Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
penyebab emak pingsan (POV Resti)


__ADS_3

"Pak..." panggilku pelan. Saat bapakku sedang asyik memberi ayam peliharaannya makan.


"Hhmm..." sahut bapak. Ia menoleh sekilas padaku, setelah itu kembali fokus dengan ayam-ayam itu.


"Resti...mau bicara sebentar, Pak," ucapku lagi dengan perasaan ragu-ragu.


"Ya, bicara saja Res." lelaki cinta pertamaku itu tersenyum. Aku menghela nafas panjang, ini adalah waktu yang pas untuk aku kasih tahu rekaman itu pada bapak.


Bang Rido sedang ke kota menemani istrinya ke salon. Emak juga ikut dengan mereka, katanya sekalian jalan-jalan untuk nyenengin emak. Entahlah, sepertinya ada embel-embel lain, makanya kak Airin begitu manisnya mengajak emak jalan-jalan.


"Tapi, Bapak janji. Setelah mengetahui semuanya nanti, Bapak harus tegas mengambilnya keputusan..."


"Ayo sini." bapak menarik tanganku untuk duduk di bangku di bawah pohon mangga.


Setelah kami duduk, aku putar rekaman suara kak Airin bertengkar denganku tempo hari. Bapakku tak memberi tanggapan apa-apa tentang rekaman itu. Mukanya terlihat santai-santai saja.


Setelah itu, aku putar sebuah video lagi. Video itu kuambil diam-diam, saat itu bang Rido dan kak Airin sedang mengobrol di teras samping rumah. Di video itu mereka menyebut soal penjualan tanah dan keinginan kak Airin untuk membeli mobil baru.


Bapak tak berkomentar satu patah kata pun. Ia bangkit dan meninggalkanku sendirian di bangku ini. Ya, begitulah bapakku selalu tak bisa di tebak apa yang ia pikirkan. Seperti sekarang ini, dia hanya menanggapi dengan datar setelah melihat rekaman suara dan video kelicikan kak Airin.


_____________________

__ADS_1


"Buat anak sendiri kok perhitungan banget," ucap emak dengan lantangnya.


"Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membantu usaha mereka itu, Paaak!" teriak emak pula. Kegaduhan pun tak terelakkan di rumahku pagi ini.


"Mereka itu membodohi kita, Bidah," sahut bapak dengan tegas. Zubaidah, adalah nama emakku.


"Jangan mudah percaya, Pak. Airin berbicara seperti itu ada alasannya, ia terbawa emosi mendengar ucapan Resti," sanggah emak pula. Mendengar pertengkaran itu semakin hebat, aku pun buru-buru ke kamar emak dan bapak. Melewati kamar bang Rido dan kak Airin, pintu kamar itu tertutup rapat. Aku yakin pasti mereka ada di dalamnya.


"Pokoknya, aku telah memutuskan tanah itu tak akan aku jual, titik," ucap bapak dengan sengitnya.


"Mak, Pak sudah...malu di dengar tetangga," ucapku dengan lembut.


"Jelaskan pada bapakmu kalau itu tidak benar, Resti," ucap emak padaku. Apa yang harus aku jelaskan, memang itu kenyataannya. Bang Rido dan kak Airin memang sedang membohongi bapak dan emak.


"Itu semua tak benar, Pak. Usaha Rido terancam bangkrut, dan aku mau kita membantunya." emak berbicara penuh dengan penekanan. Wajah emak terlihat memerah, dia memegang dada seolah-olah susah untuk bernafas.


Ku pegang tangan emak seraya berbisik, "Sabar...Mak istighfar."


Emak sedikit tenang setelah ku pegang tangannya. Tapi, tiba-tiba bapak kembali berbicara dengan tegas dan lantang.


"Kalau Kau tetap bersikukuh ingin menjual tanah itu, aku akan bagi dua harta yang kita punya. Bagian Kau, silahkan Kau jual untuk anak dan menantu tak tahu diuntungkan itu. Sedangkan bagianku, jangan harap," ucap bapak seraya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Mendengar ucapan bapak barusan, tiba-tiba emak kembali memegang dadanya.


"Sakit..." lirih emak seraya meringis dan...


'Brukk!' emak terkulai lemah ke lantai tanpa sempat ku tahan.


"Emak!" jeritku. Bapak segera merangkul istrinya itu.


"Bang Ridoo!"


"Ada apa ini," ucap bang Rido terengah-engah.


"Emak kenapa, Pak?" tanyanya lagi pada bapak yang sedang berusaha membangunkan emak.


"Ayo bantu angkat," ucap bapak pada bang Rido. Kami bertiga pun menggotong emak ke atas tempat tidur. Beginilah emakku, tak bisa terbeban sedikit saja pikirannya langsung saja tumbang.


Menantu kesayangan emak pun ikut masuk ke dalam kamar. Tapi hanya berdiri, tak ada niat sedikitpun untuk membantu menyadarkan emak. Gosokkan minyak angin atau berusaha memijat kepala emak. Raut wajahnya datar, tak ada sedikitpun rasa cemas tergurat di muka glowing-nya itu.


Ingin rasanya ku damprat kakak iparku itu, tak sadarkah ia kalau ini semua ulah dari perbuatannya. Tapi, emakku lebih penting. Ku peluk emakku, kupanggil namanya, berharap ia segera sadar.


Setelah emak sedikit membaik, ia sudah bisa membuka matanya. Aku segera keluar kamar untuk mengabari bang Rozi.

__ADS_1


"Iya, Res." dengan cepat panggilanku di jawab oleh abang tertuaku itu.


"Bang, pulang...emak pingsan..."


__ADS_2