Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
Santi hamil


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya?" tanya emak saat Rido dan Santi baru saja turun dari mobil, mereka berdua baru saja dari klinik untuk memeriksakan Santi.


"Alhamdulillaah, Mak. Bentar lagi Raffa akan punya adik," jawab Rido dengan antusias.


"Selamat ya, buat Kalian berdua," ucapku seraya memeluk Santi.


"Terima kasih, Kak," sahut Santi pelan.


"Kamu kenapa, San?" tanyaku pula, karena Santi terlihat murung.


Santi menggeleng dan menoleh pada Rido.


"Ada apa, Do?" tanya emak.


"I-itu, Mak..."


"Hai... semua..."


Mata kami pun tertuju dengan asal suara, betapa terkejutnya kami melihat Airin turun dari mobil Rido.


"Apa-apaan ini, Do? Mengapa Kau bawa dia ke sini!" seru emak seraya menunjuk ke arah Airin.


"Dengarkan dulu, Mak. Tadi, kami tidak sengaja bertemu dengan Airin, dia ingin bertemu dengan Raffa, dan mobil yang di bawanya mogok, jadi nggak ada salahnya dia menumpang dengan kami," jelas Rido.


"Iya, Mak. Benar yang dikatakan mas Rido, aku hanya ingin bertemu dengan anakku kok, nggak ada maksud lain," ucap Airin seraya tersenyum manis.


"Awas Kau kalau macam-macam!" ancam emak seraya menunjuk kearah Airin.


"Iii... takut," ucap Airin seraya terkekeh, "Tenang...Mak tenang, aku nggak akan ganggu kebahagiaan kalian kok," lanjut Airin lagi seraya melenggang masuk dan memanggil Raffa, benar-benar tak punya sopan santun.


"Sabar ya, Nak," ucap emak pada Santi, "Fokus jaga kandunganmu saja, jangan pikirkan yang lain."


Santi mengangguk dengan lemah.


"Iya, Mak. Tadi dokter bilang kalau kandungan Santi lemah tak boleh banyak pikiran," jelas Rido pula.


"Ya, sudah. Kau bawa Santi ke kamar untuk istirahat," ucap emak pada Rido, "Airin biar emak dan Yati yang menghadapinya."


Rido pun manut dan menuntun istrinya masuk ke dalam rumah.


_________________

__ADS_1


"Aduh... Bang tolong!" teriak Santi.


Kami yang mendengarnya pun berlari menuju kamar Santi.


"Adek kenapa?" tanya Rido dan langsung memeluk Santi.


"Sakit, Bang..." lirih Santi seraya memegang perutnya.


"Cepat bawa ke klinik, Do," ucap emak.


Rido mengangguk dan segera menggendong Santi menuju mobil. Aku dan emak pun ikut masuk ke dalam mobil. Hanya tinggal Ilham, Raffa dan bapak di rumah.


"Papa!..." baru saja mobil akan berjalan, tiba-tiba terdengar teriakan Raffa, bocah tampan itu berdiri di depan mobil dan merentangkan kedua tangannya.


"Raffa, jangan! Biarkan papa pergi, bunda lagi sakit." Bapak menarik Raffa untuk berpindah dari posisinya.


"Nggak! Papa nggak boleh pergi!" teriak Raffa lagi, kali ini Raffa berteriak sambil menangis.


Aku pun turun dari mobil untuk membujuk Raffa, ada apa dengan anak ini kok bisa jadi emosional begitu.


"Nak, papa pergi sebentar ya, kasihan bunda Santi kesakitan," bujuk ku pada Raffa.


"Pokoknya papa nggak boleh pergi!"


"Aku tidak peduli!" teriak Raffa lagi, "Biarkan dedek bayi itu mati!" mataku terbelalak mendengar ucapan Raffa, bisa-bisanya anak sekecil Raffa bicara seperti itu.


Bukan aku saja, bapak, emak, Rido juga Santi pun ikut terkejut mendengarnya.


