
"Kapan sih mereka perginya," gerutu emak. Aku pura-pura tak mendengar, aku terus sibuk dengan pekerjaanku mencuci piring yang sudah menumpuk memenuhi wastafel. Mungkin peralatan bekas seisi rumah ini sarapan pagi tadi. Ya, aku baru saja tiba di rumah emak.
"Masak apa Kau hari ini, Yati?" tanya emak pula.
Aku menggeleng, karena memang emak belum menyuruh aku belanja hari ini.
"Resti mana, Mak?" tanyaku pada emak. Karena memang Resti yang biasa menemaniku belanja dan juga Resti tak akan membiarkanku di dapur sendirian apalagi membiarkan cucian piring menumpuk seperti ini.
"Resti di jemput Ferdi tadi pagi, ada acara di rumah tantenya Ferdi," jawab emak pula. Ferdi adalah nama tunangan Resti, aturan mereka sudah menikah, tapi karena musibah yang menimpa Rido, akhirnya acara sakral itu di undurkan.
Aku mengangguk, mengerti mengapa cucian piring sampai menumpuk seperti ini. Adik iparku itu, mungkin tadi pagi buru-buru pergi sehingga tak sempat membereskan piring-piring kotor ini. Sedangkan Airin tak mungkin dia mau mencucinya, apalagi mamanya, yang sudah terbiasa hidup dilayani pembantu.
"Yati, itu ada nangka muda di pohonnya," ucap emak seraya menunjuk ke arah belakang rumah, "Nanti Kau masak itu ya."
"Masak nangka muda, Mak. Di apakan?" tanyaku heran. Karena di rumah ini hampir tak pernah memasak menu dari nangka muda, karena bapak mertuaku tidak suka. Apalagi sekarang ini sedang ada tamu, Airin dan mamanya, yang biasanya Airin datang saja emak sambut dengan spesial, apalagi sekarang ada mamanya juga. Aneh saja rasanya, ada tamu istimewa itu emak menyuruhku memasak seadanya.
"Terserah Kau saja, kalau ada kelapa Kau gulai. Kalau nggak ada, kau oseng-oseng saja pakai cabe rawit," jawab emak yang membuatku tambah keheranan.
"Masak nangka muda saja, Mak. Nggak ada yang lain?..."
"Bawel sekali Kau ini Yati," ucap emak sewot, "Ya itu saja, pusing kepala emak. Mereka lama sekali perginya, sudah sebulan di sini makan tidur makan tidur, sudah kayak bos saja," gerutu emak pula.
Aku terbelalak mendengar ucapan emak, aku tahu yang di maksud emak pasti Airin dan mamanya.
"Sudah... Kau masak saja itu. Kalau mau... makan, kalau nggak ya sudah, terserah," ucap emak lagi seraya berlalu dari hadapanku.
______________________
__ADS_1
"Eh, kak Yati," sapa Airin padaku, Airin sedang duduk di teras rumah dengan mamanya saat aku akan pulang sore ini.
"Ya ada apa Rin," sahutku dengan lembut.
"Kakak sengaja ya masak gulai nangka muda saja tadi, lihat tuh maag mamaku kambuh, gara-gara terpaksa makan gulai nangka muda tadi," ucap Airin ketus. Sedangkan mama Airin mendelik tajam padaku dan tangannya sesekali memegang perutnya di bagian ulu hati.
"Bukan begitu, Rin. Ta-tadi emak yang memintaku memasak itu saja," jawabku pelan.
"Emak?... Tak mungkin," ucap Airin seraya geleng-geleng kepala, "Tak mungkin emak yang menyuruh Kakak memasak menu kampung itu, sedangkan aku ada di rumah ini," sambung Airin lagi dengan pedenya.
"Bener Rin, aku nggak bohong..."
"Ini pasti ulah Kakak, aku tahu Kakak iri padaku," ucap Airin dengan ketusnya.
Aku menggelengkan kepala mendengar ucapan wanita yang katanya berpendidikan itu.
"Kakak iparmu ini benar-benar tak tahu ya, Rin," timpal mama Airin pula, "Iri ya iri saja, tapi cara Kau tadi sangat kampungan. Gara-gara masakan Kau tadi, aku hampir celaka. Emang kalau aku sakit Kau mau tanggung jawab hah!" ucap mama Airin dengan lantang padaku.
