
Bab 21
Ali sepulang dari masjid bergegas pergi ke rumah Niken yang katanya tempat Alika akan mengerjakan tugas kuliah. Dia pergi tanpa sepengetahuan Ruqoyah. Jika dia bilang mau memastikan kebenaran ucapan ibunya tentang sang adik, maka tidak akan diizinkan dan berakhir dengan kemarahan wanita yang sudah melahirkannya.
Kini Ali sudah sampai di sebuah rumah Niken. Terlihat ada seorang satpam datang menghampiri Ali.
"Assalamualaikum, Pak. Apa adik saya ada di dalam? Eh, maksud saya adalah Alika, temannya Niken," tanya Ali dengan sopan.
"Wa'alaikumsalam, Pak. Tidak ada teman Non Niken yang datang. Justru sudah seminggu ini Non Niken dilarang keluar rumah oleh Bapak sama Ibu. Dia sedang mendapat hukuman dari orang tuanya," jawab laki-laki paruh baya itu.
Mendengar ucapan satpam itu membuat Ali tersentak. Dia berpikir ke mana perginya Alika malam-malam begini.
"Kalau boleh tahu kenapa Niken dihukum oleh orang tuanya?" tanya Ali yang kini terbayang-bayang dalam pikirannya video dan foto Alika bersama laki-laki. Dia kini juga merasa curiga kalau Niken juga melakukan hal yang sama.
"Entahlah, Pak. Setahu saya beberapa hari yang lalu Bapak marah besar dan hendak mengusir Non Niken, tetapi Ibu memohon sambil menangis-nangis agar Non Niken jangan diusir dari rumah," jawab laki-laki dewasa itu.
Bagai ada godam yang menghantam kepalanya, Ali mendadak kepalanya sakit. Lalu, dia pun mendatangi rumah teman Alika dan sang adik tidak ada di sana.
Ali tidak bisa melacak keberadaan Alika karena nomer handphone tidak bisa dihubungi. Bahkan dalam keadaan di nonaktifkan. Ali sangat gusar sekali dan terbesit takut ada apa-apa dengan adiknya, karena dia juga yang bertanggung jawab atas dirinya.
***
Hafsah melihat wajah Ali yang kelelahan. Suaminya itu pulang hampir tengah malam. Dia sendiri juga belum tidur dan menunggu pulang laki-laki itu di ruang depan sambil berdzikir.
"Bang, ini minum dulu!" pinta Hafsah sambil menyerahkan segala air hangat yang dicampur madu.
"Terima kasih, Sayang," balas Ali sambil menerima gelas itu lalu menghabiskannya.
Hafsah memijat badan dan kepala Ali dengan tenaga yang pas. Membuat laki-laki itu merasa nyaman. Sakit di kepalanya juga kini sudah hilang. Tubuhnya yang terasa kaku juga kini mulai terasa ringan dan rileks. Ali sangat suka Hafsah yang begitu perhatian dan melakukan sesuatu itu tanpa harus disuruh.
Malam itu pun Ali bisa tidur dengan nyenyak. Tanpa dia ketahui kalau adiknya sekarang sedang bersama laki-laki di sebuah pesta.
__ADS_1
Alika sekarang tidak mau meminum apa pun di acara itu. Dia takut kejadian dahulu menimpa dirinya kembali. Bahkan setelah kehilangan kesucian dirinya dia tidak mau tidur dengan laki-laki mana pun termasuk Om Bimo. Dalam pikirannya untuk jaga-jaga takut dia hamil, karena saat itu dia dalam keadaan tidak sadar.
"Siapa dia?" tanya salah seorang tamu pesta kepada Om Haris.
"Dia teman kencanku, Alika," jawab laki-laki bergelar duda itu sambil merangkul pinggang Alika.
"Cantik sekali," balasnya lagi dan membuat Alika tersenyum tipis. Bagi dirinya ucapan seperti itu adalah rayuan gombal yang tidak membuatnya senang.
Untuk datang ke acara malam ini, Alika berdandan ke salon dan menggunakan baju pesta yang agak tertutup. Dia takut akan banyak laki-laki berhidung belang yang akan menggoda dirinya.
"Alika, kamu akan tidur di mana? Apartemen atau hotel?" tanya Om Haris di saat mereka akan pulang.
