
Bab 30
Hafsah mengantarkan Alika ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Dia mencoba menenangkan adik iparnya ini agar jangan takut dan gugup.
"Nyonya Alika!" panggil seorang perawat di dekat pintu.
"Mbak," panggil Alika dengan lirih sambil melirik ke arah Hafsah.
"Ayo, mbak ikut masuk!" ajak Hafsah sambil menggandeng tangan Alika.
Tubuh Alika terasa lemas dan berkeringat dingin. Jujur saja dia sangat takut dan gugup. Semenjak kejadian malam itu, dia sering merasa ketakutan akan hamil dan ternyata itu kejadian.
Dokter kandungan itu pun memeriksa keadaan Alika dengan melakukan USG. Terlihat ada titik hitam yang ditunjuk oleh tanda panah di layar monitor.
"Ini janinnya dan diperkirakan sudah berusia sekitar enam minggu," kata dokter itu dengan tersenyum ramah.
Air mata Alika lolos begitu saja. Dirinya belum siap untuk punya anak. Kuliah juga dia belum selesai.
Hafsah pun mendengar keterangan dokter dan harus melakukan apa saja untuk kandungan yang masih sangat muda ini. Selain itu wanita berjas putih memberikan resep vitamin untuk diminum oleh Alika.
Setelah selesai memeriksakan kandungan Alika, mereka pun berniat membeli menu untuk makan siang. Saat di sebuah restoran nasi Padang yang tidak jauh dari rumah sakit, keduanya bertemu dengan Kakek Omar dan Ghani di sana.
"Kenapa tidak makan di sini saja?" tanya Ghani kepada Hafsah.
"Maaf, Pak. Kita akan makan di rumah bersama ibu," jawab Hafsah setelah memesan beberapa menu untuk dibungkus.
"Apa itu Ruqoyah sedang sakit?" tanya Kakek Qomar sedikit terkejut.
"Keadaan ibu sekarang kurang sehat, Kek," balas istri Ali itu dengan ramah.
__ADS_1
"Sakit apa? Apa sakitnya parah? Apa sudah dibawa ke dokter?" tanya laki-laki tua itu secara bertubi-tubi.
Hafsah pun menjawab dengan sabar dan jelas. Dia senang karena ada orang yang memperhatikan keadaan keluarganya.
Alika yang biasanya suka cari kesempatan untuk bisa dekat dengan Ghani, kini hanya bisa diam saja. Bahkan dia hanya menunduk dan tidak berani berdiri menghadap mereka.
"Kamu adiknya Ali, 'kan?" tanya Kakek Qomar kepada Alika.
"Iya, Kek," jawab Alika dengan gugup setengah mati. Keringat dingin sudah membanjiri baju yang dikenakannya.
Ghani menatap Alika dengan penuh selidik. Dia tahu tentang video yang sedang viral itu. Sebenarnya dia tidak menyangka kalau gadis yang berdiri di dekatnya bisa sampai membuat sebuah skandal dengan suami orang lain.
***
Ali pun kini menjadi pendiam dan tidak bisa diajak bercanda oleh Hafsah. Wanita itu hanya bisa diam berada di sampingnya. Dia menarik laki-laki itu ke dalam pelukan dan membelai kepalanya.
Tanpa bicara apa pun Ali tahu kalau sang istri sedang berusaha menghibur dirinya. Hanya dengan pelukan seperti ini dia sudah merasa tenang dan nyaman. Biasanya sambil menunggu adzan Magrib, mereka selalu bersenda gurau. Apalagi Ali paling senang mengganggu Hafsah. Mau itu baru selesai mandi atau sedang menyiapkan untuk makan malam.
"Ya, ada apa, Bang?" tanya Hafsah dengan lembut.
"Apa aku sudah menjadi kakak yang gagal?" Ali balik bertanya.
Hafsah menarik kepala suaminya agar menghadap kepadanya. Kini mereka saling beradu pandang.
"Tidak. Abang tidak gagal, karena sejak dulu selalu menasehati Alika dan mengingatkan dirinya. Bahkan hal seperti sholat dan makan juga Abang sering mengingatkan itu kepadanya," jawab Hafsah dengan tegas agar hati suaminya tidak goyah dan terluka.
"Kita sudah mendengar semua yang terjadi kepada Alika dan laki-laki itu. Menurut cerita mereka ada sesuatu yang aneh dan mungkin saja itu jebakan yang direncanakan oleh seseorang," lanjut wanita berusia 26 tahun itu.
Ali terdiam dan mengingat kembali saat adiknya kemarin bercerita. Bahkan laki-laki yang bernama Bimo itu juga sudah menghubungi dirinya dan akan menemui dirinya ke rumah ini.
__ADS_1
***
Kepala Ruqoyah ditempeli pakai koyo di kening, pelipis kanan, dan pelipis kiri. Kepala dia rasanya mau pecah. Saat buka grup RT dan grup arisannya, mereka semua membicarakan dirinya dan Alika. Dia sudah tidak punya muka lagi untuk ke luar rumah.
'Ya Allah, kenapa ini terjadi kepada keluarga aku? Apa dosa kami?' batin Ruqoyah sambil menangis.
Wanita itu tidak sadar akan dosa-dosa yang sudah dia perbuat kepada orang lain. Ucapan dan perbuatan yang sering membuat menantunya sakit hati. Sikap sombong dan angkuh kepada orang yang tidak mampu. Menyebar fitnah di kalangan tetangga. Dia tidak ingat akan dosanya ini.
Tadi siang saja saat Bu Ratna datang untuk menanyakan berita viral itu dia tidak mau menemuinya. Ruqoyah sengaja mengunci pintu dan menyembunyikan semua sandal agar terlihat kalau di rumah tidak ada siapa-siapa, karena Hafsah dan Alika sedang ke rumah sakit untuk periksa. Saat sore hari pun dia berpura-pura tidur karena tidak mau bicara dengan teman-temannya yang suka bergosip.
Meski dia di dalam rumah, tapi dia tahu kalau nama baiknya sudah tercoreng. Chat di grup sangat jelas sekali bagaimana para tetangga sedang membicarakan keburukan dirinya dan Alika. Kalau dulu dia yang aktif berkata di grup, kini tidak satu kata pun dia tulis di sana.
Sakit hatinya saat orang-orang yang mengaku temannya kini malah memojokkan dan menjelek-jelekkan dirinya secara terang-terangan. Saking shock Ruqoyah, dia kembali pingsan siang tadi tanpa ada orang yang tahu, karena di rumah tidak ada siapa-siapa.
'Kalian bisa ngomong seperti ini sekarang. Lihat saja nanti jika anak-anak kalian juga hamil diluar nikah, baru tahu rasa apa yang aku rasakan sekarang ini!' umpat Ruqoyah di dalam hatinya.
***
Alika masih saja menangis. Dia terbayang wajah Ghani yang melihat dirinya tadi siang. Meski tanpa bicara pun, dia merasa kalau pemuda itu terlihat tidak suka kepadanya. Bahkan terkesan merendahkan.
Terdengar suara pesan masuk ke handphone miliknya. Lalu Alika pun membaca pesan dari Om Bimo.
Besok aku akan ke rumah kamu bersama dengan orang tua dan istriku.
Jantung Alika semakin berpacu dengan cepat dan tubuhnya terasa lemas. Sungguh dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi keluarga laki-laki itu, terutama istri sahnya.
'Ya Allah, jangan sampai mereka mengamuk dan menyiksa aku,' batin Alika.
***
__ADS_1