Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 23. Sarah Dibuat Mati Kutu


__ADS_3

Bab 23


"Aku paling suka masakan istriku, rasanya selalu enak dan memanjakan lidahku. Oh, sebenarnya bukan aku saja yang suka masakan Hafsah. Ayah juga sangat soto ayam buatannya, semua masakan Hafsah juga cocok di lidah ibu yang sering cerewet kalau mengenai rasa masakan," lanjut Ali dengan senyum tampan kepada sang istri.


Hafsah balas senyuman suaminya. Rasa lelah dia langsung menguap pergi dengan seiring pujian Ali untuknya. Dia merasa berada di atas awang karenanya.


"Terima kasih, ya, Sayang. Kamu sudah menghidangkan makanan yang sangat disukai oleh tamunya ibu," tambah Ali.


Muka Hafsah yang putih kini semakin merona dan menambah kecantikannya yang alami. Kerlingan mata indahnya membuat Ali terpesona.


"Ini sudah menjadi tugas aku, Bang. Bukannya seorang istri harus bisa menyenangkan perut suaminya, selain menyenangkan yang di bawah perutnya juga," balas Hafsah dan itu membuat orang-orang di sana menganga karena tidak menyangka akan keluar kata-kata itu dari mulut perempuan pemalu yang jarang bicara aneh-aneh.


Ali suka Hafsah yang seperti ini. Dia ingin menunjukan kepada Sarah seperti apa sosok Hafsah yang selalu terlihat lemah dan pantas diremehkan olehnya dan mertuanya sendiri. Ya, dia memang meminta istrinya untuk tidak diam saja saat merasa didzolimi atau ditindas oleh orang lain. Dirinya harus bisa membela diri dan tunjukan kepada lawannya kalau dia memang tidak lemah dan pantas dihargai serta dihormati.


Wajah Sarah mendadak kaku bahkan mulutnya terbuka. Dia semakin kesal kepada sosok wanita yang duduk di depannya ini. Selama ini dia selalu meledek dan menghinanya. Namun, wanita itu bisa melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan.


'Sial. Aku tidak bisa memasak. Lagian 'kan sudah apa pembantu di rumah, itu sudah tugas mereka,' batin Sarah. Dia sudah merasa dibuat mati kutu oleh Hafsah.

__ADS_1


Ruqoyah menahan geram kepada putranya. Dia bisa melihat kalau Ali sengaja memuji dan berbuat seperti itu untuk Hafsah agar Sarah menjauh. Memang dia mengakui masakan Hafsah enak, bukan hanya dia saja yang mengatakan itu. Beberapa orang tetangga yang pernah merasakan masakan menantunya ini mengatakan hal yang sama.


'Pintar masak saja buat apa kalau tidak bisa hamil dan punya anak,' batin Ruqoyah.


Alika tidak memedulikan keadaan di sana, dia sangat menikmati semua makanan yang tersedia di sana. Padahal selama ini dia selalu menjaga pola makannya agar jangan sampai tubuhnya bengkak. Namun, malam ini dia merasa lapar terus sampai tidak tahu seberapa banyak dia makan.


Meski acara makan malam berubah menjadi kaku, tetapi Hafsah merasa senang karena semua makanan yang dia masak hampir habis. Sarah pun langsung memilih pulang karena tidak tahan melihat keromantisan Ali dan Hafsah yang terus duduk sambil saling merangkul dan bersenda gurau.


Kepulangan Sarah sangat diharapkan oleh Hafsah dan Ali. Mereka tidak nyaman dengan dengan kehadiran perempuan yang selalu menatap penuh damba kepada laki-laki itu. Namun, mereka tidak bisa mengusir seorang tamu yang datang atas undangan Ruqoyah. Jadi, hanya berharap dan berdoa dalam hati saja agar cepat pulang sendiri tanpa harus diminta.


***


Gadis itu mau tidak mau harus menuruti keinginan kakaknya. Dia pun duduk kembali di samping sang ibu. Ruqoyah merasa heran dengan putranya yang memasang wajah seperti menahan amarah.


"Semalam kamu pergi ke mana?" tanya Ali dan itu membuat tubuh Alika menegang.


'Gawat. Jangan sampai Kakak dan Ibu tahu semalam aku pergi dengan Om Haris,' batin Alika.

__ADS_1


Ruqoyah pun melirik ke arah putrinya lalu ke arah putranya. Pikirannya tiba-tiba saja terbersit kalau kemarin dia sudah dibohongi oleh Alika.


"Bukannya di pergi ke rumah Niken untuk mengerjakan tugas dari dosennya?" Ruqoyah ikut bicara.


"Tidak. Dia tidak datang ke rumah Niken, Bu. Semalam aku pergi ke sana dan Alika tidak pernah datang ke rumah itu karena saat ini Niken sedang dihukum oleh papanya. Dia tidak boleh keluar rumah dan tidak boleh bertemu dengan siapa pun," ucap Ali.


Mendengar itu membuat Ruqoyah tersentak, lalu dia melihat ke arah putrinya. Terlihat juga wajah Alika yang terkejut dan terlihat gugup.


'Bagaimana Kakak bisa tahu hal itu?' batin Alika. Dia semakin gugup dan tahu harus bicara apa sekarang.


"Jawab pertanyaan aku?" Ali bicara dengan nada tinggi karena sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Air mata Alika mengalir saking takutnya kepada Ali. Kakaknya memang jarang marah dan tidak pernah bicara kasar dan bernada tinggi. Namun, kali ini laki-laki itu berubah.


"A–ku, pergi ke kostan Elina. Telepon saja dia, semalam aku tidur di sana," ucap Alika memaksakan diri agar tidak terlihat bersalah.


***

__ADS_1


Apakah Ali dan Ruqoyah akan percaya dengan ucapan Alika? Ikuti terus kisah mereka, ya!



__ADS_2