, aku merasa tak pernah menyetujui hal itu, dan aku sungguh tak berharap tanah itu jadi milik kami, karena aku tak mau semua itu akhirnya menjadi bumerang dalam hidup kami nantinya. Bagiku kedamaian keluarga ini lebih penting dari pada tanah itu. Biarlah kami tak mendapatkan tanah itu, asalkan persaudaraan ini tetap utuh.


____________________


Makan malam bersama telah selesai, kini bapak meminta kami semua berkumpul di ruang tamu. Aku sengaja berlama-lama mencuci piring di dapur, karena aku tak mau mendengar apa yang akan bapak umumkan nanti. Aku sudah tahu pasti tentang perubahan sertifikat tanah itu, pasti mereka mengira kalau aku yang meminta bang Rozi membujuk bapak untuk merubah sertifikat tanah itu ke nama bang Rozi.


"Kak...ayo ke depan." tiba-tiba Resti sudah muncul di belakangku, dan menarik tanganku.


"Kapan Kau ke dapur, Res?" tanyaku sedikit terkejut.


"Ayo...ke depan, semua sudah berkumpul tuh," ucap Resti lagi seraya menarik tanganku.


"Tunggu Resti, Kau duluan saja ke depan...kakak kelarkan dulu cuci piringnya," ucapku seraya menahan tarikan Resti.


"Nanti saja, Kak. Biar Resti yang kerjakan nanti." Resti melenggang santai seraya menarik tanganku.


Kami sampai di ruang tamu, semua sudah berkumpul. Bapak duduk di sofa panjang bertiga dengan bang Rozi dan Rido, emak duduk berdekatan dengan Airin, di pangkuan Airin ada Raffa yang sedang asyik bermain dengan tablet-nya. Sedangkan anak-anakku asyik menonton telivisi.


Aku dan Resti pun duduk di sebuah sofa berukuran sedang, saat aku akan duduk sekilas aku melirik ke arah emak. Mertuaku itu menatapku lama sekali, entahlah matanya selalu menyiratkan kebencian apabila memandangku, entah sampai kapan wanita yang sangat ku hormati itu berhenti membenciku. Airin pun begitu, dia melihatku dengan sinis, seolah aku ini musuh besar baginya.


"Ehemm..." bapak berdehem, seolah membuka pembicaraan malam ini. Kami serentak menoleh kepadanya.


"Begini... Kalian sudah berkumpul semua. Malam ini bapak mau ngasih tahu, kalau bapak telah merubah sertifikat tanah itu atas nama Rozi," ucap bapak seraya melirik ke suamiku.


"Kok tiba-tiba jadi begini, nggak bisa gitu dong, Pak," protes Rido," protes Rido, "Nggak ada musyawarah dulu, tiba-tiba saja tanah itu sudah jadi milik bang Rozi..."


"Rido!...tanah itu milik bapak, jadi bapak berhak mau memberikan pada siapa saja," sahut bapak dengan lantang.

__ADS_1


"Ini pasti Abang yang menghasut Bapak agar tak jadi menjual tanah itu," ucap Rido pula kepada bang Rozi, "Dan itu semua pasti permintaan Kakak 'kan." Rido beralih menuduhku. Aku menggeleng-gelengkan kepala, mendengar ucapan adik suamiku itu.


"Rido!...itu semua tak benar, kami tak pernah menghasut bapak," ucap bang Rozi dengan tegas.


"Alah... kalau bukan Abang siapa lagi. Kenapa sih, Bang. Abang sepertinya senang banget melihat usahaku bangkrut..."


"Bang, jangan samakan bang Rozi dengan Abang dong. Emang Abang yang mudah terpengaruh dengan ucapan istri dan selalu mengikuti semua keinginan istri walau diri Abang tak sanggup sekali pun," ucap Resti pada Rido yang seketika membuat Airin salah tingkah, wajah putih mulusnya berubah menjadi merah padam. Bapak mengangguk-angguk seolah setuju dengan ucapan anak bungsunya itu.


"Diam Kau, anak kecil," ucap Rido pada Resti. Resti pun memonyongkan bibirnya pertanda ia tak suka di bilang anak kecil.


"Mak... kemarin Mak bilang tak akan menyetujui ini. Tapi tiba-tiba kok seperti ini." seolah tak kehabisan akal, Rido pun beralih kepada emak meminta pembelaan.


Emak bergeming, tak merespon sedikit pun ucapan anak kesayangannya itu.


"Mak... ayolah tolong Rido dan Airin, Mak nggak mau 'kan melihat usaha kami gulung tikar," ucap Rido memohon.


"Dengarkan dulu bapakmu bicara sampai selesai, Do," ucap emak pelan.


Rido akhirnya menyerah, memilih duduk diam menunggu bapak bicara kembali.


"Begini..." ucapan bapak terhenti, dia seperti mengambil sesuatu di bawah meja. Sebuah map dan sebuah amplop coklat.


"Ini sertifikat tanah, sekarang jadi milik kalian," ucap bapak seraya menyerahkan map hijau itu pada bang Rozi.


"Bapak nggak mau dengar Kalian menolak. Apalagi Kau, Yati. Kalau kalian nggak mau terima nggak apa-apa, tapi bapak bukan memberikan untuk kalian, bapak menghibah tanah itu untuk cucu-cucu bapak," ucap bapak dengan tegas, terlihat keikhlasan dari wajah bapak mertuaku itu.


"Dan Kau, Rido. Sebenarnya bapak sudah tahu tujuan kalian mau menjual tanah itu..." Bapak berhenti berbicara, ia pun menarik napas panjang kemudian melanjutkan ucapannya.


"Tapi, bapak nggak mau di bilang nggak adil dengan tak jadi membantu Kalian. Ini bapak punya uang tabungan, pakailah kalau kalian memang sangat membutuhkan," ucap bapak seraya menyerahkan amplop yang dari tadi dia pegang pada Rido.


Seketika Rido tersenyum menerima amplop uang dari tangan bapak, begitu juga Airin. Wanita cantik itu terlihat tersenyum penuh kemenangan. Dan tanpa sungkan Airin merebut amplop itu dari tangan Rido. Yang kebetulan sofa panjang tempat Rido bergandengan dengan sofa kecil yang di duduki Airin. Jadi dengan mudah Airin menjangkau amplop itu dari tangan Rido.


Tampa menunggu waktu lama Airin pun membuka amplop itu, tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat setelah melihat isinya.


"Kenapa Sayang," bisik Rido pada Airin. Dengan wajah masam Airin menyerahkan amplop itu pada Rido. Rido pun melihat isi amplop itu.


"Mana cukup ini, Pak," ucap Rido seraya meletakkan dengan kasar amplop itu di atas meja.


Aku cukup terkejut melihat perlakuan Rido, sepertinya begitu juga dengan yang lain. Tapi, kami hanya diam tak ada satu pun kami yang berbicara, apalagi aku, dari awal musyarawah ini di mulai aku sudah berjanji dengan diriku sendiri. Tak akan ikut berkomentar apapun, karena aku ini wanita bodoh, aku takut salah.


Tiba-tiba emak berdiri dengan ekspresi wajah datar.

__ADS_1


"Oo...jadi uang ini kurang," ucap emak seraya mengambil amplop itu, "Ya sudah, nggak apa-apa," ucapnya lagi dengan santai, lalu melenggang pergi ke kamarnya dengan membawa amplop uang tadi di tangannya.


Kami semua melongo melihat tingkah emak, keajaiban apa ini. sehingga malam ini sampai emak tak membela anak dan menantu kesayangannya itu.


__ADS_2