"Sudah, paksa saja dia pergi dari situ!" ucap emak dengan lantang.


Aku mengangguk dan menarik Raffa dari posisinya, dan mobil Rido pun melaju dengan cepat. Raffa berontak, menangis, berteriak di pelukanku. Ya Tuhan, ada apa dengan anak ini, mengapa dia jadi seperti ini.


__________________________


"Mama bilang, nanti kalau dedek bayi bunda lahir, papa tidak akan sayang lagi pada Afa," ucap Raffa seraya menunduk. Ya, hampir dua jam aku membujuk Raffa, baru ia tenang dan mulai bercerita pada kami.


"Itu tidak benar, Nak. Sampai kapan pun papa dan bunda akan sayang sama Afa," ucapku dengan lembut.


"Tapi, Tan... mama bilang bunda itu jahat, karena bunda yang merebut papa dari mama."


Aku menarik napas panjang, bingung bagaimana caranya menjelaskan pada Raffa. Sampai hati Airin meracuni pikiran anaknya sendiri.

__ADS_1


"Aku mau ikut mama saja, Tan."


"Nak, dengarkan tante, bunda itu bukan orang jahat, bunda sayang sama Afa. Coba tante tanya, apakah selama ini bunda pernah membuat Afa sedih?"


Raffa menggeleng, "Tapi, mama yang bilang Tan..."


"Itu karena mama belum kenal saja dengan bunda Santi," sahutku seraya tersenyum.


"Tapi, aku nggak mau dedek bayi itu, nanti dedek bayi itu merebut kasih sayang papa dan bunda."


Aku menggeleng, "Nggak... Sayang, sampai kapanpun papa dan bunda akan sayang pada Afa. Malah tambah seru, nanti dedek bayinya lahir Afa ada temannya."


"Benar itu, Tan?"


"Iya, dong," sahutku seraya tersenyum.


Tiba-tiba raut wajah Raffa murung, "Maafkan Afa ya, Tan. Gara-gara Afa bunda sakit..."


"Maksudnya, Nak?"


"Iya, dari kemarin Afa marah-marah terus pada bunda," ucap Raffa sambil tertunduk, "Mama yang suruh, katanya dengan begitu dedek bayi itu nggak akan keluar dan sayang papa hanya untuk Afa sendiri."


Astaghfirullah, ternyata Airin dalang dari semua ini. Dia sengaja mengompori Raffa untuk membuat pikiran Santi terbebani dan itu tak baik buat kandungan Santi. Mudah-mudahan Santi dan calon anaknya baik-baik saja.


"Ya sudah, Nak. Nanti minta maaf langsung sama bunda dan papa ya."


Berselang beberapa saat kemudian, mobil Rido terlihat memasuki pekarangan rumah emak. Raffa pun berdiri dan berlari ke arah mobil itu.


"Maafkan Afa, Pa," ucap Raffa seraya memeluk Rido yang baru saja turun dari mobil.


"Iya, Nak. Lain kali jangan seperti itu ya."


Raffa mengangguk, "Bunda nggak apa-apa 'kan, Pa? Dedek bayi baik-baik saja 'kan, Pa?" tanya Raffa bertubi-tubi, ia terlihat begitu khawatir.


"Nggak Sayang, alhamdulillaah bunda dan dedek bayi baik-baik saja," ucap Rido.


"Ayo kita bantu bunda turun," ucap Rido lagi seraya mebukakan pintu mobil di bagian belakang.


Santi pun turun dituntun oleh Rido, dan Raffa pun langsung memeluk bundanya itu.


"Bunda, maafkan Afa," ucap Raffa pula, "Raffa janji nggak akan marah-marah lagi dengan Bunda. Afa sangat sayang pada Bunda."

__ADS_1


Santi mengangguk dengan lemah, "Iya, Nak. Bunda juga sangat menyayangi Afa."


Dua orang yang saling mengasihi itu pun berpelukan. Ya Tuhan, jauhkan lah orang-orang yang berniat jahat dari keluarga kecil itu.


__ADS_2