
Bab 27
Setelah kejadian semalam orang-orang masih menikmati liburan mereka. Namun, Ali dan Hafsah memilih tidak pergi ke mana-mana. Mereka menghabiskan waktu di kamar mereka. Untungnya pemandangan di sana menyajikan sesuatu yang indah dan enak dipandang mata.
"Bang, apa tidak apa-apa kita hanya di kamar saja tidak ikut kegiatan dengan yang lainnya?" tanya Hafsah yang kini sedang berada di dalam dekapan sang suami.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mereka semua juga mengerti, kok, dengan keadaan kita," jawab Ali sambil menciumi kepala istrinya.
"Kita besok bisa pergi ke kolam air panas alam kalau kamu mau," tambah laki-laki dewasa yang sedang memangku wanitanya sambil di peluk dari belakang.
Hafsah sangat senang saat-saat menghabiskan waktu berdua bersama suaminya saja. Mereka bisa membicarakan banyak hal. Mau liburan di mana pun dan kapan pun asal berdua pasti akan membuatnya senang dan bahagia.
Jika Ali dan Hafsah sedang menikmati waktu berdua, berbeda dengan Sarah yang terus uring-uringan sejak semalam. Wanita itu kesal karena Ali tidak menampakkan batang hidungnya. Meski dia sudah datang ke villanya, laki-laki tetap tidak keluar dari kamarnya. Dia merasa liburan ini sangat sia-sia.
'Bagaimana caranya agar aku bisa menghabiskan waktu liburan ini dengan Ali?' tanya Sarah di sana dalam diam hatinya.
'Jika gara-gara kejadian semalam membuat Ali dan Hafsah mengurung diri kamar, sungguh aku sangat menyesal. Inginnya aku wanita itu pergi atau berdiam sendiri, ini malah bermesraan berdua di kamar,' batin Hafsah menggerutu.
Sementara itu, Ruqoyah sedang berusaha untuk mendekati Kakek Qomar dan Nenek Maesaroh agar Ghani dijodohkan dengan Alika. Wanita paruh baya itu seakan menebalkan mukanya demi punya menantu kaya raya. Tentu saja Alika juga mau punya suami seperti Ghani dan berusaha agar lebih dekat dengannya.
"Alika ini anak yang rajin dan cekatan. Jadi, pekerjaan rumah bisa dibantu olehnya," kata Ruqoyah berbohong saat berbicara dengan Kakek Qomar dan Nenek Maesaroh.
"Zaman sekarang jarang gadis yang mau membantu mengurusi pekerjaan rumah. Biasanya mereka lebih suka pergi hangout dengan teman-teman sebayanya," ucap Kakek Qomar sambil tersenyum tipis dan melirik ke arah sang istri.
"Almarhum suami saya selalu mengajarkan tanggung jawab dan tolong menolong kepada anak-anak. Jadinya bisa Anda lihat sendiri seperti apa Ali sekarang," tukas Ruqoyah bangga akan anak-anaknya.
__ADS_1
Kakek Qomar dan Nenek Maesaroh memang menyukai Ali, apalagi setelah tahu kalau Hafsah adalah istri dari laki-laki itu. Kwalitas pola asuh dan didikan yang ditanamkan oleh orang tua yang baik akan menjadikan anaknya pun menjadi orang yang baik. Itu yang ada di pikiran kedua manusia lanjut usia ini. Tentunya mereka juga ingin cucunya menikah dengan gadis yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik.
"Semoga saja ada jodoh antara Pak Ghani dengan Alika," lanjut Ruqoyah dengan tidak tahu malunya.
Tentu saja Alika juga berharap dengan ini. Berbeda dengan Ghani yang sudah terpikat oleh sosok Hafsah. Bukan hanya wajahnya yang cantik jelita, tetapi perilaku wanita itu yang bisa membuat dia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Kakek Qomar pun tersenyum tipis lalu pergi bersama istrinya untuk kembali ke villa. Ghani menuntun neneknya dengan hati-hati. Ruqoyah mendorong tubuh Alika agar ikut membantu kedua orang MANULA itu.
"Ayo, Kek, pegangan sama aku di sini jalanan agak menurun," kata Alika sambil menuntun Kakek Qomar.
