Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
Airin takut pada Resti


__ADS_3

"Kau sakit, Rin?" tanyaku pada Airin, saat aku baru saja masuk ke dalam rumah Rido.


Resti tertawa mendengar ucapanku, entahlah, mungkin ucapanku terdengar lucu di kupingnya.


"Ada yang lucu, Res. Kok ketawa?" tanyaku terheran-heran.


"Hahaha... nggak ada, Kak. Cuma lagi pengen ketawa ajah." Tawa Resti tambah lebar.


Aku garuk-garuk kepala, bingung melihat ekspresi Resti, ada apa dengan adik iparku itu. Dia tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Airin tertunduk lesu, dan diam seribu bahasa.


"Kakak mau tahu, Kak Airin kenapa?"


Aku mengangguk, dan Airin menoleh cepat ke arah Resti.


"Kak Airin itu memang sedang sakit..."


"Sakit apa? Pantes pucat begitu..."


"Kak Airin itu mengidap penyakit hati, dan itu susah sembuhnya..."


"Res... sudah," sela Airin serak, suaranya seperti tercekat di tenggorokannya.


"Mengapa, Kak? Takuuuuut..." ucap Resti sinis.


Airin tertunduk lesu.


"Res, ini ada apa?" tanyaku pula.


"Nggak ada apa-apa, Kak. Aku cuma sedang bersilaturahmi saja dengan kak Airin," ucap Resti pelan, "Ternyata, kak Airin ini orangnya ngangenin juga," tambah Resti lagi seraya mengusap-usap layar ponselnya, dan itu membuat Airin jadi tambah salah tingkah.


"Eh, ada Resti juga di sini, kapan datang Res?" tanya Rido muncul dari dapur.


"Kemarin, Bang," sahut Resti seraya tersenyum manis pada abangnya itu.


"Tapi, kali ini datang nggak lagi ada masalah 'kan dengan Ferdi?" tanya Rido lagi seraya tersenyum mengejek adiknya itu.

__ADS_1


"Nggak, Bang. Tenaaang... Kali ini aku datang khusus untuk bersilaturahmi dengan kak Airin," jawab Resti santai.


"Loh...kok Kau bisa tahu kalau Airin mau datang ke sini?" tanya Rido heran, aduh jangan sampai Resti bilang kalau aku yang memberi tahu padanya.


Resti terkekeh, "Jangankan sekedar tahu kak Airin di sini, bahkan isi hati kak Airin saja aku tahu," jawab Resti dengan lembutnya.


"Kayak paranormal saja Kau, Res..." ucap Rido lagi seraya tertawa, dan Resti pun ikut tertawa bersama abangnya itu.


"Eh, Rin. Apa kabar Siska..."


"Uhukkk... uhukkk..." Tiba-tiba Airin terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Rido.


"Keseleqqq...Kak?" tanya Resti pelan.


Airin menggeleng, "Sis-siska ba-baik, Mas," ucap Airin terbata-bata.


Rido mengangguk, "Kemarin dengar-dengar Siska mau kerjasama dengan Ferdi. Sejak kapan Siska ngerti tentang kuliner-kuliner tradisional gitu..."


"A-aku nggak tahu Mas..." sahut Airin.


Mata Airin terbelalak mendengar ucapan Rido, lalu dia cepat-cepat mengangguk.


"Oo...jadi kakak kenal dengan wanita yang ganjen sama suamiku itu?" tanya Resti pada Airin.


Airin mengangguk pelan, kemudian menunduk seolah takut bertentangan mata dengan Resti.


"Rin, sudah," bisikku seraya memegang tangan adik iparku itu. Karena aku melihat Raffa datang, tak mungkin aku membiarkan Raffa melihat tantenya sendiri mem-bully mamanya.


Resti mengangguk seolah paham dengan maksudku.


______________________


"Dari mana Kau dapatkan rekaman ini, Res?"


Aku benar-benar terkejut melihat rekaman video yang di tujukan Resti padaku.

__ADS_1


"Iihhh... kepo," sahut Airin seraya tertawa, "Gimana hebat kan adik kakak ini," ucap Resti lagi dengan bangganya.


"Jadi ini yang membuat Airin ketakutan tadi?"


Resti mengangguk.


"Ceritain lah sama kakak, adikku sayang," ucapku seraya tersenyum dan mengedip-ngedipkan mata kepada Resti.


Resti pun terkekeh mendengar ucapanku.


"Okelah...jadi gini Kak, seminggu yang lalu aku ikut bang Ferdi mensurvei tempat yang akan dijadikan restoran kami nanti, terus yang jadi rekan bisnis bang Ferdi sekarang adalah teman kuliahku dulu, namanya Friska."


"Terus Friska itu siapa?" tanyaku penasaran.


"Sabar dulu, Kak. Hausss..." sahut Resti seraya meneguk air dalam gelas di hadapannya.


"Daaan... Friska itu adalah anak dari om-om yang pernah pacaran sama kak Airin..."


"Hah!..."


"Iya, Kak. Dia yang cerita sendiri, mengapa dia sampai cerita itu padaku..."


"Kenapa?" tanyaku pula, aku sangat penasaran dengan cerita Resti. Dasar Resti suka sekali bercerita terputus-putus.


Resti kembali terkekeh melihat ekspresi penasaranku ini.


"Karena dia tahunya kak Airin itu istrinya bang Rido. Setelah kami bercerita panjang lebar, termasuk tentang Siska, akhirnya Friska menunjukkan video ini, video pas dia dan mamanya melabrak kak Airin dulu."


Aku mengangguk pertanda mengerti dengan cerita Resti.


"Itulah, Kak. Tuhan itu maha penolong, saat aku bingung mencari cara menghadapi kak Airin, eh di kirimkan-Nya Friska padaku."


"Tapi, kok selama ini nggak Friska saja yang mem-viralkan video itu?" tanyaku pula.


"Kalau menurut Friska, dulu itu kak Airin terluka parah oleh Friska, kakaknya dan mamanya. Itukan sama saja dengan tindak kriminal, jadi mereka membuat perjanjian. Airin tak akan membawa kasus itu ke jalur hukum, asalkan Friska dan keluarganya tak menyebar rekaman video itu."

__ADS_1


Aku mengangguk pertanda paham dengan yang diceritakan oleh Resti tadi, dan pantas saja Airin begitu ketakutan pada Resti, karena Resti mempunyai bukti yang apabila di sebarkan, sudah pasti membuat Airin hancur dan malu. Mudah-mudahan dengan itu, Airin tak lagi berusaha menganggu ketentraman keluarga kami.


__ADS_2