
"Dek, anak-anak sudah semakin besar, sepertinya rumah kita ini terlalu kecil untuk kita tinggali..."
Malam ini, seperti biasa aku dan bang Rozi mengobrol sebelum tidur.
"Jadi, maksud Abang rumah ini kita renovasi gitu?"
"Iya, Dek. Abang rasa tabungan kita sudah cukuplah. Tapi, kalau mau merenovasi rumah nggak mungkin deh, tanah kita sudah mentok..."
"Terus... maunya bagaimana, Bang?"
"Bagaimana kalau kita bangun rumah di tanah pemberian bapak itu, jadi kita bisa lebih leluasa berkebun di sana nantinya..."
"Tapi, Bang. Apa uang kita cukup kalau untuk membangun rumah dari awal."
"Kita jual saja rumah ini, Dek..."
"Jual?..." tanyaku kaget.
"Iya, itupun kalau Adek setuju."
"Ya sudah, Bang. Aku setuju saja, aku tahu yang Abang lakukan itu pasti yang terbaik untuk keluarga kita.
Bang Rozi tersenyum mendengar ucapanku, lalu berbisik, "Terima kasih istriku yang cantik."
_____________________
"Rozi, Yati. Ini uang, pakailah dulu buat tambahan Kalian membangun rumah," ucap bapak pada kami sore hari ini.
Aku menoleh kepada bang Rozi, bukankah dia baru berencana, tapi kok bapak dan emak sudah mengetahuinya.
"Nggak usah heran, Ti. Kemarin Rozi cerita sama aku dan bapakmu," jelas emak.
__ADS_1
"Tapi... Mak..."
"Nggak usah tapi-tapian, kami setuju kok. Sebenarnya bapakmu juga mau menganjurkan kalian untuk membangun rumah di sana, karena rumah kalian yang sekarang itu terlalu kecil."
"Maksud aku, uang itu terlalu banyak..."
"Begini, Dek. Sementara ini kita pakai dulu uang bapak, menjelang rumah kita terjual. Nanti rumah kita terjual uangnya untuk bapak," jelas bang Rozi padaku. Aku mengangguk pertanda paham.
"Iya, Ti. Maafkan bapak dan emak, yang hanya bisa membantu Kalian sebatas itu..."
"Tidak, Mak," sahutku seraya geleng-geleng kepala, "Ini udah lebih dari cukup, aku bersyukur sekali, Mak. Terima kasih banyak."
Emak dan bapak pun tersenyum manis kepadaku.
"Eh, eh... kalau kak Yati dan bang Rozi bangun rumah di sana, kami juga mau dong," timpal Rido yang baru saja keluar dari kamarnya. Diikuti oleh Santi di belakangnya.
"Biar kita tetanggaan, boleh ya bang kami numpang," lanjut Rido pula.
"Siip dah," ucap Rido terkekeh, "Doakan, kami cepat dapat rezeki, biar ikutan bangun rumah juga," lanjut Rido lagi seraya tersenyum ke arah istrinya.
"Amiiinn..." ucap kami hampir bersamaan. Setelah itu kami pun kembali tertawa bersama.
_________________________
Akhirnya rumah baru kami selesai dibangun, rumah yang lebih besar dari sebelumnya, tentunya. Dan kalau tidak ada halangan, minggu ini juga kami akan pindah ke sana.
Tapi, ada sedikit kekhawatiran di hatiku. Yaitu tentang uang bapak yang kami pakai, karena sampai saat ini rumah kami yang lama belum juga laku terjual. Walau emak berulang kali mengatakan, tak usah di pikirkan perihal uang itu.
Hari ini kami melaksanakan syukuran kecil-kecilan rumah baru kami, semua berkumpul dan terlihat bahagia dengan rumah kami ini. Kami mengobrol bersama di temani dengan cemilan buatanku sendiri, kumpul-kumpul keluarga ini pun tambah seru dan asyik.
"Untung tanah ini tak jadi di jual ya, Mak..." celetuk Rido dan membuat kami serentak menoleh kepadanya.
__ADS_1
"Seandainya tanah ini dulu terjual pasti akan lain ceritanya, dan mungkin kita tidak akan sebahagia ini."
"Kau bicara apa, Om. Biarlah yang lalu, yang penting sekarang kita bahagia," ucapku pada Rido, dan di iyakan oleh anggukan kepala emak.
"Tapi, Kak. Aku hampir saja membuat keluarga kita hancur," sahut Rido dengan penuh sesal.
"Maafkan aku ya, Kak..." lirih Rido pula.
Dan aku pun mengangguk.
"Sudah... sudah...."
Ucapan emak terputus, karena terkejut melihat Santi berlari menuju ke belakang.
"Kenapa Santi, Do?" tanya emak seraya bangkit dan menyusul Santi, begitu juga denganku.
'Hoek!...Hoek!' terlihat Santi memuntahkan cemilan yang baru saja ia makan.
"Kau kenapa, San?" tanya emak khawatir.
"Iya, Adek kenapa?" tanya Rido pula. Dan langsung berinisiatif memijat tengkuk istrinya itu.
Santi menggeleng, "Nggak tahu, Mak. Tiba-tiba saja keripik singkong tadi terasa eneg."
'Hoek!...Hoek!' Santi pun kembali muntah-muntah.
"Masuk angin kali," ucapku pula, "Nanti Kakak kerokin ya..."
"Atau jangan-jangan..." ucap emak pelan, "Kau hamil, San..."
Aku, Rido, Santi dan emak saling berpandangan dan sesaat kemudian kami pun tertawa bersama. Mudah-mudahan Santi benar-benar hamil.
__ADS_1