Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
sandiwara Airin


__ADS_3

Hari ini, setelah maksud kedatangan kami di sambut dengan baik oleh si empunya rumah. Aku pun menyematkan cincin ke jari gadis pilihan anakku. Senyum bahagia terbias di wajah tampan anakku. Moga gadis pemilik senyuman manis ini pilihan yang tepat. Dan tak ada lagi kegagalan dalam hidup anakku kelak.


"Kamu cantik sekali," bisikku setelah menyematkan cincin di jari manis Santi. Aku pun mencium keningnya, entah mengapa aku begitu menyukai gadis ini, wajahnya yang teduh membuatku jatuh hati.


"Terima kasih, Bu," sahut Santi pelan dan tertunduk.


"Panggil saja emak, seperti yang lain," ucapku seraya mengangkat dagu gadis itu.


Santi mengangguk, tapi tetap tak menatap mataku. Ya Tuhan, kesantunan gadis ini benar-benar membuatku jatuh hati.


____________________________


Kami pulang dari rumah calon besanku dengan perasaan bahagia. Semua telah di putuskan, akad nikah akan di laksanakan sebulan kemudian. Yang lebih membuatku kagum adalah, Santi hanya meminta mahar seperangkat alat sholat dan sebuah Al-Qur'an. Tak ada pesta mewah, hanya akad nikah saja yang akan di hadiri oleh keluarga dekat kedua belah pihak. Di saat gadis-gadis lain berlomba-lomba meminta mahar yang besar dan pesta yang megah, tapi tidak dengan Santi, ia tetap dengan kesederhanaannya. Betapa beruntungnya Rido mendapatkan calon istri seperti Santi.


Apalagi kalau di bandingkan dengan Airin dulu, tabungan anakku sampai terkuras semua saat akan menikahinya. Memang tak sepantasnya aku membandingkan Airin dan Santi, karena jelas mereka dua orang yang berbeda. Tapi, perbedaan mereka berbanding seratus delapan puluh derajat, benar-benar membuatku kagum, sekali aku katakan betapa beruntungnya anakku mendapatkan calon istri seperti Santi.


Sesaat samping di rumahku, kami begitu terkejut melihat Airin masih berada di teras rumahku. Aku cepat-cepat turun dan segera menghampiri Airin.


"Heh! Airin, ngapain Kau masih di rumahku?" ucapku seraya menggoyangkan tubuhnya. Ya, Airin ketiduran di kursi teras rumahku.


"Eh... Kalian sudah pulang?" tanya Airin seraya mengucek-ngucek matanya.


"Kami pulang?...eh emang siapa Kamu, nanya-nanya kami seperti itu," sahut Resti dengan sewotnya. Ya, memang dari dulu Resti tak menyukai Airin.

__ADS_1


"Eh... Resti, aku ini mamanya Raffa. Jadi, aku berhak bertanya, karena aku sudah capek menunggunya di sini. Kalian yang tak punya perasaan, aku ingin bertemu anakku malah Kalian main bawa pergi saja."


"Terus... sekarang Kamu mau apa?" tanya Resti pula.


"Sudah..." terdengar Yati berbisik seraya mengelus pundak Resti. Memang begitu menantuku itu, terlalu sabar jadi orang.


"Aku mau bawa anakku pergi," ucap Airin sinis.


"Apa?...enak saja Kau mau bawa cucuku pergi, setahun lebih Kau tinggalkan, tanpa pernah bertanya keadaannya, sekarang Kau mau bawa Raffa pergi, Kau sudah gila!" ucapku lantang, tak habis pikir aku melihat kelakuan wanita tak tahu diri ini.


"Emang kenapa Emak mantan mertua, aku 'kan mamanya, jadi aku punya hak dong," sahut Airin dengan penekanan di kata mantan mertua, entah apa maksudnya.


"Aku yang lebih berhak, aku tak mengizinkan Kau bawa Raffa!" seru Rido dari belakangku.


"Loh, kenapa Mas. Bukankah perjanjian kita dulu, kalau aku boleh bawa Raffa kapan pun aku mau..."


"Jangan GeEr Kamu, Mas..." Airin tersenyum sinis.


"Aku tahu Kau, Rin. Kau bisa menghalalkan segala cara demi mencapai tujuanmu," sahut Rido tak kalah sinisnya, dan itu sukses membuat wajah Airin merah padam.


"Pokoknya aku mau bawa anakku, Kalian tak berhak melarangku," ucap Airin seraya menarik Raffa yang dari tadi berdiri di sebelahku. Raffa pun terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari mamanya.


"Afa nggak mau ikut, Mama," ucap bocah itu dengan lirihnya.

__ADS_1


"Afa ikut mama ya, Nak. Di sini nanti Afa akan punya ibu tiri dan ibu tiri itu jahat," ucap Airin seraya memeluk Raffa.


"Airin jaga ucapanmu!' bentak Rido, "Jangan Kau racuni pikiran Raffa dengan kata-katamu yang tak pantas itu."


"Apanya yang tidak pantas, Mas. Itu semua benar, tak ada ibu yang sebaik ibu kandung di dunia ini."


"Ibu kandung seperti apa, Airin? Ibu kandung sepertimu yang tega meninggalkan anaknya dan pergi dengan selingkuhannya." Rido berbicara dengan penuh emosi.


"Kita, pergi ya, Nak. Jangan dengarkan mereka, Raffa ikut mama pergi dari sini," ucap Airin dengan gelisah.


Raffa menggeleng, "Tidak, Ma. Afa mau di sini, bersama papa, nenek, kakek, tante Yati dan semuanya,' ucap bocah tampan itu seraya berusaha melepaskan pelukan mamanya, lalu berlari ke arah Rido.


"Tidak! Afa harus ikut mama, di sini orang-orang semua jahat, Nak." Airin pun kembali berusaha menarik tangan Raffa, tapi Raffa menolak dengan cara memeluk erat pinggang papanya. Kasihan sekali cucuku, ia terlihat begitu ketakutan.


"Airin, sudah! Lepaskan Raffa! Apa Kau nggak kasihan melihat anakmu ketakutan seperti itu," bentakku sekuat tenaga.


"Lebih kasihan lagi kalau dia di sini bersama Kalian orang-orang jahat!" sahut Airin dengan masih berusaha menarik tangan Raffa.


"Kau sudah gila, Airin!" teriak Rido seraya mendorong tubuh Airin hingga terpental ke lantai.


Airin pun menangis tergugu seraya memeluk kedua lututnya. Tiba-tiba Yati mendekat kepada Airin, dan ia berbicara sesuatu. Sepertinya, Yati sedang berusaha menenangkan Airin. Entahlah, aku tak habis pikir dengan jalan pikiran Yati, begitu baiknya dia sehingga mampu merengkuh orang yang jelas-jelas tak menyukainya.


Airin terlihat mengangguk-angguk seolah mengerti dengan ucapan Yati. Air matanya pun mengalir semakin deras, tapi tiba-tiba...

__ADS_1


'Brukk!'


Airin terkulai lemah, Airin pingsan. Ya Tuhan sandiwara apa lagi ini.


__ADS_2