
"Mana Airin, Do. Sebentar lagi pasti tamu-tamu pada datang," ucap emak pada bang Rido. Ya, sekarang waktunya sesi foto pengantin dan keluarga. Semua sudah berkumpul di dekat pelaminan, tinggal kak Airin saja yang belum tampak batang hidungnya.
"Tadi, pas aku tinggal dia masih dandan, Mak," sahut abangku itu.
"Lama banget, sih," gerutu emak, "Sudah Kau panggil cepat sana," perintah emak pada bang Rido.
Bang Rido pun bergegas pergi untuk memanggil istrinya. Jadi penasaran seperti apa sih dandanan tuh nenek sihir, sehingga jam segini belum juga kelar.
"Kak," panggilku pada kak Yati yang terlihat sedang asyik ngobrol dengan emak sembari menunggu kak Airin datang untuk sesi foto keluarga. Bahagia sekali rasanya melihat kak Yati dan emak bisa seakur itu.
"Iya, Res," sahutnya dengan cepat. Ku lambaikan tangan mengisyaratkan agar dia mendekat ke pelaminan.
"Mau apa, Res? mau minum?" tanyanya padaku, sungguh luar biasa, kak Yati bisa tahu apa yang ku mau.
Aku mengangguk cepat, memang aku merasa sangat haus.
"Ini minumnya, Res," ucap kak Yati seraya menyerahkan dua gelas air mineral padaku. Mungkin yang satunya untuk bang Ferdi. Tapi, ada yang lain dari tangannya, kak Yati memakai gelang dan cincin yang cukup familiar bagiku. Jangan-jangan itu? Ah sudahlah tak mungkin juga kutanya di sini, nanti kak Yati tersinggung.
"Makasih, Kak."
"Iya, sama-sama pengantin cantik," ucap kak Yati, manis sekali. Aku tersenyum geli mendengar ucapan kakak iparku itu, memang akhir-akhir ini dia terlihat lebih bahagia dari biasanya.
"Kak!" panggilku lagi saat kak Yati akan pergi.
Kak Yati menoleh, "Iya Res..."
"Kakak juga cantik," ucapku seraya tersenyum manis, begitu juga dengan suamiku. Berbeda dengan kak Yati, wanita lugu itu tersipu-sipu setelah mendengar ucapanku.
"Betul itu, Dek. Kak Yati terlihat berbeda hari ini, cantik," timpal bang Ferdi pula.
Aku menoleh seraya menatap lelaki pujaan ku itu, "Jadi, aku nggak cantik gitu?"
"Bukan begitu Sayang, Kamu tetap yang tercantik di hatiku," sahutnya seraya mencolek hidungku. Aku pun tersenyum mendengar ucapannya. Tapi benar yang di katakan bang Ferdi, hari ini kak Yati terlihat sangat cantik dan anggun. Aku tak menyangka, setelah didandani sedikit saja kakak iparku itu jadi cantik sekali.
"Sudah, ayo kita foto. Tuh... Airin sudah datang," ucap Emak berjalan mendekat ke arah kami di susul oleh bapak dan bang Rozi beserta anak-anaknya.
__ADS_1
Kak Airin berjalan menuju pelaminan dengan malas. Mukanya ditekuk, sepertinya istri abangku itu sedang kesal. Terserah dialah, aku tak peduli.
________________________
Dua hari setelah resepsi pernikahanku, rumah berangsur sepi, sanak saudara sudah pulang semua. Alhamdulillaah acaranya berjalan dengan lancar.
Hari ini aku dan bang Ferdi rencananya mau membuka kado-kado yang kami dapatkan saat resepsi kemarin. Aku sengaja membukanya di ruang tengah, karena aku ingin semuanya ikut merasakan keseruan membuka kado-kado ini. Emak, bang Rozi, kak Yati dan anak-anak terlihat antusias ingin tahu isi dari kado-kado itu. Hanya kak Airin dan bang Rido yang tak ikut, entahlah mungkin mereka sedang beristirahat.
"Pokoknya aku tak mau tahu, aku ingin kita pergi dari sini secepatnya!" teriak kak Airin dari kamarnya. Kamarnya yang bersebelahan dengan ruang tengah, tentu suara kak Airin sangat lantang terdengar oleh kami. Keseruan kami membuka kado pun terhenti, karena mendengar kegaduhan yang di buat oleh kakak iparku itu.
"Kita mau kemana, Dek. Bukankah rumah kita sudah disita," sahut bang Rido pelan.
"Masih ada rumah Mama, kita bisa tinggal di sana," ucap Airin lagi masih dengan suara yang tinggi.
"Tapi, Dek. Mas mau kerja apa di sana..."
"Ya kita mulai lagi usaha kita seperti dulu, di sini juga Mas nggak kerja, setiap hari hanya ke kebun, lihat tuh badan Mas jadi burik semua." kami yang di ruang tamu saling berpandangan, tak habis pikir dengan jalan pikiran dua orang itu. Untung tadi saat mendengar suara teriakan kak Airin, kak Yati langsung insiatif mengajak anak-anak bermain ke halaman rumah
"Modal dari mana, Dek. Bukankah uang kita semua sudah habis olehmu," ucap bang Rido lagi dengan lembut dan pelan. Aku sampai geregetan sendiri, mengapa abangku bisa selemah itu di hadapan wanita.