"Alah...pandai berkilah Kau babu!..."
"Tante!" seru Resti tiba-tiba muncul dari arah pintu. Kami bertiga serentak menoleh. Resti berjalan ke arah kami dengan tatapan tajam.
"Jaga ucapan Tante ya, kak Yati bukan babu di sini. Dia membantu dengan ikhlas tanpa bayaran di rumah ini, seharusnya Kalian berterima kasih karena kak Yati yang telah melayani Kalian dengan sukarela," ucap Resti dengan lantang.
"Benar kata Kamu, Sayang. Kalau babu memang cocok membela kaumnya," bisik mamanya pada Airin. Walaupun berbisik, tapi tetap kedengaran, mungkin itu semua faktor kesengajaan.
"Apa Tante?... Tante bilang kami kaum babu?...memang ya kalian berdua ini nggak ada sadar dirinya, sudah dikasih teguran sama Tuhan masih saja sombong," seru Resti pula, "Sadar woi!... Kalian sekarang itu numpang," sambung Resti dengan lantang.
__ADS_1
"Resti! Enak saja Kau bilang kami numpang, ini rumahnya mas Rido otomatis juga rumahku. Dan aku berhak ngajak siapa saja di sini, apalagi ini mamaku sendiri," ucap Airin menyela ucapan Resti.
"Tetap saja itu namanya numpang," ucap Resti dengan santainya, "Sudah numpang, maunya di bos-kan pula, dasar nggak tak tahu diri," sambung Resti lagi seraya menengadahkan kepalanya. Seolah-olah dia tak berbicara dengan dua orang wanita modis di depan kami itu.
"Lancang sekali Kau ya Resti!" teriak Airin dan mamanya hampir bersamaan. Resti tersenyum penuh kemenangan.
"Ada apa ini, kok teriak-teriak. Nggak malu apa di dengar tetangga," ucap emak. Akhirnya mertuaku itu keluar rumah juga mendengar keributan di teras rumahnya ini.
"Sudah Res, nanti emak menyalahkan kita," bisikku pada Resti.
"Ini, Mak. Resti dan kak Yati bilang kami hanya menumpang di sini," ucap Airin dengan manjanya pada emak.
"Emang..." ucap emak dengan datar. Seketika wajah putih Airin memerah mendengar ucapan emak. Aku dan Resti saling bertatapan seolah tak percaya dengan apa yang kami dengar.
"Ini emaknya Rido, gara-gara makan gulai nangka Yati tadi maag-ku kambuh. Kami sekedar menyampaikan itu, tapi mereka tak terima," ucap mama Airin dengan lemah lembut. Berbeda sekali saat dia bicara dengan kami tadi.
"Oo..." jawab emak santai.
"Iya, emaknya Rido. Malah Yati bilang kalau emak yang menyuruhnya memasak menu itu," lanjut mama Airin lagi. Seketika emak menoleh padaku, aku langsung menunduk. Sudah kuduga, pasti aku juga yang salah.
"Mak, dengar dulu..." ucapan Resti terhenti karena emak mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Resti diam. Resti pun diam, mundur selangkah dan memegang tanganku. Sepertinya adik iparku itu ingin memberi penguatan untukku. Mungkin pemikiran kami sama, habis ini aku yang akan damprat oleh emak.
"Nggak mungkin banget kan, emaknya Rido yang menyuruh Yati kan?" tanya mama Airin seraya tersenyum manis.
"Iya, aku yang menyuruh Yati masak gulai nangka muda tadi." Airin dan mamanya terperangah, mereka saling berpandangan dan lalu menatap emak dengan seksama.
"Kalau Kalian tak terima, ya kalian belanja sendiri dan masak sendiri dong," ucap emak lagi. Kali ini bukan hanya Airin dan mamanya yang terkejut. Aku dan Resti pun demikian, sulit sekali dipercaya emak berkata seperti itu kepada besan dan menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Udah numpang, tak tahu diri pula," gerutu emak seraya masuk ke dalam rumah.
Airin dan mamanya terpaku menatap punggung emak yang masuk ke dalam rumah. Sedangkan Resti menutup mulut dengan tangannya, sepertinya adik iparku itu sedang menahan tawanya. Aku tarik tangan Resti, gadis manis itu menoleh. Ku gelengkan kepala, agar ia tak menertawai Airin dan mamanya. Kasihan mereka.