Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
Kabar buruk datang bertubi-tubi


__ADS_3

Hampir setahun Rido di sini, kini Rido sudah bisa berjalan, walau pun belum begitu lancar. Hari ini Airin berjanji akan kembali datang untuk menjemput suaminya itu. Sedari pagi Rido terlihat sumringah, mungkin dia sangat bahagia, karena akan berkumpul kembali dengan anak dan istrinya.


"Yati, pergi temanin Resti ke pasar. Belanja bahan makanan, cari udang yang paling segar, untuk Airin datang nanti," perintah emak padaku. Aku mengangguk patuh.


"Airin pasti lelah di perjalanan, nanti kalau dia sampai dan suguhkan makanan kesukaannya, pasti dia senang," sambung emak lagi. Seperti biasa emak memang selalu menyambut kedatangan Airin dengan istimewa.


"Kayak nyambut tamu penting saja," sewot Resti keluar dari kamar seraya memakai jilbab instannya.


"Ya...jelas Airin itu penting lah, karena Airin usaha abangmu tetap berjalan lancar sampai sekarang. Coba kalau Airin tidak cekatan dan pintar, pasti usaha abangmu bangkrut karena tak di urus selama abangmu sakit," sahut emak dengan tegasnya.


"Iya, iya...bangggain terus..." ucap Resti pula seraya menarik tanganku pergi keluar rumah.


"Res, jangan gitu ah... sama emak," ucapku sebelum menaiki motor matic yang di kendarai Resti.


"Biarin, Kak. Geli aku, emak selalu memuji kuntilanak itu," ucap Resti dengan sewotnya.


"Eh... sudah, walau bagaimanapun Airin itu istri Rido, saudara kita..."


"Ya...iya... kakakku sayang," sahut Resti seraya melakukan sepeda motornya. Aku hanya tersenyum geli mendengar jawabannya yang kedengaran sangat terpaksa itu.

__ADS_1


Hari sudah sore, makanan yang di minta emak pun sudah siap ku masak. Tapi Airin tak kunjung datang, aturannya sudah sampai kalau memang dia berangkat dari rumahnya tadi malam. Wajah Rido yang tadi sumringah berubah menjadi cemas, apalagi ponsel Resti tak bisa di hubungi. Begitu juga dengan no ponsel kedua mertua Rido, tak yang aktif.


"Do, sudah bisa di hubungi Airin, dia jadi datang nggak?" tanya emak pada Rido.


"Iya... Mak, seharusnya Airin sudah sampai," ucap Rido pelan, terlihat sekali kalau dia sedang cemas.


"Coba Kau telpon lagi," ucap emak cemas juga, "Mudah-mudahan Airin baik-baik saja," sambungnya lagi.


___________________


Ternyata Airin benar-benar tak datang hari itu, dia tidak memberi kabar apa pun. Di tambah lagi ponselnya tak aktif, begitu juga dengan no ponsel kedua orang tuanya. Rido benar-benar cemas, begitu juga dengan emak, bapak dan semuanya. Kami ikut cemas memikirkan keadaan Airin.


Setelah menelpon karyawannya itu, tiba-tiba Rido terduduk lemas. Wajahnya seketika pucat.


"Ada apa, Nak?" tanya emak seraya duduk memegangi tubuh Rido.


"U-usahaku, Mak," ucap Rido terbata-bata.


"Iya... kenapa dengan usaha Kau, Nak?" tanya emak penasaran.

__ADS_1


"U-usahaku su-sudah bangkrut, Mak..." ucap Rido seraya memeluk emaknya, lelaki tampan itu pun menangis.


Tanpa di perintah, kami yang ada di rumah saat ini pun memberi penguatan pada Rido, mendukung Rido apa pun yang terjadi.


Tadi, Rido menelpon karyawannya. Ternyata karyawannya itu sudah lama tak bekerja dengan Airin, bukan itu saja, sepuluh karyawan Rido yang lain juga tak lagi bekerja. Sekitar enam bulan yang lalu tempat usaha Rido bangkrut. Itu semua dikarenakan Airin yang suka berbelanja, tanpa berpikir panjang Airin memakai uang modal usaha mereka untuk memenuhi hasrat belanjanya.


Sungguh pahit kenyataan yang harus di terima Rido, Airin selama ini berbohong bilang kalau usaha mereka baik-baik saja di tangannya. Mengapa sampai berita itu tak sampai ke telinga Rido, karena Airin meminta semua mantan karyawannya tutup mulut. Tadi karena di paksa oleh Rido, maka karyawan yang di hubungi Rido tadi buka suara. Sungguh malang nasib Rido. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mudah-mudahan saja, Rido tidak sampai tersiram oleh cat juga. Amin.


_________________________


Dua Minggu kemudian, Airin akhirnya datang. Tapi dia tak datang sendirian, Raffa dan juga mamanya ikut serta bersama Airin. Ada yang berbeda dengan wanita cantik itu, kali ini tidak ada mobil mewah yang membawanya ke sini. Melainkan sebuah mobil travel berkelas ekonomi, penampilannya juga sangat jauh berbeda. Airin tampak kusut, dan wajahnya pucat begitu juga dengan mamanya.


Belum lagi Rido bertanya kepada Airin, terlebih dahulu Airin menangis tergugu. Dengan diiringi tangisannya Airin bercerita. Kalau usaha mereka bangkrut, tentu Rido tak terkejut lagi mendengarnya. Tapi, beda halnya saat Airin bercerita kalau papanya masuk penjara. Bukan hanya Rido yang terkejut, kami yang turut mendengar cerita Airin pun ikut syok.


Papa Airin di tahan, karena di curigai menggelapkan uang perusahaan. Ya, bisa di bilang papa Airin korupsi. Kini semua aset milik papa Airin di sita, termasuk rumah yang di tempati Rido dan Airin. Karena memang rumah itu pemberian papa Airin.


Semenjak kejadian papanya di tahan dua Minggu yang lalu, Airin tinggal serumah dengan mamanya. Beruntung mama Airin masih punya rumah peninggalan dari kakek nenek Airin. Walaupun rumahnya sudah tua dan kecil, tapi setidaknya bisa untuk tempat mereka berteduh saat ini.


Airin juga terpaksa membawa mamanya kesini, karena dia khawatir meninggalkan mamanya sendirian. Mamanya sangat terpukul dengan peristiwa yang menimpa mereka, juga ia kasihan pada mamanya, karena menjadi bahan gibahan di mana-mana. Termasuk orang-orang di dekat rumah peninggalan kakek neneknya itu.

__ADS_1


Aku tak bisa berkata apa, apalagi ingin bertanya lebih jauh lagi. Aku hanya mengetahui sebatas apa yang ku dengar. Mudah-mudahan Airin, mama, papanya juga Rido bisa melewati ujian ini dengan ikhlas. Yakin, di balik semua ini ada hikmahnya.


__ADS_2