
"Dek..." panggil suamiku pelan.
"Hmm," sahutku seraya mengalihkan badanku berhadapan dengannya.
"Belum tidur," ucapnya lagi. Matanya menatapku lekat, seolah ingin menyampaikan sesuatu.
Aku menggeleng.
"Dek, tadi bapak bilang...ingin mengalihkan sertifikat tanah itu atas namaku," ucapnya lagi dengan pelan.
"Hah!..." mataku terbelalak.
"Menurutmu bagaimana, Dek?" tanya bang Rozi lagi.
Aku menarik napas panjang seraya menatap lelaki yang sangat kucintai itu.
"Aku yakin Abang pasti sudah tahu jawabannya," jawabku lembut. Aku terus menatapnya.
Suamiku mengangguk, kemudian tersenyum seolah mengisyaratkan kalau dia mengerti dengan apa yang kupikirkan.
___________________
"Bang Rozi! Bang Rozi!" lengkingan suara terdengar dari teras rumahku. Rumah yang hanya sepetak ini memudahkan suara itu sampai di telingaku, walaupun aku di belakang rumah sekalipun.
Aku bergegas menuju teras, di sana telah berdiri Rido sambil berkacak pinggang.
"Mana bang Rozi, Kak?" tanya Rido saat melihatku.
__ADS_1
"Ada, lagi istirahat," jawabku pelan.
"Tolong panggilkan, Kak," ucapnya lagi dengan tegas.
"Masuk saja, Om," ucapku seraya masuk ke dalam rumah untuk membangunkan suamiku yang sedang tidur siang.
"Bang, apa maksudnya bapak urung menjual tanah itu?" Rido langsung mengajukan pertanyaan setelah bang Rozi menemuinya.
"Masuk dulu, Do," ucap bang Rozi pelan. Ya, memang dari tadi Rido masih berdiri di teras rumah kami.
"Di sini saja, Bang. Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari Abang. Karena aku yakin pasti Abang yang mempengaruhi bapak," ucapnya lagi dengan penuh penekanan.
"Tidak ada yang perlu aku jelaskan, Do. Karena aku memang tak tahu apa-apa..."
"Alah jangan pura-pura, Bang. Aku tahu selama ini Abang iri padaku 'kan, sebab itu Abang ingin menggagalkan rencana ku yang ingin menjual tanah itu," ucap Rido seraya tersenyum sinis.
"Hatimu busuk, Bang!" bentak Rido.
"Rido! Jaga ucapanmu," ucap suamiku mulai terpancing emosi.
"Hh!... Abang seperti apa Kau ini, Bang? Bahagia melihat adiknya sendiri dalam kesulitan!" teriak Rido seraya menunjuk ke arah bang Rozi.
"Rido!..."
"Kalau bukan Abang... mengapa tiba-tiba bapak ingin mengalihkan sertifikat tanah itu atas nama Abang! Picik sekali Kau, Bang!"
"Rido! Asal Kau tahu aku tak pernah menginginkan tanah itu..."
__ADS_1
'Bughh!' tiba-tiba Rido melayangkan tinjunya ke wajah suamiku. Aku pun segera mendekat kepada mereka berdua.
"Apa-apaan Kau, Rido!" teriak bang Rozi seraya mengangkat tangannya, sepertinya suamiku ingin membalas pukulan dari adiknya itu.
"Bang... sudah..." lirihku seraya memegang tangan suamiku, "Keterlaluan Kau, Rido!" aku beralih menatap adik suamiku itu.
"Apa, Kak...suamimu pantas mendapatkan itu, karena dia bapak membatalkan memberi bantuan padaku." Rido melotot tajam ke arahku.
"Aku tak pernah meminta bapak membatalkan menjual tanah itu, Rido!" teriak suamiku.
'Cihh!' Rido membuang air liurnya, seolah jijik dengan apa yang di lihatnya.
"Kalau bukan Abang, tak mungkin pagi ini tiba-tiba bapak ingin mengalihkan sertifikat tanah itu atas nama Abang," ucapnya lagi seraya tersenyum sinis.
"Harusnya Kau tanyakan pada dirimu sendiri, mengapa bapak sampai melakukan itu. Bukannya menyalahkan orang lain," ucap bang Rozi dengan emosi tertahan.
"Sudah, Bang... Rido, ayo masuk kita bicarakan baik-baik," ajakku seraya berbisik, karena beberapa tetangga sudah terlihat mengintip keributan di depan rumahku siang ini.
"Hh! Tak usah sok baik Kau, Kak. Aku tahu ini bagian dari rencana mu dan memperalat abangku untuk melakukan semuanya...ya apalagi yang di inginkan orang miskin sepertimu, Kak. Kalau bukan harta," ucap Rido bagaikan sembilu menyayat hatiku.
Tiba-tiba, 'Bughh!' bang Rozi melayangkan tinjunya ke pipi Rido,. Sehingga menimbulkan bercak darah di sudut bibirnya.
"Jangan bawa Yati dalam masalah ini, istriku tak seperti istrimu, gila harta!'" bentak bang Rido keras, tangannya menarik kerah baju Rido.
"Bang... sudah, aku nggak apa-apa..." lirihku.
"Ingat, Bang. Aku pastikan, aku akan berhasil menjual tanah itu," ucap Rido pula seraya melepaskan tangan bang Rozi dari kerah bajunya, lalu dia meninggalkan rumah kami dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
_________________