
"Bapak kenapa?" tanyaku pada lelaki cinta pertamaku itu. Lelaki paruh baya itu sedang duduk termenung di depan TV yang sedang menyala, matanya sama sekali tak fokus kepada layar kaca itu.
"Hmmm... nggak ada apa-apa, Nak," jawabnya pelan, ia terlihat menarik napas dalam-dalam.
"Ayo cerita pada Resti, Pak," ucapku seraya memegang tangannya.
Bapak menoleh, tapi terlihat seperti ragu berbicara.
"Resti akan jadi pendengar yang baik. Ayo cerita, Pak. Jangan di pendem sendiri," ucapkan lagi seraya bergelayut manja di tangan yang telah menafkahi ku itu.
Bapakku mengangguk, "Bapak bingung, Nak... Emakmu terus memaksa bapak menjual tanah itu," ucapnya pelan, terdengar seperti bisikan di telingaku.
"Tapi, setelah melihat kelakuan Rido dan Airin bapak tak rela kalau uangnya di serahkan pada mereka." aku masih diam mendengarkan curhat bapakku, tak ingin berkomentar apapun, karena tadi aku sudah berucap kalau aku akan jadi pendengar yang baik.
"Bagaimana menurutmu, Nak?" bapak meminta pendapatku, okelah saatnya beraksi. Tak akan ku biarkan nenek sihir itu memoroti harta orang tuaku.
"Bapak minta pendapat Resti?" tanyaku seraya menunjuk ke arahku sendiri.
Bapak mengangguk, raut wajahnya seperti begitu menginginkan solusi dariku.
"Baik... menurutku sudah benar begitu, bapak membatalkan menjual tanah itu," ucapku tanpa keraguan.
"Tapi... emakmu..."
"Bapak kepala rumah tangga, Pak. Bapak harus tegas, apalagi dalam hal ini Bapak sudah benar," ucapku lagi, berusaha meyakinkan bapak melalui ucapanku.
"Ohya... bukankah dari awal Bapak sudah berniat memberikan tanah itu pada bang Rozi?" tanyaku seolah-olah tak tahu.
Bapak mengangguk, "Tapi Rozi menolak," jawabnya pula.
"Tapi... Bapak sudah berniat begitu 'kan?" tanyaku lagi, bapakku pun mengangguk.
"Gimana kalau sertifikat tanah itu Bapak alihkan saja atas nama bang Rozi, walau dia menolak, setidaknya tanah itu aman. Mungkin saat ini bang Rozi belum membutuhkan, mana tahu suatu saat nanti tanah itu berguna baginya. Untuk anak-anaknya, misalnya," jelasku dengan yakinnya.
"Betul juga itu," ucap bapak seraya manggut-manggut, "Nanti bapak hubungi Rozi untuk membicarakan hal ini..."
__ADS_1
"Siiiip..." sahutku seraya mengacungkan jempol. Yes, semoga semua berjalan lancar dan rencana busuk kak Airin gagal.
___________________
"Ini nggak bisa di biarkan." terdengar suara bang Rido dari dalam kamarnya. Aku yang baru saja keluar dari kamar tak sengaja kedengaran, sekalian saja aku menguping, hehehe.
"Ada apa, Mas?" terdengar suara kak Airin dengan ciri khas manjanya.
"Bapak, Dek. Masak tadi dia bilang ingin mengalihkan sertifikat tanah itu atas nama bang Rozi."
"Apa...Mas?" tanya kak Airin, seperti terkejut.
"Sia-sia dong, aku tinggal berminggu-minggu di sini," ucap kak Airin lagi dengan nada manja setengah merengek. Jijik sekali aku mendengarnya.
"Ini pasti bang Rozi yang mempengaruhi bapak, kemarin 'kan mereka ngobrol lama di bawah pohon mangga," ucap bang Rido pula.
"Bagaimana dong, Mas. Kalau begini ceritanya, aku mau pulang saja. Lebih baik aku minta mobil baru sama papa mama saja..."