"Minta dong sama orang tua Mas, masa mereka nggak mau lihat anaknya punya usaha sendiri dan sukses," timpal kak Airin pula, benar-benar tak tahu malu wanita itu.
"Apalagi Mas, mau bilang mereka tak punya uang lagi. Aku nggak percaya!" bentak kak Airin pula. Seketika emak berdiri, mungkin sudah terlalu panas kupingnya mendengar anak lelakinya di bentak-bentak oleh istrinya sendiri.
"Benar-benar nggak tahu di untung Kau ini ya Airin!" ucap emak seraya membuka pintu kamar, "Kapan sih Kau ini sadarnya, nggak punya malu sedikit pun."
"Mak, maafkan Airin. Dia cuma sedang kecewa saja, Mak," ucap bang Rido seraya menghampiri emak.
"Kecewa?..."
"Iya, Mak. Aku kecewa karena Emak pilih kasih," ucap kak Airin pula.
"Pilih kasih dengan siapa?" tanya emak keheranan.
"Jangan berlagak tidak tahu deh, Mak," ucap kak Airin dengan sinis, "Emak bilang tak punya uang pada Mas Rido, eh tahu-tahunya emak punya perhiasan banyak. Sampai-sampai kak Yati emak kasihkan. Apa nggak pilih kasih itu namanya," lanjut kak Airin lagi, merasa dia yang paling benar.
__ADS_1
Sekarang aku mengerti mengapa pas di ajak foto bersama kemarin kak Airin uring-uringan, ternyata itu penyebabnya. Dan juga ternyata benar dugaanku kalau perhiasan yang dipakai kak Yati adalah punya emak.
"Ternyata memang tidak tahu diri Kau ini Airin,' ucap emak seraya geleng-geleng kepala.
"Apa salah Mak, aku cemburu karena emak lebih peduli dengan kak Yati. Kak Yati emak kasih perhiasan sedangkan aku nggak... jelas-jelas aku lebih pantas memakai perhiasan mahal itu."
"Aku juga nggak mau perhiasan ini Airin, aku memang nggak pantas memakainya," sela kak Yati seraya berusaha membuka gelang yang masih melingkar di tangannya itu.
"Baguslah kalau Kakak sadar," ucap kak Airin sinis.
"Jangan Yati," cegah emak memegang tangan kak Yati.
"Bukankah aku sudah menolak, Mak. Karena aku tahu akan jadi bahan omongan seperti ini," ucap kak Yati lagi dengan mata berkaca-kaca. Sedikit tak percaya kak Yati berani berbicara seperti itu.
"Dengar dulu Yati..."
"Karena menghargai Emak, aku mau memakai perhiasan ini." akhirnya air mata wanita lugu itu tumpah juga.
Aku pun berdiri dan memeluk kak Yati, "Sudah Kak, tidak yang mempermasalahkan kok Kakak memakai perhiasan itu..."
"Tapi, Res..."
"Pintar juga Kau cari perhatian ya, Kak," ucap kak Airin lagi masih dengan tampang sinisnya.
"Sudah dari kemarin aku ingin mengembalikan, tapi emak bilang pakai saja dulu, karena orang-orang masih ramai di sini..."
"Ya sudah, kembalikan sekarang kalau memang iya," tantang kak Airin pula.
"Tidak usah!" teriak emak, membuat kami semua terkejut.
"Perhiasan itu memang akan aku berikan pada Yati, tidak satu pun yang boleh protes. Karena itu milikku," ucap emak lagi dengan tegas. Dan itu sukses membuat mata kak Airin terbelalak.
"Dengar tuh Kak, emak bilang apa. Perhiasan itu memang mau diberikan emak untuk menantu kesayangannya ini," ucapku seraya menyeka air mata di pipi kakak iparku itu. Tapi aku bingung, kak Yati ini sedih atau bahagia, karena setelah mendengar ucapan emak tadi, air matanya semakin deras mengalir.
Emak pun tersenyum melihat kelakuan kak Yati, lalu dia mendekat kepada kak Yati dan langsung memeluk erat menantunya itu.
__ADS_1
"Yati, nggak ada yang salahkan kalau emak ingin memberikan Kau hadiah. Nggak salahkan emak ingin membuat Kau bahagia," ucap emak terdengar sangat tulus. Kak Yati pun menggelengkan kepalanya seraya berusaha tersenyum di dalam deraian air matanya itu. Mungkin ini yang di namakan tangis bahagia.
Bang Rozi, bang Ferdi pun ikut tersenyum melihat tingkah kak Yati. Tak ketinggalan denganku, aku yang paling bahagia melihat semua ini. Apalagi melihat ekspresi kak Airin yang termangu menatap keharmonisan emak dan kak Yati, sungguh aku sangat bahagia sekali.