Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 35. Sakitnya Perasaan


__ADS_3

Bab 35


Alika sangat senang saat mencoba pakaian pengantin yang akan dia kenakan untuk pernikahannya nanti. Semua urusan pesta pernikahan sudah diurus oleh Bimo dan semua biaya juga ditanggung olehnya.


"Cantik sekali," puji Bimo saat melihat Alika memakai kebaya modern berwarna putih.


"Mbak, aku ambil yang ini saja," kata Alika kepada karyawan butik.


Setelah mencari baju pengantin mereka pun mendatangi toko perhiasan untuk membeli cincin kawin. Alika teringat ucapan ibunya yang menyuruh meminta cincin paling mahal dan bagus. Maka dia pun mencari cincin berlian yang harganya ratusan juta. Lagi-lagi Bimo menuruti keinginan calon istri mudanya.


Setelah makan malam mereka baru pulang. Namun, saat ditengah jalan terlintas keinginan nakal Bimo dan akhirnya mereka pergi ke hotel untuk menghabiskan malam bersama. Kedua sejoli ini lupa kalau mereka belum menjadi pasangan halal, meski pernikahan sudah direncanakan.


"Om, aku harus pulang," kata Alika setelah berbagi peluh dengan calon suaminya.


"Apa kamu tidak lelah?" tanya Bimo sambil menatap penuh damba kepada perempuan yang ada di dalam pelukannya.


"Aku takut Kakak marah. Nanti malah jadi masalah baru," jawab Alika balik melihat kepada Bimo.


Setelah selesai mandi mereka pun memutuskan untuk pulang. Alika melihat ada mobil milik Sarah di parkiran hotel. Namun, dia tidak melihat sosok wanita itu. 


'Sedang apa Saran malam-malam di hotel, ya?' batin Alika sambil memeriksa ke dalam mobil lewat kaca jendela.

__ADS_1


'Rumah dia 'kan ada, kenapa meski di hotel kalau mau tidur?' lanjut Alika dalam hatinya.


Netra Alika juga melihat ada mobil milik Ali terparkir tidak jauh dari tempat Bimo memarkirkan kendaraannya. Tentu saja otak Alika berpikir yang tidak-tidak kepada keduanya.


***


Hafsah masih merasakan lemas pada tubuhnya. Dia benar-benar dibuat tidak berdaya oleh Ali sejak kemarin siang sampai malam. Entah berapa kali dia mandi seharian kemarin sampai tadi menjelang subuh. 


Jika Hafsah terlihat lemas, berbeda dengan Ali yang terlihat bugar dan fresh. Bahkan dia sangat merasa senang dan bahagia. Dia pun membuat sarapan dengan semangat juga mengerjakan rumah yang biasa Hafsah lakukan. Dia mencuci baju, menanak nasi, dan membersihkan lantai secara bersamaan. Lalu, memasak telur ungkep bumbu manis pedas bersamaan dengan membuat minuman. Sambil menunggu matang, dia menjemur pakaian yang sudah dicuci, kemudian menyiram tanaman. Dia meniru bagaimana Hafsah saat mengerjakan pekerjaan rumah dilakukan secara bersamaan agar tidak membuang-buang waktu.


"Sayang, mau sarapan di sini atau di bawah?" tanya Ali saat membangunkan sang istri.


"Astaghfirullahal'adzim. Bang, aku kesiangan dan belum membuat sarapan," ucap Hafsah saat terbangun 


Meski wanita itu meronta karena malu sama mertua dan adik iparnya, Ali tetap tidak mau menurunkan tubuh istrinya itu. Wajah keduanya terlihat berseri karena bahagia.


Ruqoyah baru keluar kamar setelah Hafsah dan Ali duduk di meja makan. Dia mengedarkan pandangannya mencari Alika.


"Alika mana?" tanya Ruqoyah kepada putra dan menantunya.


Belum juga mereka menjawab gadis itu muncul lalu mencium pipi ibunya. Terlihat wajah calon pengantin ini sedang ceria. Senyum lebarnya terus menghiasi muka dia yang sudah disapu oleh make up.

__ADS_1


"Semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Ruqoyah sambil melirik ke arah Alika.


"Entah, Bu. Karena semalam jalanan macet," jawab Alika berdusta.


Mereka pun diam dan melanjutkan sarapan yang dibuat oleh Ali. Tidak ada yang komplain karena rasa masakan terasa berbeda dari biasanya. Mungkin mood mereka sedang baik jadi semua pun terasa nikmat.


Hafsah mengantar Ali berangkat kerja sampai ke teras. Di sana ada ojek pesanannya sudah menunggu. Wanita itu tidak bertanya ke mana mobilnya yang biasa dia pakai.


"Loh, Kak Ali berangkat naik ojek? Berarti benar mobil yang semalam aku lihat di hotel itu memang miliknya," ucap Alika heran.


Mendengar ucapan Alika barusan Hafsah langsung tersentak. Dia tidak tahu kalau kemarin Ali makan siang di hotel. Kemarin dia hanya bilang ada yang memasukan obat perang_sang ke dalam makanan atau minumannya.


"Mungkin kamu salah lihat," ujar Ruqoyah yang sejak duduk santai di kursi sambil menikmati hangatnya sinar mentari dan udara segar.


"Isssh, aku tahu itu mobil milik Kak Ali, nomer plat mobilnya juga sama. Selain itu ada juga mobil Kak Sarah di hotel itu. Apa mereka kemarin janjian bertemu di sana?" tanya Alika sambil ikut duduk di samping ibunya.


Hafsah yang masih berdiri mematung di dekat tiang mendadak tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan. Pikiran dia sudah membayangkan yang tidak-tidak antara suami dan wanita idamannya itu.


"Iya, kemarin Ali dan Sarah makan di restoran hotel mewah. Kamu tahu dari mana? Memangnya kamu kemarin datang ke hotel itu? Mau apa? Dengan siapa kamu ke sana?" tanya Ruqoyah bertubi-tubi dan itu membuat Alika gantian diam seribu basa.


'Ya Allah, sebenarnya ada yang terjadi kemarin itu. Aku tahu kalau suami hamba kemarin merasakan sesuatu yang tidak baik. Semoga saja tidak muncul masalah yang bisa membuat kami saling meragukan cinta kamu,' batin Hafsah.

__ADS_1


Alika memalingkan wajah ke arah Hafsah yang juga sedang melihat ke arahnya sambil berdiri dan bersandar ke tiang. Wanita itu entah kenapa merasa kalau kakak iparnya itu seharusnya mundur saja dari pada terus kesakitan perasaannya.


***


__ADS_2