"Aku pulang ke kost-an teman aku saja," jawab Alika yang tidak mau ambil resiko terciduk kamera cctv yang ada di tempat itu.
"Baiklah," ucap laki-laki dewasa yang baru saja memasuki usia berkepala empat.
***
"Alika, sedang apa kamu?" tanya Hafsah merasa heran.
"Sedang berjalan 'lah, Mbak. Memangnya aku terlihat sedang tidur," jawab Alika dengan nada ketus.
Gadis belia itu melakukan perbuatan begitu untuk menutupi rasa ketakutannya. Seakan tidak mau lagi diajak bicara karena takut diinterogasi, maka dia pun berlari masuk ke rumah.
"Astaghfirullah. Semoga Alika tahu dan bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Jangan sampai dia jatuh ke dalam lubang dosa yang akan menghancurkan masa depannya." Hafsah hanya bisa beristighfar dan mendoakan kebaikan untuk sang adik ipar.
Baru saja Hafsah selesai menjemur pakaian, sudah terdengar teriakan Ruqoyah di depan pintu. Terlihat wanita paruh baya itu bertolak pinggang di depan pintu.
"Ada apa, Bu?" tanya Hafsah dengan jalan tergopoh-gopoh menuju mertuanya.
"Malam ini masak yang enak dan banyak akan ada tamu. Sana kamu pergi belanja ke pasar!" jawab Ruqoyah sambil memberi uang lima lembar berwarna merah.
__ADS_1
Hafsah menerima uang itu dan merasa itu cukup banyak. Lalu dia pun bertanya, "Ini mau masak apa, Bu?"
"Terserah. Pokoknya masak yang banyak menu dan jangan lupa beli juga beberapa buah-buahan," jawab Ruqoyah.
Wanita paruh baya itu menepuk-nepuk pipinya yang baru saja selesai di masker menggunakan produk dari merek terkenal. Dibandingkan Hafsah, Ruqoyah lebih suka melakukan perawatan diri. Bukannya Hafsah tidak suka melakukan perawatan seperti pergi ke salon atau spa, dia tidak punya uang untuk melakukan hal itu semua. Jadinya dia lebih melakukan perawatan dengan bahan-bahan alami.
"Memangnya akan ada tamu berapa orang yang datang, Bu?" tanya istri dari Ali itu takut dia memasak terlalu sedikit atau terlalu banyak.
"Sarah akan makan malam di sini nanti. Ibu yang mengundangnya," jawab Ruqoyah dengan mata mendelik.
Mendengar nama wanita yang selalu berusaha menggoda suaminya, hati Hafsah merasa sakit. Dia sering cemburu jika melihat Ali dengan Sarah. Meski dia percaya kepada suaminya, tetapi tidak dengan wanita yang punya seribu cara licik untuk bisa bersama Ali.
"Ngapain masih berdiri di situ? Sana pergi!" bentak Ruqoyah seakan sedang mengusir orang yang sedang meminta sumbangan.
Hafsah pun bergegas pergi ke pasar untuk belanja. Kebiasaan wanita itu adalah selalu menuliskan semua harga yang dia beli. Pernah kejadian dia tidak mencatatkan harga-harga barang yang dibeli dan kebetulan sedang pada naik karena banyak yang gagal panen. Ruqoyah menuduhnya sudah korupsi uang belanja, semenjak itu jika disuruh belanja, maka dia akan menuliskan semuanya.
Hari pun cepat berlalu, Ali pulang menjelang magrib karena jalanan macet. Ruqoyah menyuruh anaknya bergegas mandi dan harus berpenampilan menarik dan rapi.
"Memang ada apa, sih, Bu?" tanya Ali karena ibunya terus menyuruhnya cepat dandan.
Hafsah hanya berdiam diri. Dia tidak mau banyak bicara yang akan memancing emosi mertuanya. Selain itu dia juga sedang merasa lelah setelah masak begitu banyak sendirian tidak ada yang membantu.
"Akan ada tamu spesial," jawab Ruqoyah dengan senyumnya yang lebar.
"Hah. Siapa?" tanya Ali sambil melirik ke arah ibu dan istrinya.
"Sarah," jawab Ruqoyah dengan ekspresi wajah bahagia dan Ali membelalakkan matanya.
***
Apakah acara makan malam bersama Sarah akan berjalan lancar? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1