"Jangan dong, Dek. Apa kata papa mama nanti, mereka pasti mengira kalau mas tak bisa membahagiakan mu." aku mendengus kesal mendengar ucapan bang Rido, bodoh sekali dia, terlalu lemah di hadapan wanita.
"Mas minta kesempatan sekali lagi, mas akan cari cara agar tanah itu jadi di jual dan mas juga akan membuat perhitungan dengan bang Rozi," ucap bang Rido lagi, merayu istrinya itu.
"Janji ya Mas, kali ini saja. Adek sudah nggak tahan ingin mengendarai mobil baru," rengek kak Airin pula, geli sekali terdengar di telingaku.
"Uhukkk! Uhukkk!..." aku sengaja berpura-pura batuk dengan kencang di depan kamar mereka, aku ingin mereka tahu kalau dari tadi aku menguping pembicaraan mereka.
Ternyata benar, tak lama pintu kamar itu terbuka. Keluar bang Rido di susul kak Airin.
"Ada apa, Res?" tanya bang Rido penuh selidik.
"Nggak ada apa-apa, Bang," jawabku enteng.
"Kalau batuk minum obat dong, jangan di biarkan saja," ucap kak Airin dengan sinis.
"Iya, Kak nanti aku minum obat. Terima kasih atas perhatiannya," sahutku seraya mengangguk sopan.
__ADS_1
"Penyakit kok di pelihara," ucapnya lagi.
Seketika kepalaku terangkat, ku tatap kak Airin dengan tajam.
"Apa kata, Kakak hah!"
"Ya... Kau cantik-cantik tapi penyakitan," ucap kak Airin seraya menyeringai kan gigi putihnya yang berkawat itu.
"Hh!..." aku menyunggingkan senyum sinis kepada kakak iparku itu. Sedangkan bang Rido hanya terdiam mendengar perbincangan sengit antara adik dan istrinya ini.
"Apa Kakak bilang, aku cantik-cantik penyakitan. Daripada Kakak cantik-cantik semua palsu, termasuk hati Kakak, baiknya pas ada maunya saja, palsu!..." ucapku tak kalah sinisnya. Kak Airin melotot mendengar ucapanku.
"Resti!..." bentak bang Rido padaku.
"Apa, Bang?... benarkan semua ucapanku," ucapku menantang bang Rido.
"Itu tak benar, Airin tak seperti itu," sahut bang Rido dengan lantang.
"Ada apa ini, kok teriak-teriak," ucap emak dari arah dapur dan mendekat dengan kami. Melihat emak datang, wajah kak Airin yang semula terlihat angkuh tiba-tiba berubah menjadi kalem.
"Ini, Mak. Resti...masih saja berpikiran kalau aku ini jahat," ucapnya kak Airin dengan raut wajah seperti gadis desa yang lugu.
"Benar, Mak. Resti ini selalu berpikiran negatif terhadap istriku." bang Rido ikut-ikutan bertingkah bodoh juga.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat ulah dua sejoli ini, mereka berdua benar-benar klop.
"Nggak, Mak. Tadi aku cuma mau bilang kalau bapak ingin merubah sertifikat tanah yang akan di jual itu atas nama bang Rozi...tapi mereka berdua tak terima dan malah marah-marah padaku." ayo kalian bisa berakting, aku pun juga bisa.
"Apa?...benar itu Rido, kok emak nggak tahu," ujar emakku heran.
"Iya, Mak. Rencana bapak benar-benar brilian 'kan," ucapku lagi dengan senyum yang manis.
Kak Airin tambah melotot padaku, aku tersenyum puas.
"Kenapa, Kakak cantikku. Kok melotot gitu, takut ya... gagal beli mobil barunya," ucapku berlagak seperti orang lugu juga.
__ADS_1
Kali ini bukan hanya kak Airin yang melotot padaku, bang Rido pun ikut-ikutan. Tapi, ada yang lain dari emakku, ia memandang anak lelaki dan menantunya itu, seolah mengisyaratkan ingin meminta jawaban atas ucapanku pada kak Airin tadi