***
Sarah mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Ali. Senyum lebar pun tiba-tiba terukir di wajahnya. Tanpa menunggu lama dia pun bergegas menuju villa tempat Ali dan Hafsah menginap.
"Ini aku bawakan beberapa buah-buahan untuk Hafsah dan ini ada salep dari sarang burung walet yang dipercaya bisa mengobati luka di kulit," tutur Sarah sambil menyerahkan dua kantong keresek.
"Terima kasih," balas Ali meski dia tidak membutuhkan itu semua, tetapi untuk menghargai orang yang memberi maka dia terima dengan rasa bersyukur.
Sarah bercakap-cakap dengan Hafsah. Gadis itu pura-pura tidak tahu kenapa baju Hafsah bisa sampai terbakar, bahkan dia mengingatkan istrinya Ali itu ceroboh sampai bisa terjadi kecelakaan seperti itu dan membuat semua orang panik.
Mungkin Sarah adalah satu-satunya orang yang tidak menikmati liburan di sini. Dia tidak bisa mendekati Ali dan menghabiskan waktu bersama dengannya. Hal ini dikarenakan Ali lebih sering mengurung berdua dengan istrinya.
Liburan kali ini bagi Ali dan Hafsah seperti bulan madu. Keduanya menghabiskan waktu bersama full 24 jam nonstop selama 3 hari ini. Biasanya Hafsah yang melayani Ali, kali ini Ali 'lah yang melayani Hafsah karena tangannya sakit.
"Sayang, apa masih sakit tangannya?" tanya Ali sambil meniup-niup telapak tangan istrinya yang sedang diolesi salep.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sekarang sudah tidak sakit, Bang. Lihat, tuh! Lukanya juga semua sudah kering nanti lama-lama akan terkelupas dengan sendirinya dan berganti dengan kulit yang baru," jawab Hafsah dengan senyum manisnya dan membuat Ali senang.
"Nanti, jika sudah sampai ke rumah jangan memegang dulu pekerjaan rumah. Membersihkan rumah nanti abang akan mencari orang dan untuk makan kita bisa beli di warung nasi," kata Ali yang tidak mau istrinya nanti mengerjakan semua pekerjaan rumah dan malah membuat lukanya semakin parah.
"Iya, Bang. Aku akan nurut apa yang diucapan sama suamiku tercinta ini," balas Hafsah lalu mencium pipi Ali.
Niat ingin berendam di kolam air panas berlatarkan alam, tidak bisa dilakukan oleh Ali dan Hafsah karena tempatnya selalu penuh. Tempat yang privasi juga penuh terus, jadi mereka berendam di kamar mandi di villa yang masih bisa melihat pemandangan alam di puncak.
Ghani sering kali mencuri pandang kepada Hafsah tanpa dia sadari. Namun, Ali menyadari itu. Maka laki-laki itu sering merangkul atau memperlihatkan keromantisan mereka dan malah bikin iri rekan-rekan kerjanya.
Kalau dulu orang menilai Ali sebagai laki-laki yang dingin meski ramah dan baik, sekarang orang-orang mengenalnya sebagai laki-laki yang sering bersikap romantis kepada pasangannya. Bahkan banyak ibu-ibu yang meminta para suami agar meniru Ali dalam bersikap kepada istri.
Alika merasa ada yang aneh dengan dirinya. Sejak kemarin dia suka sekali makan buah-buahan yang rasanya asam. Napsu makannya juga semakin banyak dan sering merasa lapar.
'Kenapa aku ingin makan rujak, ya?' batin Alika saat dia melihat ada buah mangga yang tumbuh di pinggir jalan.
Ruqoyah dan Alika pulang dengan menaiki mobil Sarah seperti ketika mereka berangkat dulu. Berbeda dengan saat berangkat mereka melakukan perjalanan dengan penuh semangat, sekarang saat pulang mereka terdiam tidak ada seorang pun yang berbicara. Mereka bertiga disibukkan dengan pikirannya masing-masing.
Alika melihat pada waktu digital yang terpasang di mobil milik Sarah. Tiba-tiba mata dia terbelalak saat melihat tanggal dan bulan yang tercantum di sana.
***
Kayaknya akan ada yang panik, nih! Apakah Alika hamil? Bagaimana sikap Ruqoyah? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1