Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
POV Airin


__ADS_3

Aku tak bisa terima begitu saja, mas Rido menikah dengan wanita lain. Tak akan aku biarkan mereka bahagia, sedangkan aku hancur sendirian.


Masih teringat enam bulan yang lalu, aku telah membuat rencana yang matang untuk menggagalkan pernikahan mas Rido. Tapi, orang tua sialan itu mengancamku, seminggu sebelum hari pernikahan mas Rido, bapak meneleponku, dia bilang polisi akan standby di sekitaran rumah Santi. Jadi, kalau aku berani datang dan mengacaukan acara pernikahan anaknya, polisi akan langsung membekuk ku.


Aku marah dong, di ancam seperti itu. Aku berpikir keras mencari ide untuk menggagalkan pernikahan mas Rido. Tapi, seakan-akan otakku buntu, satu ide pun tak muncul di kepalaku.


Kalau situasi seperti ini, biasanya aku butuh refreshing untuk menyegarkan pikiran. Ya, satu-satunya refreshing yang tepat buatku adalah shoping. Ku cek saldo di ATM-ku, kemarin aku baru dapat transferan dari sugar Daddy-ku yang baru. Lumayan cukuplah untuk memuaskan hasrat belanjaku.


Aku pun berangkat menggunakan motor matic, satu-satunya kendaraan yang ku punya saat ini. Tapi, sial di perjalanan aku hampir menabrak mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mungkin karena terlalu banyak pikiran, sehingga aku kurang fokus berkendara. Karena tadi aku menekan rem secara mendadak, dan membuat sepeda motorku oleng dan aku pun tersungkur di aspal. Aku meringis kesakitan, kaki dan tanganku lecet-lecet setelah berciuman dengan jalanan hitam itu.


Tapi, tiba-tiba ide cemerlang muncul di benakku. Aku tahu harus melakukan apa. Baru kali ini, aku kecelakaan bukannya kesakitan tapi malah tersenyum senang.


Sehari sebelum acara pernikahan mas Rido, aku sengaja mencari klinik yang tak begitu jauh dari kampung mantan suamiku itu. Aku pura-pura pusing, dan minta di rawat di sana. Baru keesokan harinya, aku membayar seseorang untuk menelpon ke ponsel mas Rido dan bilang kalau aku kecelakaan. Aku sangat yakin mas Rido itu sangat mencintaiku, dia pasti akan khawatir mendapatkan kabar kalau aku masuk rumah sakit karena kecelakaan. Dan setelah itu, bisa di pastikan mas Rido akan meninggalkan Santi dan langsung ke rumah sakit mencariku.


Tapi, hingga petang yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang, tentu saja aku sangat kesal. Malah yang datang mereka yang tak ku harapkan. Bukannya berempati dengan keadaanku, malah mereka menceramahi ku dengan kata-kata mutiara yang tak jelas itu. Sakit kupingku rasanya, mendengar ucapan mereka. Awas kalian, Airin tak akan membiarkan kalian bahagia di atas keterpurukan ku ini.


"Maaf, Mbak. Sepertinya mobil kita mogok," ucap pak sopir mobil yang ku sewa ini, dan itu membuyarkan lamunanku.


"Kita di mana ini, Pak?" tanyaku pula.

__ADS_1


"Sudah, dekat dengan tujuan Mbak."


"Bagaimana sih, Pak. Periksa dulu dong mobilnya sebelum berangkat, kalau begini kan mengganggu kenyamanan penumpang," gerutu ku pula.


"Sekali lagi aku minta maaf ya, Mbak. Tunggu sebentar ya Mbak, aku periksa dulu mesinnya," ucap pak sopir itu sopan.


"Nggak usah, aku cari tumpangan lain saja, nanti kalau mobilnya sudah baik jemput aku di alamat ini," ucapku seraya menyerahkan secarik kertas lalu keluar dari mobil itu.


Setelah keluar dari mobil, hanya satu yang terpikirkan olehku, yaitu meminta pertolongan pada mas Rido. Ya, memang aku sekarang mau ke rumah emak, aku sangat merindukan anakku.


"Ya, Rin," sahut mas Rido di ujung telepon. Ah, suara itu selalu membuatku rindu, aku ingin memilikinya seperti dulu.


"Kau di mana?" tanya mas Rido pula, dan aku pun menyebutkan tempat posisiku sekarang yang kebetulan memang tak jauh lagi dari kampung mas Rido.


"Ya sudah, tunggu di sana. Kebetulan aku juga dari kota dan di dalam perjalanan pulang."


'Yes!' hatiku bersorak, mas Rido bersedia menjemputku. Nanti, kesempatan ini tak akan aku sia-siakan untuk mendapatkan hati mas Rido lagi.


Mobil milik mantan bapak mertuaku itu pun berhenti di dekatku. Aku tahu itu pasti mas Rido yang datang menjemputku. Tapi, betapa kecewanya aku, karena di dalam mobil itu bukan mas Rido sendiri, ada juga Santi di sana. Tapi, keadaan Santi sangat memprihatinkan, dia terlihat lemah dan wajahnya pun pucat.

__ADS_1


Aku di bakar api cemburu, melihat romantisnya mas Rido pada Santi. Dia begitu perhatian, pada istrinya itu, yang ternyata Santi sekarang sedang hamil muda. Aku bagaikan obat nyamuk di antara mereka, duduk di belakang sendirian. Kesal sekali rasanya.


"Selamat ya, San," ucapku basa-basi, karena tak enak juga dari tadi aku hanya diam saja.


"Terima kasih, Mbak," jawab perempuan itu datar, sebal, ingin rasanya aku mencakar-cakar wajah wanita sok cantik itu.


"Eh, San. Mas Rido ini sosok lelaki perhatian loh, dia ini sangat telaten loh menjaga istrinya yang sedang hamil. Seperti dia menjagaku dulu, saat hamil Raffa," ucapku seraya tersenyum, aku sengaja memanas-manasi Santi dengan bercerita tentang kami dulu.


Mas Rido pun tersenyum mendengar ucapanku, tapi berbeda dengan Santi, wajahnya seketika bermuram durja. Aku tahu, Santi pasti cemberut karena mendengar kata-kataku tadi.


"Kok manyun, Dek?" tanya mas Rido seraya mencolek hidung Santi, kesal sekali aku melihatnya.


"Nggak..." sahut Santi seraya menepis tangan mas Rido. Idih, sok manja pula wanita satu ini.


"Jangan gitu dong, Dek. Ingat kata dokter, Adek nggak boleh banyak pikiran takut berdampak ke janin kita," ucap mas Rido lagi, ia berusaha merayu istrinya. Ingin rasanya ku timpuk Santi ini dengan high heels yang kupakai ini.


Tapi, tunggu dulu. Kandungan Santi lemah? Ah, aku punya ide cemerlang.


______________________

__ADS_1


__ADS_2