
"Kau menipu kami lagi ya, Airin!" teriak emak saat kami sampai di klinik yang katanya tempat Airin di rawat.
Bukan rumah sakit besar seperti yang ku pikirkan, hanya klinik kecil yang hanya mempunyai beberapa kamar. Klinik ini juga sepi, mungkin di sini lebih banyak orang-orang berobat rawat jalan saja. Tak ada juga tanda-tanda kalau Airin baru saja mengalami kecelakaan, hanya ada luka-luka lecet di bagian tangannya, itupun sudah mengering, sepertinya luka-luka itu sudah berhari-hari.
Airin tersenyum penuh kemenangan, "Mana mas Rido? Pasti dia khawatir banget mendapatkan kabar kalau aku kecelakaan."
"Nggak ada," sahut emak cepat.
"Mana mas Rido, Bang?" tanya Airin pada bang Rozi. Ya, selain aku ada juga bang Rozi yang menemani emak ke ruangan yang katanya tempat Airin di rawat. Sedangkan yang lain menunggu di mobil.
Belum lagi bang Rozi menjawab, Airin sudah beralih dan berbicara kepadaku.
"Jangan katakan kalau suamiku sudah menikahi wanita gatal itu. Kak Yati, ini pasti ulahmu, sebegitu bencinya Kau padaku sehingga Kau menyuruh adikmu itu merayu suamiku!" ucap Airin histeris ke arahku.
"Rido memang sudah resmi menjadi suami Santi, Airin," sahutku pelan.
Emak menggelengkan kepala, "Tak tahu malu Kau ini Airin," ucap emak seperti tak habis pikir.
"Sudahlah, Mak. Ayo kita pergi, buang-buang waktu saja kita ke sini," timpal suamiku.
"Ya, sudah ayo," sahut emak pula seraya menarik tanganku keluar dari ruangan ini, tapi tiba-tiba emak berhenti dan kembali menoleh kepada Airin yang terlihat sedang menangis seraya memeluk kedua lututnya itu.
__ADS_1
"Airin..." ucap emak dengan lembut, Airin menoleh dengan tatapan penuh kebencian.
"Jangan pernah lagi Kau lakukan hal bodoh seperti ini, yang lalu biarlah berlalu, ambil hikmah baiknya. Kau masih muda, masa depanmu masih panjang, gunakan sebaik mungkin. Mak doakan semoga Kau kelak lebih bahagia dari hari ini, dari hari sebelumnya saat masih bagian keluarga kami."
Hatiku terenyuh, mendengar emak dengan tulusnya mendoakan Airin dan aku pun mengamininya dalam hati. Tapi, tidak dengan Airin dia seolah masa bodoh mendengar ucapan emak.
"Munafik Kalian!" seru Airin pula, "Gara-gara Kalian hidupku hancur, semua hancur!" histeris Airin seraya menunjuk ke arahku.
"Sudah, Mak...ayo," bisikku seraya menuntun emak keluar ruangan ini, karena tadi aku melihat napas emak sudah tersengal-sengal mendengar teriakkan Airin.
_______________________
"San, biar Kakak saja," ucapku pada Santi saat Santi hendak mencuci tumpukan piring di wastafel. Ya, hari ini Rido membawa pulang Santi untuk pertama kalinya semenjak mereka sah menjadi suami istri.
"Emang Kamu nggak capek?" tanyaku seraya mengedip-ngedipkan mataku, menggodanya.
"Ah... kakak," ucapnya tersipu-sipu malu. Aku terkekeh melihat ekspresi pengantin baru itu.
"Benar nih, Kamu yang mau cucikan semua ini?"
Santi mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah..." aku pun meninggalkan Santi dengan tumpah piring kotor itu.
Tapi, saat akan ke depan sekilas terlihat emak sedang senyum-senyum sendiri di halaman belakang. Aku pun urung ke depan, dan berjalan ke belakang rumah menghampiri emak. Emak pun tambah sumringah melihatku mendekat ke arahnya.
"Ngapain, Mak?"
"Nggak lihat aku lagi ngasih ayam makan," sahut emak.
"Iya...aku tahu, tapi nggak harus senyum-senyum juga dong pada tu ayam-ayam..."
Emak tertawa lebar mendengar ucapanku, begitu juga denganku. Sungguh sampai saat ini aku masih terpacaya, aku bisa sedekat ini dengan emak, bersenda gurau dan tertawa bersama.
"Yati..." panggil emak lembut, aku menoleh, "Baik-baik ya dengan adik-adikmu, emak sangat bahagia melihat Kalian semua saling menyayangi," ucap emak lagi seraya menatapku tulus.
Aku mengangguk, "Terima kasih, Mak...telah menganggap ku seperti anak emak sendiri, aku... sangat menyayangi emak..." lirihku, air mataku meleleh di pipi. Lalu aku dan emak pun berpelukan.
"Mau juga di peyuukkk..." rengek Resti yang tiba-tiba sudah berada di dekat kami.
Serentak aku dan emak menoleh kearah Resti. Dengan cepat aku menyeka air mataku, aku pun tersenyum geli melihat kelakuan adik iparku itu.
"Dasar manja," ucap emak seraya memeluk dan mencubit pelan hidung anak bungsunya itu.
__ADS_1
"Eh....kak Santi, ke sini," ucap Resti setelah melepaskan pelukan emak. Aku dan emak menoleh, ternyata Santi berdiri di dekat pintu dapur dan tersenyum ke arah kami.
Santi pun mendekat, untuk ikut bergabung bersama kami. Dan akhirnya sore ini kami habiskan dengan bercerita, bersenda gurau bersama. Bahagianya.