Bukan Menantu Impian

Bukan Menantu Impian
POV Rido


__ADS_3

Hatiku hancur berkeping-keping melihat wanita yang paling ku hormati terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Rasa bersalah selalu menghantui pikiranku, kalau saja aku tak memaksa kehendak ku agar Airin pulang pasti semua ini tak akan terjadi.


"Do... Rido." serak suara emak memanggilku namaku. Ku lirik jam di tanganku menunjukkan pukul dua dini hari, berati hampir dua belas jam emakku tak sadarkan diri.


"Iya, Mak. Ini Rido," sahutku seraya memegang tangan wanita yang telah melahirkanku itu.


"A...irin, Do..." ucap emak lemah.


"Iya, Mak. Aku tahu."


"Emak sudah sadar, Do?" tanya bang Rozi yang juga terbangun dari tidurnya.


Ya, aku tak sendirian di sini, ada bang Rozi dan bapak bersamaku. Mungkin lelah dan kantuk, mereka berdua pun ketiduran.


"Iya, Bang. Abang di sini dulu bersama emak, aku mau panggilkan suster."


Emak sudah di periksa oleh suster jaga, dan sekarang emak pun kembali tertidur. Tinggal besok nunggu diagnosa dokter, mudah-mudahan emak nggak kenapa-napa.


"Kau istirahat saja, Do. Biar abang yang jaga emak."


Aku mengangguk, dan mengambil posisi berbaring di sebelah bapak. Tapi, entah mengapa mataku tak kunjung terlelap. Pikiranku melanglang buana, memikirkan Airin yang sampai hati membuat emak sampai seperti ini.


Azan Subuh berkumandang, waktunya menunaikan kewajiban dua rakaat. Bapak sudah duluan bangkit, sepertinya ia akan solat berjamaah di mushola rumah sakit ini.


Karena bang Rozi ketiduran di sisi ranjang emak. Aku pun memilih untuk ke kamar mandi duluan. Saat keluar dari kamar mandi, terlihat wajah bang Rido panik.


"Do, pulang sekarang, Airin pergi..."


"Pergi kemana, Bang?"


"Nggak tahu, tadi Yati yang menelpon abang. Katanya Airin sudah nggak ada di kamarnya."


"Raffa, Bang?"


"Raffa ada, hanya Airin yang pergi."

__ADS_1


Aku mengacak rambutku, apalagi yang akan dilakukan Airin. Mengapa masalah dalam hidupku seakan-akan tak pernah ada habis-habisnya.


_______________________


Emak sudah di perbolehkan pulang, bersyukur tak ada hal serius yang terjadi padanya, kata dokter kemarin emak cuma syok aja.


Dan Airin aku memang tak berniat mencarinya, biarkan saja dia pergi, palingan dia pulang ke rumah mamanya.


Kini, kak Yati yang kembali mengurusi segala keperluan emak dan rumah ini. Tak bisa ku pungkiri kakak iparku itu memang telaten dan sabar dalam hal ini. Pantas saja hati emak bisa luluh di buatnya.


Resti pun untuk sementara ini pulang juga, karena emak sakit dan juga Resti sedang hamil muda. Kasihan adik bungsuku itu, dia terlihat lemas karena setiap hari muntah-muntah.


"Kau tak ingin mencari Airin, Do," ucap bapak.


Aku menggeleng.


"Walau bagaimanapun Airin itu istrimu, Do. Dia masih tanggung jawabmu," lanjut bapak lagi.


Benar juga yang dikatakan bapak, aku harus mencari tahu di mana Airin berada sekarang. Airin benar-benar keterlaluan, jangankan menghubungiku, ponselnya saja setiap aku hubungi tak pernah aktif.


_______________________


"Dua Minggu yang lalu Airin pergi, Ma. Aku kira dia pulang ke sini."


"Nggak ada Airin pulang ke sini, Kau ini bagaimana Rido, masak sebagai suami tak tahu keberadaan istri sendiri," sewot mama pula.


"Maaf, Ma. Airin yang pergi tanpa pamit dan... gara-gara Airin emakku sampai masuk rumah sakit."


"Pasti semua ada sebabnya Rido, mungkin saja emakmu itu terlalu nyinyir atau nggak anakku merasa tak bahagia bersamamu."


"Nggak gitu, Ma... Aku sudah berusaha menghubungi Airin, tapi ponselnya tak pernah aktif."


"Ya, jelaslah... Airin 'kan sudah ganti nomer..." tiba-tiba ucapan mama terputus, ia menutup mulutnya seakan ia keceplosan.


"Apa, Ma? Airin ganti nomer?" tanyaku penuh selidik.

__ADS_1


"Mama nggak tahu," ucap mama lagi, "Dengar ya Rido, kalau Kau tak bisa membahagiakan anakku, lebih baik Kau ceraikan dia," lanjut mama lagi seraya masuk ke dalam rumah dan meninggalkan aku sendiri di teras rumahnya ini.


Entah mengapa firasatku mengatakan kalau mama menyembunyikan sesuatu dariku. Mama sepertinya mengetahui keberadaan Airin. Yang membuatku tak habis pikir, apa tujuannya menyembunyikan semua tentang Airin dariku.


Hari sudah sore, karena baru saja sampai di kota ini dan capeknya saja belum hilang. Jadi, malam ini aku memutuskan untuk menginap di kontrakan temanku yang kebetulan tak begitu jauh dari rumah mama mertuaku ini. Joe nama temanku itu, dia sahabat karibku di bangku kuliah dulu.


"Hei...duren kapan datang," ucap Joe saat aku baru saja sampai di kontrakannya ini.


"Duren?..." tanyaku heran. Duren itu maksudnya 'kan duda keren.


"Iya, Bro. Gue ikut prihatin ya, nggak nyangka gue rumah tangga Lo dan Airin..."


"Eh eh... tunggu dulu, maksudnya apaan nih?"


"Airin bilang, Lo dan dia sudah end," jawab Joe dengan raut wajah bingung.


"Di mana Lo ketemu Airin, Bro?" tanyaku pula.


"Baru dua hari yang lalu, Airin cerita kalau kalian sudah tak bersama lagi dan itu semua gara-gara orang tua Lo yang terlalu ikut campur dalam rumah tangga Lo dan Airin..."


"Itu tidak benar, gue dan Airin masih suami istri yang sah."


Wajah Joe terlihat tambah kebingungan setelah mendengar ucapanku.


"Tapi..." Joe seperti ragu-ragu untuk berbicara.


"Tapi apa Bro?"


"Saat gue bertemu dengan Airin. Dia nggak sendirian..."


"Airin bersama siapa, Bro?"


"Airin bersama seorang lelaki yang diakui sebagai pacarnya..." ucap Joe pelan seolah ragu untuk mengatakannya.


Aku geleng-geleng kepala mendengar ucapan sahabat karibku itu. Rasanya aku tak percaya kalau belum melihat dengan mata kepalaku sendiri, walaupun kutahu kalau Joe juga tak akan mungkin berbohong. Ya Tuhan aku mohon tunjukkan aku kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2