Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 48. Cucu Untuk Ibu


__ADS_3

Bab 48


"Aku punya kabar gembira untuk ibu," ucap Ali.


Ruqoyah mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Ali. Putranya tersenyum lebar lalu meletakkan tangan Ruqoyah di perut Hafsah.


"Di sini ada cucu ibu," lanjut Ali dan itu membuat Ruqoyah mengangakan mulutnya. 


"Kamu tidak bohong 'kan, Ali?" tanya Ruqoyah masih belum percaya.


"Alhamdulillah, Bu. Allah telah menitipkan amanah kepada kita." Hafsah yang menjawab sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, Ya Allah betapa besar kuasa-Mu. Akhirnya penantian panjang kalian berbuah hasil," kata Ruqoyah sambil mengelus perut Hafsah dengan air mata yang terus mengalir.


Baik Hafsah maupun Ali tersenyum bahagia melihat tingkah Ruqoyah yang terus mengelus perut di mana calon cucunya berada.


"Ini cucu ibu yang kedua, ya?" tanya Ruqoyah.


Kini giliran Hafsah dan Ali yang terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Ruqoyah bisa berpikir seperti itu.


"Cucu ibu yang pertama wajahnya sangat mirip dengan Ali. Dia anak yang tampan dan sopan. Dia menitipkan salam kepada kalian. Katanya dia akan menunggu di depan pintu surga," tutur Ruqoyah dengan senyum tipis.


"Maksud Ibu?" tanya Ali.


"Ibu bermimpi bertemu ayah dan membawa seorang anak laki-laki. Katanya itu cucu ibu yang belum sempat melihat dunia. Ibu berpikir kapan Hafsah pernah hamil, tapi melihat anak kecil itu sepertinya berusia sekitar lima tahunan," jawab Ruqoyah.


Hafsah pun memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi kepadanya dahulu. Dia juga meminta maaf karena saat itu tidak tahu sedang hamil yang kurang memperhatikan keadaan bayi di perutnya.

__ADS_1


"Ibu yang seharusnya meminta maaf sama kamu, Hafsah. Jika ibu tahu kamu sedang hamil, tidak akan memintamu untuk mengurus pesta ulang tahun Alika. Masakan kamu yang enak itu banyak yang menyukainya. Ayah juga selalu memuji rasa masakan kamu. Para tetangga juga bilang suka dengan masakan buatan kamu," ujar Ruqoyah.


Semua sudah menjadi takdir mereka di masa lalu. Saling maaf memaafkan atas semua perbuatan dosa yang sudah mendzolimi orang, membuat hati mereka menjadi tenang.


Ruqoyah juga menyedekahkan sebagian uang dari tabungannya untuk anak-anak panti asuhan sebagai tanda syukuran atas nikmat yang didapatkan oleh anak dan menantunya.


***


Saat ini Ruqoyah sudah bisa dibawa pulang. Mereka dijemput oleh Bimo dan Alika. 


Begitu sampai di rumah, Hafsah di suruh untuk beristirahat dan Ali yang akan menemani ibunya.


"Allah itu masih sayang sama ibu. Padahal ibu sering berbuat jahat kepada orang lain, terutama kepada kamu dan Hafsah," kata Ruqoyah di saat siang hari.


"Itu karena ada doa Hafsah yang dikabulkan oleh Allah. Doa orang teraniaya itu pasti dikabulkan. Dan apa ibu tahu doa apa yang sering diucapkan oleh Hafsah untuk ibu?" tanya Ali.


"Hafsah selalu berdoa agar Allah melembutkan hati ibu dan dia bisa membuat ibu bahagia," jawab Ali karena ibunya diam saja.


Air mata Ruqoyah kembali membanjiri pipinya. Sejak subuh rasanya dia tidak berhenti menangis, tetapi matanya tidak bengkak. 


Betapa bahagianya dia memiliki menantu seperti Hafsah. Meski sudah sering disakiti, tetapi masih saja berlaku baik kepadanya. Dia semakin merasa bersalah dan malu kepada menantunya ini.


"Ibu minta kamu selalu bahagiakan Hafsah. Jangan sakiti dia lagi, sudah cukup banyak dia menderita dahulu," kata Ruqoyah yang tergugu.


"Jadi, ibu tidak akan pernah meminta aku untuk menikah dengan Sarah lagi, 'kan?" tanya Ali.


"Tidak. Jangan sampai kamu menikah lagi dengan wanita manapun. Cukup Hafsah yang menjadi menantu ibu," jawab wanita itu.

__ADS_1


Ali langsung memeluk tubuh ibunya dan mengucapkan terima kasih. Dia juga akan membahagiakan semua keluarganya, bukan hanya Hafsah saja.


***


Jika Ali dan Hafsah sedang berbahagia, berbeda dengan Alika. Perempuan itu mendapatkan perlakuan tidak adil oleh mertua dan kakak madunya jika Bimo tidak ada di rumah.


"Sana masak untuk makan siang! Jangan enak-enak numpang tinggal di sini dengan gratis," ucap Anggun dengan sindiran seperti biasanya.


Kehadiran Alika di ruang itu tidak ada bedanya dengan seorang pembantu. Adik dari Ali ini harus mengerjakan pekerjaan rumah meski ada seorang asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di sana.


Alika merasa menyesal sudah keluar dari kampus karena perintah ibu mertuanya. Dia memintanya untuk mengurus rumah dan suami. Meski begitu, dia mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan istri pertama Bimo yang diizinkan pergi bekerja.


"Aduh, masa kamu tidak tahu cara mengurus ikan!" bentak Bu Dewi saat melihat Alika memotong kepala ikan saat membersihkannya.


"Maaf, Ma. Aku tidak tahu caranya," ucap Alika dengan pelan.


Seumur-umur Alika tidak tahu pekerjaan rumah, apalagi memasak. Dia tahunya meminta dan menyuruh saja. Kini saat sudah menikah dia harus melakukan semuanya.


'Apa ini balasan karena aku dan ibu dulu suka nyuruh-nyuruh Mbak Hafsah?' batin Alika.


Alika melakukan semua pekerjaan sesuai perintah ibu mertuanya. Dia hanya bisa menahan tangis di dalam hatinya. Perempuan itu merasa sudah disakiti perasaannya oleh wanita yang sudah melahirkan suaminya.


'Aku sudah tidak sanggup lagi tinggal di rumah ini!' teriak Alika di dalam hatinya.


***


Akankah Alika menerima perlakuan yang sama dengan apa yang pernah diterima oleh Hafsah dahulu dari keluarga suaminya? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1



__ADS_2